Marketplace Barang Bekas Jepang Incar Amerika Setelah Jadi Unicorn

Merekam jejak-jejak teknologi yang semakin sulit dilepaskan dari aspek kehidupan manusia dan lingkungannya.
Tulisan dari Jejak Tekno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mercari (Foto : VentureBeat)
Operator aplikasi barang loak Jepang, Mercari mengincar ekspansi ke Amerika setelah ronde pendanaan terbaru melejitkan valuasinya ke lebih dari USD 2 milyar, demikian disampaikan CEO sekaligus pendirinya kepada Reuters.
Mercari menawarkan lapak daring bagi individu yang ingin menjual barang bekasnya lewat aplikasi ponsel di Jepang, Inggris, dan Amerika yang operasional lokalnya dipimpin oleh John Lagerling yang sempat bekerja di Facebook.
Berdiri tahun 2013, Mercari adalah contoh langka unicorn alias perusahaan dengan nilai melampaui USD 1 milyar yang berasal dari Jepang.
“Kami tidak bisa sukses di tingkat global jika tidak berhasil di Amerika,” kata Shintaro Yamada dalam sebuah wawancara.
“Jika sebuah layanan diterima di Amerika, maka dia cenderung akan berhasil secara universal.”
Mercari menghimpun dana USD 47 juta bulan lalu yang menjadikan valuasinya USD 2,37 milyar atau naik dua kali lipat pendanaan besar yang mereka raih dua tahun lalu saat investor seperti Mitsui & Co dan Development Bank of Japan turut ambil bagian.
Mercari tidak mengungkap siapa saja para penyandang dana yang sekarang terlibat.
Perusahaan tersebut mengajukan dirinya untuk masuk Tokyo Stock Exchange bulan Juli silam dan sedang berupaya melakukan penawaran saham perdana tahun ini guna membiayai ekspansi ke luar negeri.
Yamada menolak berkomentar tentang kapan tepatnya rencana tersebut akan dieksekusi.
Di Amerika, Yamada menyebut Mercari ‘tidak punya pesaing langsung’ yang secara eksklusif berkonsentrasi untuk purna jual orang ke orang barang keperluan sehari-hari, tidak seperti misalnya eBay yang juga menjual bekas aset perusahaan.
Aplikasi Mercari telah diunduh lebih dari 30 juta kali di Amerika, masih tertinggal dibanding Jepang yang mengunduh hingga 60 juta kali.
