Sejarah Engklek, Permainan Tradisional Asli Indonesia yang Masih Eksis
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Permainan engklek sudah lama menjadi bagian dari kehidupan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajarkan banyak hal berharga. Engklek dikenal sebagai salah satu permainan tradisional yang sarat makna dan manfaat.
Sejarah Permainan Engklek
Permainan engklek sudah dikenal luas di Indonesia sejak masa lampau. Menurut buku Permainan Tradisional karya Kevin Waldo, M.Pd, dkk., permainan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat. Engklek diperkirakan berasal dari tradisi rakyat yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Asal-usul Bahasa
Secara bahasa, permainan ini disebut juga "sunda manda", yang merupakan saduran dari bahasa Belanda zondag mandag, sehingga dalam bahasa Sunda dikenal pula istilah sondakh karena huruf “g” dalam bahasa Belanda dibaca dengan bunyi “kh”. Permainan ini memiliki nama dan pola yang berbeda-beda di setiap daerah misalnya ingkling, jlong jling, lempeng, ciplak gunung, dan demprak dampu. Meski berbeda nama, namun prinsip permainannya tetap mirip.
Perkembangan Terkini Engklek di Indonesia
Seiring waktu, engklek tetap populer di kalangan anak-anak, meskipun saat ini mulai tergeser oleh permainan digital. Namun, di banyak wilayah, engklek masih sering dimainkan di lingkungan sekolah atau saat perayaan tradisional.
Engklek sebagai Warisan Budaya
Keberadaan engklek tidak sekadar hiburan, tetapi juga menjadi simbol warisan budaya yang mempererat hubungan antar anggota masyarakat. Pemain engklek turut melestarikan tradisi dan kearifan lokal yang kaya nilai baik untuk individu yang bermain, serta untuk para penontonnya.
Aturan dan Cara Bermain Engklek
Permainan engklek dijalankan dengan aturan sederhana dan alat yang mudah didapat. Lapangan biasanya digambar di atas tanah dengan pola kotak memanjang sekitar 240cm dan lebar 100cm. Di dalam kotak yang panjang tersebut dibuat beberapa petak sejajar sebanyak lima petak. Khusus bagian sebelum akhir, dibuat tambahan satu petak ke kanan dan ke kiri.
Alat dan Lapangan Permainan
Engklek membutuhkan lapangan dengan gambar pola tertentu dan sebuah gaco atau penanda kecil, biasanya berupa batu pipih atau pecahan genteng.
Langkah-langkah Dasar Bermain Engklek
Setiap pemain bergiliran melempar gaco ke kotak, lalu melompat dengan satu kaki mengikuti urutan kotak tanpa menginjak garis. Jika gaco jatuh di luar kotak atau kaki menginjak garis, giliran berpindah ke pemain berikutnya.
Manfaat Permainan Engklek bagi Anak
Engklek tak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan dampak positif untuk tumbuh kembang anak. Dalam memainkan engklek, fisik anak betul-betul aktif karena perpaduan gerakan yang ada sepanjang permainan.
Manfaat Fisik dan Motorik
Masih menurut buku yang sama, engklek dapat melatih keseimbangan, kelincahan, serta koordinasi tubuh. Gerakan melompat dengan satu kaki menstimulasi otot dan motorik anak.
Manfaat Sosial dan Emosional
Permainan ini mengajarkan anak-anak untuk bergiliran, bekerja sama, dan menerima kekalahan dengan sportif. Suasana bermain bersama juga membantu membangun rasa percaya diri karena setiap anak hanya bisa memainkannya berdasar kemampuan sendiri tanpa bantuan teman-temannya.
Pengembangan Nilai Budaya dan Kebersamaan
Tidak hanya bermanfaat bagi perkembangan motorik anak, ternyata engklek turut menanamkan nilai kebersamaan, memperkuat interaksi sosial, dan menjaga tradisi turun-temurun di lingkungan masyarakat. Hal ini amat baik dan berguna bagi rasa percaya diri anak akan identitas kebudayaannya sendiri.
Kesimpulan
Permainan engklek merupakan salah satu warisan tradisional yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Selain menyenangkan, permainan ini juga memberikan banyak manfaat fisik, sosial, dan budaya bagi anak-anak. Melestarikan engklek berarti ikut menjaga kekayaan budaya sekaligus mendukung tumbuh kembang generasi muda.
Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman