Kepercayaan yang Hilang, Bisakah Tumbuh Kembali?

Merekam jejak-jejak teknologi yang semakin sulit dilepaskan dari aspek kehidupan manusia dan lingkungannya.
Tulisan dari Jejak Tekno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saling percaya (Foto : Pexels)
Percaya kepada seseorang atau sesuatu dewasa ini kadang merupakan persoalan besar terutama dengan maraknya peredaran hoax di sekitar kita.
Rasa hati-hati yang awalnya hadir untuk menjaga diri kita dari informasi palsu, lama kelamaan bisa berubah menjadi rasa curiga.
Jika sudah seperti ini, bagaimana caranya untuk kembali menumbuhkan kepercayaan?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh Nicky Case yang membuat situs Ncase.

Ncase (Foto : istimewa)
Pada salah satu laman Ncase.me/trust kita diajak memahami bagaimana kesalahpahaman atau miskomunikasi menjadi ‘racun’ yang menumbuhkan rasa tidak percaya (distrust) dalam interaksi manusia sehari-hari.

Ncase ( Foto : Istimewa)
Nicky menggunakan sebuah teori dalam ilmu ekonomi khususnya yang mempelajari tentang perilaku manusia yang dikenal sebagai ‘Game Theory’.\
Game Theory menyederhanakan bentuk interaksi manusia ke dalam 4 kategori.
Yang pertama adalah saling bekerja sama yang hasilnya sama-sama menang, kedua saling mencurangi yang berujung sama-sama rugi, ketiga sama dengan keempat di mana salah satunya mencurangi yang lain. Besarnya untung rugi ini dikuantifikasi sehingga ‘manfaat’ terbesar didapat saat sama-sama menang, bukannya ketika salah satu mencurangi yang lain.
Di Ncase, ada beberapa kategori manusia yang dinilai dari bentuk perilakunya sehari-hari. Salah satunya adalah Si Tukang Tiru yang baik namun tidak naif. Mereka adalah orang-orang yang selalu meniru atau membalas setiap perbuatan yang diberikan kepadanya dengan cara yang kurang lebih sama. Kita baik kepada Si Tukang Tiru, maka dia baik kepada kita; begitu pula sebaliknya.

Ncase (Foto : istimewa)
Di ilustrasi Nicky, Si Tukang Tiru ini mulai mengalami masalah ketika terjadi miskomunikasi. Kesalahpahaman yang merugikan salah satu pihak di awal, justru berkembang menjadi permainan saling mencurangi.
Miskomunikasi inilah penyebab terbesar kenapa orang-orang begitu mudahnya kehilangan kepercayaan.
Nicky memberikan 3 kesimpulan dari iseng-isengnya ini:
1. Lakukan interaksi berulang kali.
Kepercayaan menjaga sebuah hubungan terus lestari, namun kita membutuhkan pengetahuan terkait kemungkinan adanya interaksi berulang di masa depan sebelum kepercayaan bisa tumbuh.
2.Kemungkinan semua senang
Kita harus memainkan non-zero-sum game, di mana interaksi antara pelaku di dalamnya memberikan kemenangan atau kesenangan bagi kedua belah pihak.
3. Rendahnya miskomunikasi
Jika level miskomunikasi sangat tinggi, kepercayaan akan runtuh. Namun jika terdapat sedikit miskomunikasi, adalah jauh lebih baik untuk menjadi pemaaf.
Selamat menumbuhkan lagi kepercayaan yang pernah hilang, dear pembaca Kumparan!
