Patreon, Tempat Para Fans Menunjukkan Dukungan Kepada Artis Anti-Mainstream Kesayangannya

Merekam jejak-jejak teknologi yang semakin sulit dilepaskan dari aspek kehidupan manusia dan lingkungannya.
Tulisan dari Jejak Tekno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Patreon (Foto : Patreon)
Jika menyebutkan nama seperti KickStarter atau Indiegogo, sebagian orang tentunya langsung paham tentang situs-situs penggalangan dana untuk memulai pengerjaan proyek kreatif supaya bisa dipasarkan ke masyarakat.
Ada satu nama yang relatif baru tapi bisa menarik perhatian pegiat industri kreatif seperti pembuat komik dan konten lainnya : Patreon.
Patreon didirikan pada tahun 2013 oleh Jack Conte bersama dengan Sam Yam. Conte adalah seorang musisi, pembuat film, penulis lagu, dan DJ; sedangkan Yam adalah ahli di bidang pembuatan web.
Nama Patreon diambil dari tradisi patronisme yang berkembang pada era Renaissance, yang melahirkan banyak karya besar seperti lukisan di Kapel Sistine buatan Michaelangelo.
Alasan mendirikan Patreon menurut sang CEO kepada The Verge adalah, “ Kami ingin melihat sepuluh tahun dari sekarang para remaja tumbuh sebagai orang yang yakin bahwa hidup sebagai pembuat konten profesional adalah sesuatu yang mungkin.”
Patreon adalah inkubator ideal bagi ceruk subkultur internet, di mana sekelompok kecil fans berdedikasi tinggi mendukung karya-karya yang mereka senangi. Model bisnis Patreon menempatkan fans bukan hanya sebagai konsumen namun anggota dari sebuah klub privat yang bebas dari kekangan selera mainstream.
Saat ini Patreon menjadi rumah bagi 50.000 pembuat konten kreatif dan lebih dari sejuta patron aktif.

Jack Conte CEO Patreon (Foto : ReCode)
Patreon masih mungil dibandingkan Kickstarter yang telah berhasil mendanai 128.000 program namun pertumbuhannya tergolong pesat.
Setengah dari patron maupun pembuat konten baru bergabung tahun lalu. Jumlah dana yang mereka fasilitasi pada 2017 telah mencapai 150 juta dolar, jauh melampaui 100 juta dolar yang mereka kelola selama tiga tahun sejak berdiri.
Sekarang Patreon berkembang hingga sanggup mendanai perusahaan media kecil. Complexly, perusahaan milik John dan Hank Green dari Vlogbrothers, mempunyai beberapa akun Patreon untuk menyokong tayangan-tayangan edukasional mereka di YouTube seperti Crash Course, SciShow, dan How To Adult.
Patreon juga lebih fleksibel dibandingkan Kickstarter sebab pembuat konten tidak secara spesifik menjanjikan sebuah produk akhir kepada patron. Ekspektasi yang berbeda antara artis dengan penyokong dana terhadap produk akhir tidak jarang menyebabkan kekecewaan bahkan kemarahan.
Patreon sendiri bukannya tidak memiliki sisi gelap.
Salah satunya saat seorang feminis melontarkan kritik kepada Patreon sebagai ‘tempat berlindung kaum anti feminisme dan pelecehan daring’, setelah seorang vlogger mendapat 5000 dolar dari Patreon.
Keterbukaan yang menjadi prinsip Patreon, selain menjadi jalan untuk pegiat industri kreatif masuk ke pasar, dia juga membuka pintunya terhadap orang-orang yang berpandangan busuk terkait ras, gender, dan seksualitas. Kelompok tersebut dapat mudah menyetir opini dengan berlagak sebagai gerakan anti kemapanan dan meminta donasi di Patreon.
Meskipun demikian, Patreon tak pelak mencerminkan serta menguatkan keberadaan dari struktur komunitas yang teratomisasi. Dalam sisi termuramnya, Patreon membuat ujaran kebencian menjadi lebih nyaring bunyinya, tapi mereka juga bisa menjadi ladang subur bagi tumbuhnya karya orang-orang yang terlempar dari selera pasar.
Dan jangan sekali-kali menyebut Patreon sebagai tempat pemberian tip, sebab Conte sangat membencinya seperti yang dia sampaikan saat diwawancara oleh ReCode.
