Sejarah Palembang & Peran Kesultanan Palembang dalam Peradaban Sumatera Selatan
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Palembang dikenal sebagai salah satu kota tua di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perkembangan peradaban di Sumatera Selatan. Kota ini mengawali perjalanan sebagai pusat kerajaan besar, lalu berkembang menjadi wilayah strategis pada masa kesultanan hingga era kolonial. Memahami sejarah Palembang memberi gambaran tentang identitas dan kebudayaan yang masih terasa hingga kini.
Asal Usul dan Perkembangan Awal Palembang
Sejarah Palembang berdasarkan artikel Citra Ibu Kota Palembang dalam Historiografi Barat pada Abad XIX (Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya) oleh Joshua Jolly Sucanta Cakranegara, mencatat jejak peradaban yang telah berlangsung selama berabad-abad, bahkan sejak masa Kerajaan Sriwijaya. Palembang identik dengan salah satu kemaharajaan besar di masa lampau, yaitu Sriwijaya, yang dikenal sebagai pusat maritim dan perdagangan terpenting di Asia Tenggara. Letak Palembang yang strategis di tepi Sungai Musi, yang bermuara ke Selat Bangka, menjadikan kawasan ini sebagai penghubung jalur perdagangan antara Laut Tiongkok dan Samudra Hindia. Keberadaan pelabuhan serta jaringan perdagangan yang berkembang pesat membuat Palembang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah, sekaligus memberi pengaruh besar terhadap pertumbuhan kota dan perannya sebagai pusat ekonomi serta peradaban sejak masa kuno.
Transformasi Kota Palembang hingga Masa Kolonial
Seiring waktu, Palembang mengalami perubahan besar ketika memasuki era kolonial. Perubahan tersebut mencakup aspek politik, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat. Pada abad ke-19, ketika Belanda mulai membangun kekuasaan kolonial Hindia Belanda, Palembang menjadi salah satu wilayah incaran penting dan kemudian didaulat sebagai ibu kota Karesidenan Palembang. Peran Palembang sebagai pusat pemerintahan semakin menguat, seiring dengan pesatnya perkembangan Pelabuhan Palembang yang menjadikan perdagangan sebagai sektor vital perekonomian kota. Pertumbuhan kota ini juga didukung oleh interaksi perdagangan yang intens dan keberagaman penduduk, ditandai dengan hadirnya berbagai etnis seperti Tionghoa, Arab, dan kelompok lainnya. Kompleksitas kehidupan sosial tersebut membentuk Palembang sebagai kota kolonial dengan masyarakat yang heterogen dan dinamis pada abad ke-19.
Kesultanan Palembang Darussalam
Berdasarkan artikel Kesultanan Palembang Darussalam: Sejarah dan Sumbangsih Para Sultan bagi Peradaban Islam di Sumatera Selatan (JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam) oleh Muhammad Ilham dkk, setelah kemunduran kekuasaan Sriwijaya sebagai kerajaan Hindu-Buddha yang berpengaruh di Palembang hingga sekitar abad ke-10 Masehi, wilayah Palembang mengalami perubahan arah kekuasaan. Seiring berkembangnya Islam di Sumatera, muncul kekuasaan lokal berbasis Islam yang kemudian dikenal sebagai Kesultanan Palembang Darussalam. Kesultanan ini berdiri pada abad ke-17 dan memainkan peran penting dalam membentuk struktur politik, sosial, serta karakter masyarakat Palembang, sekaligus menandai babak baru sejarah Palembang sebagai pusat kekuasaan Islam lokal setelah masa kejayaan Sriwijaya berakhir.
Sejarah Berdirinya Kesultanan Palembang
Kesultanan Palembang berdiri sebagai kelanjutan dari tradisi pemerintahan lokal yang berkembang setelah masa kerajaan sebelumnya, dengan mengadopsi nilai-nilai Islam sebagai dasar legitimasi kekuasaan. Berdasarkan dokumen Fragmen Peradaban Palembang Tempo Doeloe: dari Sriwijaya hingga Kolonial oleh Balai Arkeologi Palembang, melalui sistem pemerintahan sultan, Kesultanan Palembang tidak hanya memperkuat pengaruhnya dalam bidang sosial dan budaya, tetapi juga menegaskan identitas daerah serta kedaulatan politiknya, yang ditandai secara simbolik melalui penobatan Raden Tumenggung dengan gelar Sultan Abdurrahman sebagai penguasa Palembang.
Peran Sultan dalam Peradaban Islam di Sumatera Selatan
Berdasarkan artikel Kesultanan Palembang Darussalam: Sejarah dan Sumbangsih Para Sultan bagi Peradaban Islam di Sumatera Selatan oleh Muhammad Ilham dkk, para sultan Palembang memainkan peran penting dalam perkembangan peradaban Islam di Sumatera Selatan dengan aktif membangun sarana keagamaan, mengembangkan pendidikan Islam, serta memperkuat penerapan nilai-nilai hukum Islam dalam kehidupan masyarakat. Hal ini terlihat dari pembangunan Masjid Agung atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo sebagai pusat kegiatan keagamaan, serta perhatian Sultan Muhammad Bahauddin terhadap ilmu agama yang mendorong lahirnya ulama dan cendekiawan besar seperti Abdul Shomad al-Palimbani. Peran para sultan tersebut membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Palembang, sekaligus membentuk tradisi dan tata sosial bercorak Islam yang bertahan hingga masa berikutnya.
Warisan Kesultanan bagi Palembang Modern
Hingga kini, warisan budaya dari Kesultanan Palembang masih terasa kuat dalam kehidupan masyarakat, tercermin melalui keberadaan tradisi, arsitektur, seni ukir, serta tinggalan sejarah seperti makam para raja dan sultan, masjid-masjid peninggalan kesultanan, dan keraton yang dahulu menjadi pusat pemerintahan. Warisan tersebut tidak hanya menjadi bukti sejarah kejayaan Kesultanan Palembang, tetapi juga berperan penting dalam membentuk identitas Kota Palembang hingga era modern.
Kesimpulan
Sejarah Palembang memberikan banyak pelajaran tentang adaptasi, toleransi, dan kekuatan budaya lokal. Warisan masa lalu tetap terjaga dalam tradisi dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sebagai kota dengan sejarah panjang, Palembang menjadi simbol kebanggaan bagi Sumatera Selatan. Peranannya dalam membangun identitas regional terasa nyata hingga sekarang, menjadikan Palembang pusat budaya sekaligus sejarah di kawasan ini.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.