Konten dari Pengguna

Sejarah Sepangkal: Permainan Tradisional dari Daerah Aceh

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nampak seorang pegulat sedang membanting lawannya. Sumber foto: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Nampak seorang pegulat sedang membanting lawannya. Sumber foto: pexels.com

Permainan tradisional selalu menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia, termasuk di Aceh. Sepangkal adalah salah satu permainan yang sudah dikenal turun-temurun di daerah ini. Selain menjadi hiburan, permainan ini juga menyimpan nilai-nilai sosial dan budaya yang penting untuk diketahui.

Sejarah dan Asal Usul Permainan Sepangkal

Sepangkal merupakan permainan rakyat yang dikenal luas di Aceh dan telah ada sejak lama. Menurut penjelasan dalam buku Permainan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh oleh Drs. H. Bambang Suwono, dkk., permainan ini tumbuh di tengah masyarakat Alas, Kabupaten Aceh Tenggara sebagai bagian dari tradisi lokal. Sepangkal tidak hanya dimainkan oleh anak-anak, tetapi juga melibatkan orang dewasa dalam berbagai kesempatan.

Apa Itu Permainan Sepangkal?

Definisi Sepangkal

Permainan sepangkal adalah permainan tradisional seperti bela diri judo yang menggunakan tangan kosong. Permainan ini biasanya dimainkan secara berkelompok dan menguji ketangkasan serta koordinasi tangan para pesertanya.

Cara Bermain Sepangkal

Menurut buku Permainan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Proses bermain sepangkal melibatkan beberapa tahapan. Pertama, dibuat dua kelompok yang masing-masing terdiri dari enam orang atau lebih. Bisa sampai sepuluh atau belasan orang per kelompok. Arena pertandingan disiapkan dengan membuat garis di pinggir sungai sebagai batas. Masing-masing kelompok memiliki garis bebasnya, di mana jika anggota kelompok masuk ke garisnya maka ia dilarang untuk dilawan. Garis yang berada di tengah, antara garis masing-masing kelompok sebagai arena tanding.

Kedua, setiap orang memiliki pasangan tanding yang tetap dari kelompok lawan. Lawan yang dipilih harus sebaya agar adil. Ketiga, pertandingan dilaksanakan dengan cara membanting lawan keluar garis dan diceburkan ke sungai. Siapa yang tercebur ke sungai maka dianggap kalah sehingga anggota kelompoknya gugur seorang. Kelompok yang paling cepat habis anggotanya dianggap kalah.

Keempat, meski dalam permainan ini nampak perkelahian yang sengit, namun ada etika yang diterapkan yaitu: dilarang menyerang organ vital lawan; dilarang mencaci maki lawan secara berlebihan (hanya boleh bersorak sewajarnya); dilarang membantah keputusan wasit (orang dewasa yang mengawasi jalannya permainan).

Sejarah Permainan Sepangkal di Aceh

Asal Usul dan Perkembangan Sepangkal

Sepangkal sudah dikenal sejak masa lalu dan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Permainan ini berkembang mulanya di Aceh Tenggara lalu tersebar ke berbagai daerah Aceh, mengikuti pola kehidupan masyarakat setempat yang gemar berkumpul dan bermain bersama.

Permainan ini dilaksanakan hanya setelah musim panen, kira-kira sebulan lamanya sampai sawah kembali ditanami. Sore hari sepulang sekolah anak-anak akan meluangkan waktunya untuk permainan ini.

Nilai Budaya dalam Permainan Sepangkal

Permainan sepangkal membawa nilai gotong royong, sportivitas, dan kebersamaan. Selain itu, aktivitas ini juga mengajarkan keterampilan sosial serta mempererat hubungan antar pemain.

Daerah Asal Permainan Sepangkal

Wilayah Persebaran Sepangkal di Aceh

Permainan ini terutama ditemukan di wilayah Aceh Tenggara, dengan variasi aturan yang berkembang di berbagai daerah Aceh lainnya. Sepangkal menjadi bagian dari identitas budaya lokal dan kerap dimainkan saat acara adat maupun waktu senggang.

Hubungan Sepangkal dengan Tradisi Lokal

Sepangkal tidak lepas dari tradisi masyarakat Aceh yang menghargai kebersamaan. Permainan ini sering menjadi sarana komunikasi dan interaksi sosial yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pentingnya Melestarikan Permainan Sepangkal

Manfaat Sosial dan Edukatif Sepangkal

Sepangkal membantu mengasah keterampilan motorik, kerjasama, dan kecerdasan sosial anak. Selain mengasah ketangguhan pribadi para pemain, permainan ini juga memperkuat rasa persatuan di lingkungan sekitar.

Upaya Pelestarian Permainan Tradisional Aceh

Melestarikan sepangkal penting agar generasi muda tetap mengenal warisan budaya lokal. Kegiatan edukasi, pengenalan di sekolah, serta lomba permainan rakyat bisa menjadi langkah konkret untuk menjaga eksistensi sepangkal di tengah perkembangan zaman.

Kesimpulan

Sepangkal adalah bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Aceh. Permainan ini bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran nilai-nilai sosial yang relevan hingga kini. Melestarikan sepangkal berarti menjaga jati diri dan tradisi masyarakat Aceh agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman