Konten dari Pengguna

Sejarah dan Perlengkapan Gordang Sambilan: Warisan Budaya Mandailing

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gordang sambilan merupakan salah satu instrumen khas Mandailing, Sumatra Utara. Sumber foto: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Gordang sambilan merupakan salah satu instrumen khas Mandailing, Sumatra Utara. Sumber foto: pexels.com

Gordang sambilan menjadi salah satu alat musik tradisional yang lekat dengan masyarakat Mandailing di Sumatra Utara. Instrumen ini dikenal memiliki suara yang khas dan kerap digunakan dalam berbagai upacara adat. Keberadaan gordang sambilan tidak hanya memperkaya seni musik lokal, tetapi juga memperkuat identitas budaya Mandailing.

Sejarah Gordang Sambilan

Gordang sambilan memiliki akar sejarah yang panjang dalam tradisi Mandailing. Menurut jurnal Gordang Sambilan: Pelestarian Kebudayaan Tradisional Mandailing di Kabupaten Mandailing Natal (2008-2019) oleh Dina Alwiyah dan Rusdi, instrumen ini dikenal sebagai simbol penting dalam kehidupan masyarakat setempat.

Asal Usul dan Makna Gordang Sambilan

Instrumen gordang sambilan terdiri dari sembilan gendang besar yang disusun berderet. Keunikan jumlah sembilan pada alat ini dianggap mewakili filosofi tertentu yang erat kaitannya dengan adat dan kepercayaan masyarakat Mandailing.

Perkembangan Gordang Sambilan di Mandailing Natal

Selama berabad-abad, gordang sambilan telah mengalami perkembangan dalam fungsi dan cara penyajiannya. Awalnya hanya dimainkan dalam ritual penting, kini alat ini juga tampil dalam berbagai perayaan budaya dan pentas seni.

Upaya Pelestarian Gordang Sambilan

Pelestarian gordang sambilan terus dilakukan melalui pendidikan dan festival budaya. Menurut jurnal yang telah disebutkan sebelumnya, berbagai komunitas lokal aktif memperkenalkan kembali alat musik ini kepada generasi muda demi menjaga kesinambungan tradisi.

Perlengkapan Utama Gordang Sambilan

Satu set gordang sambilan terdiri dari beberapa instrumen yang saling melengkapi. Setiap alat memiliki peran tersendiri dalam menghasilkan harmoni musik yang khas.

Komponen Instrumen Gordang Sambilan

Instrumen utama terdiri dari sembilan gendang besar, satu gong besar (ogung boru boru), dua gong kecil (ogung jantan), serta beberapa alat pendukung seperti tali pengikat dan tongkat pemukul.

Fungsi Masing-Masing Alat dalam Ensambel

Berdasarkan artikel Dina Alwiyah dan Rusdi, Gordang Sambilan merupakan ensambel musik perkusi khas Mandailing yang memilikii keunikan, baik dari segi ukuran, jumlah pemain, serta irama yang berbeda dengan alat musik yang lain.

Tata Cara Penampilan Gordang Sambilan

Pementasan gordang sambilan biasanya melibatkan beberapa pemain. Sebagaimana dijelaskan Dina Alwiyah dan Rusdi, Gordang Sambilan memiliki kemajemukan nada yang menyatu indah dalam alunan dan melambangkan persatuan serta kesatuan.

Nilai Budaya dan Peran Gordang Sambilan dalam Masyarakat

Gordang sambilan memegang peran sentral dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Mandailing. Fungsinya melampaui sekadar hiburan dan menjadi bagian penting dalam upacara adat.

Peran dalam Upacara Adat dan Kehidupan Sosial

Instrumen ini kerap dimainkan pada acara adat seperti pernikahan, penyambutan tamu penting, hingga ritual keagamaan. Suara gordang sambilan dipercaya mampu menghadirkan suasana khidmat dan mempererat kebersamaan masyarakat.

Simbol Identitas Budaya Mandailing

Di samping peran musikalnya, gordang sambilan menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya Mandailing. Keberadaannya menandai kekayaan tradisi lokal yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Kesimpulan

Gordang sambilan merupakan warisan budaya Mandailing yang memiliki sejarah panjang dan sarat filosofi. Selain perlengkapan instrumen yang unik, alat musik ini juga berfungsi penting dalam upacara adat dan kehidupan sosial. Menjaga keberadaan gordang sambilan berarti melestarikan identitas budaya Mandailing untuk masa depan.

Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman