Konten dari Pengguna

Suku Tengger: Masyarakat Adat di Kaki Gunung Bromo

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Suku Tengger. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Suku Tengger. Foto: Pixabay.

Di tengah pesona Gunung Bromo yang memukau, ada sebuah komunitas adat yang telah bertahan ratusan tahun dengan cara hidup unik mereka. Suku Tengger adalah masyarakat Hindu yang mendiami kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, tepatnya di wilayah Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Kehidupan mereka di dataran tinggi dengan ketinggian 2000 hingga 3000 meter menjadikan mereka berbeda dari kebanyakan masyarakat Jawa lainnya. Keberadaan mereka bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi bukti nyata pelestarian tradisi Hindu-Jawa yang konon terhubung dengan Kerajaan Majapahit. Hingga kini, Suku Tengger tetap mempertahankan identitas budaya dan kepercayaan mereka meski berada di tengah mayoritas Muslim di Jawa Timur.

Sejarah dan Identitas Masyarakat Suku Tengger

Asal-Usul dan Lokasi Geografis

Menurut penelitian Bentuk, Makna, dan Fungsi Kidung-Kidung Suci Masyarakat Tengger di Kabupaten Probolinggo oleh Farisha Firni, masyarakat Tengger merupakan salah satu komunitas adat yang menetap di kawasan pegunungan sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Mereka tersebar di wilayah Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang, dengan kehidupan yang masih erat dipengaruhi oleh adat istiadat serta warisan budaya leluhur.

Sebagian besar masyarakat Tengger bekerja sebagai petani yang memanfaatkan lahan dataran tinggi untuk membudidayakan kentang, kubis, bawang merah, bawang putih, dan berbagai jenis sayuran. Selain sektor pertanian, berkembangnya kawasan wisata Bromo juga membuka peluang ekonomi baru melalui jasa pariwisata, penyewaan kuda maupun kendaraan jeep, serta perdagangan.

Struktur Sosial dan Kepercayaan

Kehidupan sosial masyarakat Tengger dipimpin oleh dua sistem kepemimpinan, yaitu pemerintahan formal yang dipimpin kepala desa dan kepemimpinan adat yang dijalankan oleh Dukun Pandita. Dalam melaksanakan berbagai upacara adat, dukun dibantu oleh Tiyang Sepuh, Dandan, dan Legen yang masing-masing memiliki tugas khusus dalam prosesi ritual.

Kepercayaan masyarakat Tengger berakar pada ajaran Hindu yang dipadukan dengan penghormatan terhadap leluhur dan tradisi lokal. Berbagai ritual adat dilaksanakan berdasarkan kalender keagamaan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Widhi sekaligus menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur.

Tradisi dan Warisan Budaya Suku Tengger

Upacara Yadnya Kasada merupakan tradisi keagamaan paling penting bagi masyarakat Tengger. Dalam upacara ini, masyarakat mempersembahkan sesaji berupa hasil pertanian, ternak, maupun berbagai persembahan lainnya ke kawah Gunung Bromo sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi serta penghormatan terhadap leluhur. Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi simbol identitas budaya masyarakat Tengger.

Selain Kasada, masyarakat Tengger juga melaksanakan berbagai upacara adat seperti Karo, Pujan, Entas-Entas, dan Unan-Unan. Masing-masing memiliki makna tersendiri, mulai dari penghormatan kepada leluhur hingga ungkapan syukur atas hasil panen serta harapan akan kehidupan yang seimbang antara manusia, alam, dan Tuhan.

Kidung Suci sebagai Warisan Leluhur

Kidung suci merupakan salah satu bentuk sastra lisan masyarakat Tengger yang dilantunkan dalam berbagai kegiatan keagamaan. Kidung berfungsi sebagai sarana pemujaan kepada Sang Hyang Widhi sekaligus menyampaikan ajaran dan tuntunan hidup yang diwariskan secara turun-temurun kepada masyarakat Tengger.

Sebagian besar kidung menggunakan bahasa Jawa Pertengahan atau bahasa kidung yang memiliki ciri khas tersendiri. Karena menggunakan bentuk bahasa yang tidak lagi umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari, pewarisan melalui hafalan, pembelajaran, dan dokumentasi menjadi penting agar tradisi tersebut tetap lestari.

Kidung sebagai Pelestari Budaya

Bagi masyarakat Tengger, kidung tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai media pelestarian ajaran, norma, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur. Pelantunan kidung dalam berbagai upacara adat menunjukkan eratnya hubungan antara tradisi keagamaan dan identitas budaya masyarakat Tengger yang tetap dipertahankan hingga kini.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia