Tradisi Mappacci Bugis: Makna dan Tujuan dalam Pernikahan Adat
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mappacci menjadi salah satu tradisi penting dalam rangkaian adat pernikahan masyarakat Bugis. Prosesi ini memiliki simbol dan makna tersendiri yang diwariskan turun-temurun. Melalui Mappacci, masyarakat Bugis menanamkan nilai-nilai luhur yang masih dijaga hingga saat ini.
Apa Itu Mappacci dalam Adat Bugis?
Menurut artikel Bentuk dan Makna Ritual Mappacci pada Pernikahan Bangsawan Bugis (Studi Kasus di Desa Benteng Gantarang Kabupaten Bulukumba) oleh Kasmawati dkk., mappacci merupakan ritual adat Bugis yang bertujuan menyucikan calon pengantin dan biasanya dilaksanakan sebelum akad nikah.
Pengertian Ritual Mappacci
Istilah mappacci berasal dari kata paccing yang berarti bersih, serta pacci yang merujuk pada daun pacar yang digunakan dalam ritual.
Tujuan Mappacci dalam Adat Pernikahan Bugis
Mappacci bertujuan menyucikan calon pengantin dari hal-hal buruk sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Makna Simbolis dan Filosofis Mappacci
Mappacci melambangkan kesucian hati calon pengantin serta doa dan restu keluarga untuk kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Peran Mappacci dalam Persiapan Pernikahan
Mappacci menjadi momen berkumpulnya keluarga untuk memberikan doa dan restu sebelum pernikahan berlangsung.
Unsur-Unsur Penting dalam Prosesi Mappacci
Ketika keturunan bangsawan melaksanakan ritual upacara mappacci, mereka menyiapkan sembilan jenis perlengkapan, yaitu bantal, sarung sutera, daun pucuk pisang, daun nangka, daun pacci, beras melati, lilin, wadah pacci, dan gula merah. Namun, terdapat perbedaan penggunaan perlengkapan antara kalangan bangsawan dan masyarakat biasa, khususnya dalam penyediaan sarung sutera. Masyarakat yang bukan keturunan bangsawan umumnya menyiapkan tujuh lembar sarung sutera, sedangkan kalangan bangsawan menyediakan sembilan lembar sarung sutera.
Proses Pelaksanaan Mappacci
Khatam Al-Qur’an (Panre’ Temme’)
Ritual diawali dengan khatam Al-Qur’an yang dilaksanakan terpisah oleh calon mempelai laki-laki dan perempuan. Prosesi ini dipimpin imam/guru dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an sebagai pengingat agar kehidupan rumah tangga senantiasa diridhai Allah. Maknanya adalah membentuk keluarga yang harmonis, sejahtera, dan bahagia, sebagaimana pesan QS. Ar-Rum tentang mawaddah dan rahmah.
Barazanji
Setelah khatam Al-Qur’an, dilanjutkan dengan pembacaan Barazanji, yaitu lantunan shalawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang dibacakan bersama oleh sekelompok orang dan dipimpin imam/guru. Ritual ini bermakna menumbuhkan kecintaan kepada Nabi serta rasa syukur atas nikmat Islam.
Mappacci (Inti Prosesi)
Ritual ini berupa peletakan daun pacci di telapak tangan calon mempelai sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Jumlah orang yang melakukan mappacci disesuaikan dengan stratifikasi sosial (2×7 atau 2×9) dari keluarga ayah dan ibu secara seimbang.
Tata Cara Singkat:
Calon mempelai duduk di pelaminan didampingi indo’ botting (perias), dengan kedua tangan diletakkan di atas bantal berlapis daun sirih.
Daun pacci yang telah dihaluskan ditempatkan di telapak tangan kanan, kiri, dan dahi sambil diiringi doa.
Beras (wenno) ditaburkan sebagai simbol harapan kebahagiaan, perkembangan hidup, dan kelancaran rezeki.
Makna Sosial Mappacci bagi Masyarakat Bangsawan Bugis
Mappacci memperkuat hubungan sosial sekaligus menjadi harapan agar pasangan pengantin memperoleh kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Kesimpulan
Tradisi mappacci Bugis tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam adat pernikahan. Melalui ritual ini, masyarakat Bugis menanamkan nilai pembersihan diri, rasa hormat, dan kebersamaan. Prosesi mappacci bukan hanya simbol adat, melainkan juga jembatan pelestarian budaya yang terus dijaga hingga kini.
Reviewed by Melody Aria Putri, S.Hum., Gr.
Baca Juga: Mengenal Budaya Indonesia sebagai Warisan Keragaman dan Identitas Nusantara