Tan Malaka, Tokoh yang Dijuluki Bapak Republik Indonesia
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membicarakan siapa Bapak Republik Indonesia, sebagian besar orang mungkin langsung menyebut nama Soekarno. Namun, dalam perjalanan sejarah bangsa, ada tokoh lain yang juga mendapat gelar serupa namun namanya justru tenggelam dalam narasi sejarah resmi, yaitu Tan Malaka. Tan Malaka adalah pejuang kemerdekaan yang memiliki peran penting dalam merumuskan konsep republik Indonesia merdeka sejak awal abad ke-20. Meski kontribusinya sangat besar, kisahnya tidak banyak diajarkan di bangku sekolah dan ia hampir terlupakan dari ingatan kolektif bangsa Indonesia.
Tan Malaka: Tokoh yang Dijuluki Bapak Republik
Gagasan Republik Mendahului Kemerdekaan
Tan Malaka dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan nasional yang memiliki gagasan mengenai Indonesia merdeka jauh sebelum Proklamasi 1945. Melalui buku Naar de Republiek Indonesia, ia mengemukakan konsep negara berbentuk republik ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial. Atas kontribusi pemikirannya tersebut, Tan Malaka kemudian dijuluki sebagai Bapak Republik.
Kiprah dalam Pergerakan Nasional
Lahir di Suliki, Sumatera Barat, pada 1897, Tan Malaka aktif dalam berbagai organisasi pergerakan sejak usia muda. Ia pernah memimpin Partai Komunis Indonesia pada 1921, tetapi kemudian mengambil jalur perjuangan politik yang lebih mandiri. Sepanjang hidupnya, Tan Malaka lebih dikenal sebagai guru, aktivis, penulis, dan pemikir revolusioner yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui pendidikan serta pembentukan kesadaran politik rakyat.
Pemikiran Politik dan Karya Tulis
Tan Malaka tidak hanya terlibat dalam aktivitas politik, tetapi juga menghasilkan berbagai karya penting, seperti Madilog, Massa Actie, dan Naar de Republiek Indonesia. Melalui tulisan-tulisannya, ia menawarkan strategi perjuangan, pentingnya berpikir rasional, serta cita-cita mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Pemikiran tersebut memberikan pengaruh besar terhadap sebagian kalangan pergerakan nasional.
Perbedaan Pandangan dengan Soekarno dan Hatta
Dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan, Tan Malaka memiliki sejumlah perbedaan pandangan dengan Soekarno dan Mohammad Hatta. Ia cenderung menolak berbagai bentuk kompromi dengan pihak kolonial dan mengusung semboyan "Merdeka 100%", sedangkan pemerintah lebih memilih jalur diplomasi dalam menghadapi Belanda. Perbedaan strategi tersebut membuat hubungan politik mereka tidak selalu sejalan, terutama pada masa awal kemerdekaan.
Penahanan dan Akhir Kehidupan
Setelah Proklamasi 1945, Tan Malaka sempat ditahan oleh pemerintah Republik Indonesia tanpa proses peradilan. Setelah dibebaskan, ia kembali aktif dalam perjuangan bersenjata. Pada Februari 1949, Tan Malaka gugur setelah dieksekusi oleh pasukan Tentara Republik Indonesia di Kediri. Peristiwa tersebut baru terungkap secara lebih jelas melalui berbagai penelitian sejarah beberapa dekade kemudian.
Warisan Pemikiran dan Komunikasi Politik Tan Malaka
Pendidikan sebagai Sarana Perjuangan
Menurut penelitian Tan Malaka, Bapak Republik yang Terlupakan oleh Rizka Nabila Putri Amran, Tan Malaka memandang pendidikan sebagai bagian penting dari perjuangan kemerdekaan. Ia mendirikan Sekolah Rakyat Sarekat Islam dan memanfaatkan kegiatan pendidikan untuk membangun kesadaran politik masyarakat. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perjuangannya tidak hanya dilakukan melalui aksi politik, tetapi juga melalui proses pembelajaran.
Gaya Komunikasi Politik
Tan Malaka dikenal memiliki kemampuan komunikasi politik yang kuat. Ia menyampaikan gagasan melalui pidato, buku, artikel, pamflet, maupun sikap politiknya. Komunikasi politik Tan Malaka dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya Minangkabau dan bertujuan membangkitkan semangat anti-penjajahan serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sepenuhnya.
Jaringan Internasional
Selama masa perjuangannya, Tan Malaka banyak menghabiskan waktu di berbagai negara seperti Belanda, Tiongkok, Filipina, Thailand, Singapura, dan Uni Soviet. Pengalaman tersebut membentuk jaringan internasional yang dimanfaatkannya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sekaligus menyebarkan gagasan anti-kolonialisme.
Warisan bagi Bangsa Indonesia
Meskipun perjalanan politiknya penuh kontroversi, Tan Malaka meninggalkan warisan pemikiran yang penting bagi sejarah Indonesia. Gagasannya mengenai republik, pendidikan politik, kemandirian bangsa, dan perjuangan tanpa kompromi terus menjadi bahan kajian dalam sejarah maupun ilmu politik. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1963.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia