Jenis Kelamin Chatbot: Laki-Laki, Perempuan atau Nirgender?

Merekam jejak-jejak teknologi yang semakin sulit dilepaskan dari aspek kehidupan manusia dan lingkungannya.
Tulisan dari Jejak Tekno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Chatbot (Foto : Techcrunch) Jika Siri diluncurkan sekarang, akankah dia didesain sebagai asisten perempuan yang agak lancang? Bisa jadi tidak. Meskipun karakteristik dari Alexa milik Amazon (2014), Siri milik Apple (2011) , dan Cortana milik Microsoft (2013) telah ditetapkan bertahun-tahun yang lalu, dunia terus berubah.
Startup bot yang baru berusaha menjauh dari karakteristik perempuan yang pandai merayu kepada campuran yang lebih nirgender.
Jenis kelamin bot bukanlah sebuah pertanyaan remeh. CEO Microsoft Satya Nadella menyebut bot sebagai “aplikasi baru” yang siap untuk memasuki kehidupan kita sehari-hari. Dalam laporan VentureBeat pada tahun 2016, ada lebih dari 30.000 chatbot baru yang diluncurkan, dan pertumbuhannya masih terus bertambah cepat sebab chatbot semakin merambah banyak sektor.
“Pemikiran yang berkembang adalah bot paling bagus adalah yang semirip mungkin dengan manusia,” ujar Dror Oren Chief Product Officer dan salah satu pendiri Kasisto. “Tapi ini keliru.” Bot perbankan Kasisto bernama Kai memberikan sebuah cara bagi perusahaan keuangan seperti Mastercard untuk menangani sekitar 80% percakapan konsumen daring tanpa melibatkan manusia sama sekali.
Oren percaya bahwa bot berjenis kelamin, memberikan jalan bagi kehadiran identitas “khusus robot” yang tidak mempunyai batasan gender sama sekali. “Dia tidak pernah berpura-pura menjadi manusia dan garis batasnya tidak pernah kabur,” ujarnya. Kasisto mengatakan bahwa bot mereka paling efektif dalam menjawab pertanyaan dan memberikan interaksi positif kepada konsumen apabila kepribadian mereka tetap berada di ranah kecerdasan buatan, ketimbang berusaha meniru manusia.
Dia menggambarkan Kai sebagai “seseorang” yang berwibawa, profesional, bersahabat, tak pernah membela diri dan lucu namun tidak pernah merayu seperti ditunjukkan percakapan berikut.

Chatbot Kai (Foto : Quartz)
Namun para programer masih bergelut dengan pertanyaan tentang bagaimana sebaiknya manusia membuat bot, menurut Dennis Mortensen yang merupakan pendiri x.ai yang meluncurkan bot penjadwalan Amy atau Andrew Ingram pada 2014. “Pertanyaan pertama yang muncul ketika membuat bot adalah pilihan membuat dia manusiawi atau tidak,” kata Mortensen. Menghindari pertanyaan ini, dia yakini hanya akan memindahkan beban ke pundak pengguna.
“Kami sangat yakin dengan ide dari pemanusiawian agen kecerdasan dan itu termasuk juga bagaimana kami secara terbuka menggambarkan jenis kelamin kepada kedua agen kami,” kata Mortensen. “Tapi sebagai sebuah industri, saya tidak yakin bahwa kita telah menyepakati pemanusiawian agen kami sebagai yang terbaik.”
Untuk saat ini, bot laki-laki dan perempuan adalah yang paling nampak jelas, meskipun keseimbangan gender masih terus berubah. Secara teknis baik Siri, Alexa maupun Cortana diidentifikasi sebagai nirgender.
Tyler Schnoebelen, manajer produk dari perusahaan kecerdasan buatan Integrate.ai telah menganalisa lebih dari 300 chatbot, asisten dan karakter di film kecerdasan buatan yang menyimpulkan jenis kelamin dari nama, avatar, dan kata ganti. Dia menemukan bahwa chatbot terbagi ke identitas laki-laki, perempuan, dan nirgender sementara itu perbedaan tajam hadir di bentuk aplikasi yang lain.

Distribusi gender aplikasi kecerdasan buatan (Foto : Quartz)
Peneliti kecerdasan buatan mengatakan bahwa asisten virtual menghabiskan banyak waktu mereka menangkis pelecehan seksual. Perusahaan teknologi telah mencoba banyak strategi untuk menghadapi masalah ini.
Dalam sebuah analisis yang dilakukan oleh Quartz pada awal tahun ini, Google dan Cortana adalah yang paling besar kemungkinannya menanggapi pelecehan dengan menunjukkan ketidakpahaman atau hasil pencarian web sedangkan Siridan Alexa akan lebih memilih untuk menghindari pertanyaan atau bahkan merespon secara positif.

Pelecehan seksual terhadap chatbot dan tanggapannya (Foto : Quartz)
Namun para pengguna kemungkinan akan mendorong perusahaan untuk memberikan jenis kelamin kepada kecerdasan buatan yang mereka ciptakan. Mortensen mengatakan x.ai telah menemukan pengguna yang menunjukkan preferensi untuk memilih lawan jenis ketika memilih asisten dan dengan cepat kembali menggunakan kata ganti bergender meskipun kedua bot berbicara dengan gaya yang sama.
“Desainer interaksi kecerdasan buatan milik kami kedua-duanya adalah perempuan,” tulisnya dalam surel. “Keduanya sangat sensitif terhadap stereotipe gender. Dan mereka berhasil mengembangkan suara bot yang membantah stereotipe tersebu. Tujuan kami adalah menawarkan pilihan jenis kelamin bot kepada para pengguna namun tetap memastikan semua kalimatnya adalah netral dan tak cenderung kepada satu jenis kelamin,” khususnya dengan berpegang pada fakta seperti waktu, tempat, dan lokasi tanpa banyak basa-basi.
