Sejarah Tradisi Tabuik: Mengenal Asal Usul dan Makna Ritual di Pariaman
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi tabuik menjadi salah satu warisan budaya yang sangat dikenal di Pariaman, Sumatra Barat. Ritual ini setiap tahun menarik perhatian masyarakat dan wisatawan karena keunikannya. Banyak aspek menarik yang dapat dipelajari, mulai dari sejarah hingga makna di balik tradisi tabuik.
Apa Itu Tradisi Tabuik?
Tradisi tabuik merupakan upacara adat yang telah lama berkembang di Pariaman. Menurut artikel Upacara Tabuik: Ritual Keagamaan Pada Masyarakat Pariaman oleh Refisrul, tradisi Tabuik merupakan upacara masyarakat Pariaman yang diselenggarakan setiap 1–10 Muharam dan ditandai dengan arak-arak keranda tabuik sebagai simbol jasad Husein.
Penjelasan Singkat Tabuik
Tabuik adalah keranda simbolik yang menggambarkan usungan jenazah Husein dan memiliki makna religius bagi masyarakat Pariaman.
Kapan dan Bagaimana Tabuik Dilaksanakan
Upacara Tabuik dilaksanakan pada awal Muharam melalui rangkaian prosesi hingga puncaknya berupa pembuangan tabuik ke laut.
Sejarah Tradisi Tabuik di Pariaman
Asal-Usul Tradisi Tabuik di Pariaman
Perayaan Tabuik di Pariaman berasal dari Bengkulu dan dibawa oleh bangsa Cipei/Keling (Tamil Islam), yaitu sisa pasukan Inggris (Gurkha). Kedatangan mereka ke Pariaman terjadi setelah Traktat London 1824, ketika Bengkulu diserahkan kepada Belanda. Sebagian dari mereka kemudian menetap di Pariaman dan mengembangkan tradisi Tabuik, serta banyak berprofesi sebagai tukang patri.
Makna Sakral Upacara Tabuik
Upacara Tabuik merupakan peringatan atas wafatnya Imam Husein, cucu Nabi Muhammad, yang sangat dihormati terutama oleh kaum Syiah. Peristiwa ini dipandang sebagai tragedi besar dan penuh kesedihan, sehingga diperingati melalui ritual Tabuik oleh umat Islam di berbagai wilayah.
Penyebaran Budaya Tabuik
Tradisi Tabuik berasal dari Irak, kemudian menyebar ke Iran, India, Aceh, Bengkulu, hingga akhirnya berkembang di Pariaman. Penyebaran ini mengikuti perpindahan dan pengaruh komunitas Muslim Syiah di berbagai wilayah.
Latar Belakang Sejarah Peristiwa Karbala
Tradisi Tabuik berkaitan dengan peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali di Padang Karbala pada tahun 681 M. Ia gugur dalam peperangan melawan pasukan Yazid bin Muawiyah setelah pertempuran berlangsung selama 1–10 Muharam. Peristiwa ini menjadi dasar utama peringatan Tabuik.
Kepercayaan Tradisional dalam Kisah Tabuik
Dalam tradisi kepercayaan, setelah wafatnya Husein, jasadnya diangkat oleh malaikat dalam sebuah arak-arakan suci dan dibawa ke langit. Kisah simbolik ini memperkuat nilai sakral dan spiritual dalam pelaksanaan upacara Tabuik.
Perkembangan Tradisi Tabuik di Masyarakat
Seiring waktu, tabuik mengalami perkembangan hingga menjadi bagian dari identitas masyarakat Pariaman. Tradisi ini diterima dan dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai bentuk solidaritas sosial.
Nilai Tradisi Tabuik
Nilai Keagamaan dalam Tabuik
Tradisi tabuik mengandung makna keagamaan yang erat kaitannya dengan peringatan Asyura. Ritual ini menjadi salah satu cara masyarakat Pariaman mengenang peristiwa Karbala dan menanamkan nilai-nilai keimanan.
Nilai Sosial dan Budaya Tabuik
Selain aspek religius, tabuik juga berperan dalam mempererat ikatan sosial. Proses pembuatan hingga pelaksanaan upacara melibatkan banyak pihak, sehingga tercipta rasa gotong royong dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Kesimpulan
Sejarah tradisi tabuik di Pariaman menunjukkan betapa kuatnya perpaduan nilai agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Ritual ini tidak hanya menjadi simbol peringatan sejarah, tetapi juga mempertegas arti penting kebersamaan dan solidaritas di Pariaman. Melalui pelestarian tradisi tabuik, masyarakat menjaga identitas dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.