Tari Bedhaya: Tarian Sakral Warisan Keraton Jawa
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tari Bedhaya merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang menyimpan nilai sakral dan filosofis mendalam. Tarian klasik ini berasal dari Keraton Surakarta dan hingga kini masih dijaga kelestariannya dengan berbagai aturan ketat yang harus dipatuhi. Keunikan tari Bedhaya terletak pada gerakan lemah gemulai yang dibawakan sembilan penari putri secara sinkron. Selain itu, tarian ini juga memiliki hubungan erat dengan spiritualitas Jawa yang dipercaya sebagai penghubung antara dunia nyata dengan dunia gaib.
Sejarah dan Filosofi Tari Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian sakral yang berkembang di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta dan memiliki keterkaitan dengan kisah Kanjeng Ratu Kidul dalam tradisi budaya Jawa.
Kesakralan Tari Bedhaya
Menurut artikel Eksistensi Tari Bedhaya Ketawang oleh Supriyanto, Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian sakral yang hanya dipentaskan dalam upacara tertentu di lingkungan Keraton Surakarta dengan berbagai ketentuan adat yang harus dipatuhi.
Filosofi Sembilan Penari
Jumlah sembilan penari melambangkan konsep Nawasanga atau sembilan arah mata angin yang mencerminkan keseimbangan antara jagat kecil (mikrokosmos) dan jagat besar (makrokosmos).
Makna Gerakan Tari
Tari Bedhaya Ketawang mengandung nilai-nilai filosofis dan simbolik yang diwujudkan melalui gerak, komposisi tari, serta berbagai unsur penyajiannya.
Fungsi Tari Bedhaya
Tari Bedhaya Ketawang berfungsi sebagai bagian dari upacara adat kerajaan yang sakral dan dalam tradisi keraton dipercaya berkaitan dengan kehadiran spiritual Kanjeng Ratu Kidul ketika tarian dipentaskan.
Karakteristik dan Pelestarian Tari Bedhaya di Era Modern
Iringan Musik
Tari Bedhaya Ketawang diiringi gending ketawang gedhe berlaras pelog dengan berbagai instrumen gamelan yang memperkuat suasana sakral dalam pertunjukan.
Kostum Penari
Penari Bedhaya Ketawang mengenakan busana Dodot Ageng atau Basahan lengkap dengan gelung serta berbagai aksesori khas pengantin Jawa yang menjadi bagian penting dari identitas pertunjukan.
Waktu Pementasan
Secara tradisional Tari Bedhaya Ketawang hanya dipentaskan pada upacara Tingalandalem Jumenengan di Keraton Surakarta, meskipun kini juga dapat ditampilkan pada berbagai kegiatan budaya.
Tantangan Pelestarian
Pelestarian Tari Bedhaya Ketawang menghadapi tantangan akibat perkembangan zaman, pengaruh budaya luar, serta berbagai perubahan dalam fungsi dan penyajiannya, meskipun eksistensinya masih tetap dipertahankan.
Upaya Pelestarian
Pelestarian Tari Bedhaya Ketawang dilakukan dengan tetap mempertahankan eksistensinya melalui pementasan di berbagai kegiatan budaya, termasuk di lingkungan ISI Surakarta dan berbagai acara resmi.
Peran Pendidikan Seni
Lembaga pendidikan seni seperti ISI Surakarta turut berperan memperkenalkan Tari Bedhaya Ketawang melalui berbagai kegiatan akademik dan pertunjukan budaya.
Komunitas Seni di Luar Keraton
Seiring perkembangan zaman, Tari Bedhaya Ketawang tidak lagi terbatas dipentaskan di lingkungan keraton, tetapi juga dapat dipelajari dan dipentaskan dalam berbagai kegiatan budaya sehingga semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia