Konten dari Pengguna

Temuan Peninggalan Benda Mesolitikum di Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Masa Mesolitikum atau Zaman Batu Madya. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Masa Mesolitikum atau Zaman Batu Madya. Foto: Pixabay.

Masa Mesolitikum atau Zaman Batu Madya menjadi periode penting dalam sejarah prasejarah Indonesia. Periode ini berlangsung sekitar 10.000 hingga 8.000 tahun yang lalu dan menjadi masa transisi antara Zaman Batu Tua dengan Zaman Batu Muda. Penemuan berbagai artefak dari periode ini memberikan gambaran tentang kehidupan manusia purba yang mulai berkembang. Menariknya, temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Mesolitikum sudah memiliki keterampilan lebih maju dibanding pendahulunya.

Jenis Peninggalan Mesolitikum yang Ditemukan

Flakes atau Alat Serpih

Berdasarkan artikel Perkembangan Kebudayaan Zaman Batu Tua dan Batu Madya oleh Azwar Anastain dkk., Salah satu peninggalan khas zaman Mesolitikum adalah flakes atau alat serpih, yaitu alat berukuran kecil yang dibuat dari pecahan batu. Dibandingkan alat pada masa Paleolitikum, flakes dibuat dengan teknik yang lebih halus sehingga menghasilkan alat yang lebih tajam dan efektif untuk menguliti hewan, memotong bahan makanan, maupun mengolah berbagai kebutuhan sehari-hari. Peninggalan ini menunjukkan bahwa manusia Mesolitikum telah mengalami perkembangan dalam keterampilan mengolah batu.

Pebble Tools atau Kapak Batu

Selain flakes, ditemukan pula pebble tools atau alat-alat dari batu kali yang dikenal sebagai kapak Sumatra (Sumatralith). Alat ini dibuat dari batu kali yang dibelah dan masih bertekstur kasar. Jenis lainnya adalah bache courte atau kapak pendek yang berbentuk setengah lingkaran. Berbagai alat tersebut digunakan untuk memotong, menetak, dan membantu aktivitas sehari-hari masyarakat Mesolitikum.

Kjokkenmoddinger sebagai Bukti Kehidupan Pesisir

Peninggalan penting lainnya adalah kjokkenmoddinger, yaitu tumpukan sampah dapur berupa kulit kerang, siput, serta sisa makanan yang ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatra. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Mesolitikum memanfaatkan hasil laut sebagai sumber makanan utama. Di lokasi tersebut juga ditemukan pipisan serta berbagai alat batu yang memperkaya informasi mengenai kehidupan masyarakat pesisir pada masa itu.

Abris Sous Roche sebagai Tempat Tinggal

Manusia Mesolitikum juga meninggalkan abris sous roche, yaitu ceruk atau gua batu yang digunakan sebagai tempat tinggal. Situs-situs ini menyimpan berbagai peninggalan seperti alat tulang, flakes, dan pebble yang menjadi bukti aktivitas manusia prasejarah. Keberadaan hunian semi menetap tersebut menunjukkan perubahan pola hidup dari masyarakat yang sebelumnya selalu berpindah-pindah menjadi lebih menetap di lokasi tertentu.

Alat dari Tulang dan Bahan Alam Lainnya

Selain batu, manusia Mesolitikum mulai memanfaatkan tulang dan tanduk hewan sebagai bahan pembuatan alat. Peralatan dari tulang ditemukan di beberapa situs gua dan digunakan untuk berburu maupun aktivitas sehari-hari. Penggunaan berbagai jenis bahan menunjukkan kemampuan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam secara lebih beragam sesuai kebutuhan hidupnya.

Lokasi Penting Penemuan Artefak Mesolitikum

Pantai Timur Sumatra

Pantai timur Sumatra merupakan salah satu kawasan terpenting dalam penelitian Mesolitikum di Indonesia. Di wilayah ini ditemukan banyak kjokkenmoddinger, yaitu tumpukan kulit kerang dan siput yang menjadi bukti kehidupan masyarakat pesisir. Penelitian menunjukkan bahwa manusia pada masa itu sangat bergantung pada hasil laut sebagai sumber pangan utama.

Goa Sampung dan Wilayah Jawa

Di Pulau Jawa, terutama Goa Sampung di Ponorogo, ditemukan berbagai alat dari tulang sehingga kebudayaan tersebut dikenal sebagai Sampung Bone Culture. Selain itu, di daerah Besuki dan Bandung juga ditemukan flakes, kapak pendek, serta berbagai artefak lain yang menunjukkan berkembangnya kebudayaan Mesolitikum di wilayah Jawa.

Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan menjadi lokasi penting lainnya melalui penemuan Kebudayaan Toala di Goa Leang Pattae. Situs ini menghasilkan berbagai flakes dan pebble yang menjadi ciri khas kebudayaan Mesolitikum. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan Sulawesi telah menjadi salah satu pusat perkembangan budaya manusia prasejarah di Indonesia.

Timor dan Pulau Rote

Di wilayah Timor dan Pulau Rote ditemukan peninggalan berupa flakes culture dari batu kalsedon bertangkai. Temuan ini memperlihatkan bahwa persebaran kebudayaan Mesolitikum tidak hanya terbatas di Pulau Jawa dan Sumatra, tetapi juga telah menjangkau wilayah Indonesia bagian timur.

Persebaran Artefak Mesolitikum di Indonesia

Berbagai penemuan artefak Mesolitikum di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Timor, Rote, dan wilayah lainnya menunjukkan bahwa manusia prasejarah telah mampu beradaptasi dengan beragam kondisi lingkungan. Melalui peninggalan berupa alat batu, alat tulang, gua hunian, hingga tumpukan sampah dapur, para peneliti dapat merekonstruksi perkembangan teknologi, pola permukiman, serta cara hidup masyarakat Mesolitikum di Nusantara.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia