Sejarah Lawang Sewu: Jejak Arsitektur dan Peristiwa Penting
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lawang Sewu menjadi salah satu ikon paling dikenal di Kota Semarang. Bangunan ini tidak hanya menarik perhatian karena bentuknya yang unik, tetapi juga menyimpan kisah panjang dalam sejarah transportasi dan peristiwa penting di Indonesia. Banyak wisatawan datang untuk melihat langsung jejak arsitektur kolonial dan peran Lawang Sewu yang begitu besar di masa lalu.
Apa itu Lawang Sewu?
Menurut buku Sejarah Lawang Sewu oleh Revita Madaniyah Bachri, Lawang Sewu merupakan bangunan bersejarah di Kota Semarang yang dahulu berfungsi sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Gedung ini dibangun pada 1904 dan selesai pada 1907 serta menjadi salah satu ikon sejarah Kota Semarang.
Lokasi dan Daya Tarik Utama
Terletak di kawasan Tugu Muda Semarang, Lawang Sewu dikenal karena bentuk bangunannya yang megah, memiliki banyak pintu dan jendela besar, serta menyimpan berbagai kisah penting dalam sejarah perkeretaapian dan perjuangan bangsa Indonesia.
Asal Usul dan Arsitektur Lawang Sewu
Lawang Sewu dibangun sebagai kantor pusat administrasi NIS untuk mendukung perkembangan jaringan perkeretaapian di Jawa. Rancangannya dibuat oleh arsitek Belanda Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag dengan mengadopsi gaya arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan kondisi tropis Hindia Belanda.
Makna Nama "Lawang Sewu"
Nama Lawang Sewu yang berarti "Seribu Pintu" muncul karena bangunan ini memiliki sangat banyak pintu dan jendela berukuran besar. Meskipun jumlah pintunya tidak benar-benar mencapai seribu, kesan tersebut melekat kuat di kalangan masyarakat Semarang.
Peran Lawang Sewu dalam Sejarah
Lawang Sewu memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, khususnya di bidang transportasi dan masa penjajahan.
Masa Kolonial Belanda
Pada masa kolonial Belanda, Lawang Sewu berfungsi sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api swasta yang mengelola jaringan perkeretaapian di Hindia Belanda.
Peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Lawang Sewu menjadi salah satu lokasi penting dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 14–19 Oktober 1945. Dalam peristiwa tersebut, pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) terlibat pertempuran sengit melawan pasukan Jepang.
Lawang Sewu di Masa Kini
Kini, Lawang Sewu telah beralih fungsi menjadi destinasi wisata dan pusat edukasi sejarah di Semarang. Banyak pengunjung datang untuk mengenal lebih jauh warisan budaya yang ada di dalamnya.
Fungsi dan Peran sebagai Destinasi Wisata
Bangunan ini tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sering digunakan untuk kegiatan seni, pameran, dan pelestarian sejarah. Pemerintah setempat aktif mempromosikan Lawang Sewu sebagai aset wisata kota.
Upaya Pelestarian dan Renovasi
Berbagai upaya pelestarian dan renovasi dilakukan agar Lawang Sewu tetap terjaga keasliannya. Hal ini bertujuan menjaga nilai sejarah sekaligus memastikan bangunan tetap aman untuk dikunjungi.
Kesimpulan
Sejarah Lawang Sewu memperlihatkan betapa pentingnya bangunan ini sebagai simbol perjalanan sejarah dan arsitektur kolonial di Semarang. Setiap sudutnya menyimpan cerita yang menjadi bagian dari identitas kota. Dengan memahami sejarah Lawang Sewu, masyarakat dapat lebih menghargai warisan budaya lokal. Lawang Sewu akan terus menjadi saksi perjalanan waktu dan daya tarik utama di Semarang.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia