Konten dari Pengguna

Sejarah Pembangunan Candi Borobudur di Era Wangsa Syailendra

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Candi Borobudur. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Candi Borobudur. Foto: Pixabay.

Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang menjadi kebanggaan Indonesia. Keberadaannya tidak lepas dari peran Dinasti Syailendra yang berkuasa pada abad ke-8 Masehi di Kerajaan Mataram Kuno. Pembangunan candi megah ini dimulai sekitar tahun 780 hingga 840 Masehi. Proses pembangunan yang memakan waktu puluhan tahun ini melibatkan ribuan pekerja dan pengrajin dengan keahlian tinggi.

Latar Belakang Pembangunan Candi Borobudur

Berdasarkan penelitian Pemugaran Candi Borobudur dan Nilai Pendidikan Relief Lalitavistara oleh Riska Wahyu Nofitasari, Candi Borobudur diperkirakan mulai dibangun sekitar tahun 800 M atau pada abad ke-9 M ketika Wangsa Syailendra mencapai puncak kejayaannya di Jawa Tengah. Wangsa Syailendra dikenal sebagai dinasti yang menganut agama Buddha Mahayana sehingga pembangunan Borobudur diyakini menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap ajaran Buddha sekaligus simbol kebesaran kerajaan. Raja Samaratungga dianggap sebagai tokoh yang memprakarsai pembangunan candi, sedangkan penyelesaiannya diperkirakan berlangsung pada masa pemerintahan Ratu Pramodhawardhani.

Proses Pembangunan Candi Borobudur

Pembangunan Candi Borobudur berlangsung selama beberapa dekade dan kemungkinan melibatkan lebih dari satu generasi penguasa Wangsa Syailendra. Menurut perkiraan arsitek Jacques Dumarcay, pembangunan candi dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pembangunan bagian kaki, tubuh, dan stupa. Bangunan ini disusun menggunakan sekitar dua juta balok batu andesit yang dipotong dan dirangkai dengan teknik saling mengunci (interlocking) tanpa menggunakan perekat. Kemegahan konstruksi tersebut menunjukkan tingginya kemampuan teknologi dan arsitektur masyarakat Jawa pada masa itu.

Arsitektur Borobudur dan Makna Filosofinya

Candi Borobudur memiliki struktur bertingkat yang mencerminkan konsep kosmologi Buddha Mahayana. Bagian kaki candi melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dipenuhi hawa nafsu dan keinginan. Bagian tengah atau Rupadhatu menggambarkan dunia yang telah terbebas dari nafsu, tetapi masih terikat pada bentuk. Sementara itu, bagian puncak atau Arupadhatu melambangkan tingkatan tertinggi, yaitu dunia tanpa bentuk yang menjadi simbol kesempurnaan dan pencerahan. Melalui susunan tersebut, Borobudur menjadi representasi perjalanan spiritual umat Buddha menuju nirwana.

Sejarah Penemuan dan Pemugaran Candi Borobudur

Borobudur yang Sempat Terlupakan

Setelah pusat kekuasaan di Jawa berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar abad ke-10, Candi Borobudur secara bertahap ditinggalkan. Dalam kurun waktu yang panjang, bangunan candi tertutup oleh tumbuhan liar dan mengalami kerusakan akibat aktivitas alam, seperti gempa bumi dan endapan material vulkanik. Kondisi tersebut menyebabkan keberadaan Borobudur sempat terlupakan selama berabad-abad.

Penemuan Kembali dan Upaya Pemugaran

Keberadaan Candi Borobudur kembali diketahui pada tahun 1814 ketika Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk membersihkan kawasan yang dipenuhi semak belukar. Setelah itu, berbagai upaya pelestarian dilakukan, mulai dari pemugaran pada masa pemerintahan Hindia Belanda di bawah pimpinan Theodoor van Erp hingga proyek pemugaran besar yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan UNESCO dan berbagai negara pada dekade 1970-an hingga awal 1980-an. Berkat upaya tersebut, kondisi Borobudur berhasil dipertahankan dan pada tahun 1991 ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Relief Lalitavistara sebagai Sumber Pembelajaran

Salah satu keistimewaan Candi Borobudur terletak pada relief Lalitavistara yang terdiri atas 120 panel. Relief ini mengisahkan perjalanan hidup Siddhartha Gautama, mulai dari turun dari Surga Tusita, kelahiran, masa muda, hingga mencapai pencerahan sebagai Buddha. Selain memiliki nilai keagamaan, relief tersebut juga menjadi sumber penting untuk mempelajari seni pahat, budaya, dan perkembangan ajaran Buddha pada masa Wangsa Syailendra sehingga tetap memiliki nilai edukatif hingga sekarang.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia