Tritura: Tuntutan Rakyat yang Mengubah Sejarah Indonesia
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasca peristiwa G30S/PKI tahun 1965, Indonesia mengalami gejolak politik yang sangat besar. Kondisi ekonomi memburuk drastis dengan inflasi mencapai ratusan persen, sementara situasi keamanan masih belum stabil. Di tengah keadaan tersebut, mahasiswa dan pelajar turun ke jalan menuntut perubahan mendasar. Gerakan yang dimotori oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau KAMI dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia atau KAPI ini kemudian melahirkan tuntutan yang sangat monumental. Tuntutan tersebut dikenal dengan istilah Tritura, yang menjadi titik balik sejarah kepemimpinan nasional Indonesia. Tritura tidak hanya sekadar gerakan mahasiswa biasa, tetapi menjadi representasi suara rakyat yang menginginkan perubahan nyata.
Pengertian dan Latar Belakang Tritura
Menurut artikel Peranan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia dalam Proses Peralihan Kepemimpinan Nasional Tahun 1965–1968 oleh Terra Erlina, Tritura atau Tri Tuntutan Rakyat adalah tiga tuntutan yang diajukan oleh gerakan mahasiswa dan pelajar Indonesia pada tahun 1966 sebagai bentuk aspirasi terhadap kondisi politik, ekonomi, dan pemerintahan yang tengah mengalami krisis.
Latar Belakang Munculnya Tritura
Kemunculan Tritura dilatarbelakangi oleh memburuknya situasi politik dan ekonomi Indonesia setelah peristiwa G30S. Di tengah meningkatnya inflasi, kelangkaan kebutuhan pokok, dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, mahasiswa dan pelajar menyuarakan tuntutan agar pemerintah segera mengambil langkah penyelesaian yang tegas.
Peran KAMI dan KAPI
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) menjadi motor utama gerakan Tritura. Melalui aksi demonstrasi dan tekanan politik, kedua organisasi tersebut berhasil menghimpun dukungan masyarakat untuk mendorong perubahan kebijakan pemerintah.
Kondisi Sosial-Ekonomi
Selain dipicu oleh ketegangan politik, Tritura juga lahir akibat memburuknya kondisi ekonomi. Lonjakan harga kebutuhan pokok serta menurunnya kesejahteraan masyarakat mendorong mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat untuk menuntut perubahan kebijakan pemerintah.
Isi Tiga Tuntutan Tritura dan Dampaknya terhadap Peralihan Kepemimpinan
Isi Tritura
Tritura terdiri atas tiga tuntutan utama, yaitu pembubaran PKI beserta organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya, perombakan Kabinet Dwikora agar bebas dari unsur yang dianggap terkait PKI, serta penurunan harga kebutuhan pokok yang saat itu membebani kehidupan masyarakat.
Demonstrasi Mahasiswa
Tuntutan Tritura disampaikan melalui berbagai aksi demonstrasi yang memuncak pada awal tahun 1966. Gelombang aksi tersebut berlangsung di Jakarta dan berbagai daerah lain, kemudian diikuti perjuangan konstitusional yang terus berlanjut hingga proses peralihan kepemimpinan nasional selesai.
Lahirnya Supersemar
Salah satu dampak penting dari menguatnya gerakan Tritura adalah lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada 11 Maret 1966. Melalui surat tersebut, Presiden Soekarno memberikan kewenangan kepada Letjen Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi memulihkan keamanan dan stabilitas negara.
Implementasi Tritura
Setelah keluarnya Supersemar, pemerintah mulai melaksanakan berbagai kebijakan yang sejalan dengan tuntutan Tritura, seperti pembubaran PKI, penataan kembali kabinet, serta upaya menstabilkan kondisi ekonomi yang saat itu mengalami kemerosotan.
Peralihan Kepemimpinan
Rangkaian peristiwa setelah Tritura berlangsung secara bertahap hingga menghasilkan perubahan kepemimpinan nasional. Setelah Supersemar diterbitkan pada 1966, Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden pada 1967 dan kemudian ditetapkan sebagai Presiden Republik Indonesia oleh MPRS pada 1968.
Dampak Tritura
Tritura memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan sejarah Indonesia karena mempercepat proses peralihan kepemimpinan nasional dari Orde Lama menuju Orde Baru. Selain itu, gerakan ini menunjukkan besarnya peran mahasiswa sebagai kelompok penekan (pressure group) dalam dinamika politik Indonesia pada masa tersebut.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia