Konten dari Pengguna

Te’ong-Ngan: Permainan Tradisional Suku Osing Banyuwangi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pecahan genting untuk bahan menyusun gaco dalam permainan te'ong-ngan khas Suku Osing. Sumber foto: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Pecahan genting untuk bahan menyusun gaco dalam permainan te'ong-ngan khas Suku Osing. Sumber foto: pixabay.com

Permainan tradisional masih menjadi bagian penting dari budaya lokal di Indonesia, salah satunya adalah te’ong-ngan. Permainan ini dikenal luas di kalangan masyarakat Osing di Banyuwangi dan berfungsi sebagai hiburan sekaligus sarana pembelajaran nilai sosial. Te’ong-ngan memiliki kekhasan tersendiri yang menjadikannya berbeda dari permainan tradisional lain.

Apa Itu Te’ong-Ngan?

Menurut jurnal Studi Analisis Budaya Permainan Tradisional Suku Osing Kabupaten Banyuwangi oleh Syamsul Anam, te’ong-ngan merupakan salah satu permainan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun di Banyuwangi. Permainan ini melibatkan interaksi fisik antara peserta dan biasanya dilakukan secara berkelompok di ruang terbuka.

Pengertian Permainan Te’ong-Ngan

Te’ong-ngan berasal dari dua kata. "Te’ong" berarti ketemu atau ketahuan, dan "ngan" berarti melakukan. Maksudnya, permainan ini bermakna mencari posisi lawan sampai ketemu. Mirip seperti petak umpet dengan beberapa perbedaan teknis. Permainan ini sering dimainkan oleh anak-anak, namun tidak ada larangan jika ingin dimainkan oleh orang dewasa.

Ciri Khas dan Cara Bermain Te’ong-Ngan

Keunikan te’ong-ngan terletak pada teknik yang dinamis. Dalam permainan ini terdapat dua cara untuk menentukan pemain penjaga di antaranya menggunakan hompimpa sampai didapatkan pemain yang kalah dalam hompimpa. Metode selanjutnya dengan cara melempar batu ke arah gaco (berupa pecahan genting yang ditumpuk) sedekat mungkin dengan garis persegi/lingkaran yang menjadi tempat untuk menyusun gaco oleh pemain penjaga. Gaco yang terjauh dari garis persegi/lingkaran dialah yang menjaga.

Penjaga terpilih kemudian menyusun tumpukan gaco di dalam lingkaran. Setelah selesai, para pemain melemparkan batu atau bola ke arah tumpukan itu. Ketika roboh, para pemain bersembunyi sambil si penjaga menyusun kembali. Setelah tersusun, penjaga harus mencari pemain yang bersembunyi sambil menjaga tumpukan gaco agar tidak dilempar lagi oleh para pemain. Pemain yang pertama ditemukan oleh penjaga, harus berperan menjadi penjaga pada sesi berikutnya.

Nilai-nilai yang Terkandung dalam Permainan Te’ong-Ngan

Permainan ini mengajarkan pentingnya kekompakan, kejujuran, dan rasa saling percaya. Selain itu, melalui te’ong-ngan, anak-anak belajar memahami arti sportivitas dan tanggung jawab dalam kelompok.

Asal Usul Permainan Te’ong-Ngan

Te’ong-ngan memiliki sejarah panjang di masyarakat Osing, yang merupakan penduduk asli Banyuwangi. Permainan ini diperkirakan sudah ada sejak masa lampau sebagai bagian dari tradisi lokal.

Sejarah dan Latar Belakang Munculnya Te’ong-Ngan

Permainan te’ong-ngan muncul seiring perkembangan budaya agraris di Banyuwangi. Aktivitas ini awalnya menjadi sarana hiburan setelah bekerja di sawah atau ladang.

Hubungan Te’ong-Ngan dengan Budaya Suku Osing

Permainan ini tidak terpisahkan dari identitas suku Osing. Melalui te’ong-ngan, generasi muda diperkenalkan pada warisan budaya leluhur secara alami dan menyenangkan.

Peran Te’ong-Ngan dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Banyuwangi

Selain sebagai hiburan, te’ong-ngan juga mempererat hubungan antar warga. Permainan ini sering dijadikan ajang untuk melatih kerja sama dan memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan masyarakat.

Kesimpulan

Te’ong-ngan merupakan permainan tradisional yang berakar kuat dalam budaya masyarakat Osing Banyuwangi. Permainan ini tidak hanya menjadi sarana rekreasi, tetapi juga wahana pembelajaran nilai-nilai sosial yang penting. Melestarikan te’ong-ngan berarti ikut menjaga kekayaan budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman