Tokoh Tekno - Reed Hastings, CEO Netflix yang Juga Pemerhati Pendidikan

Merekam jejak-jejak teknologi yang semakin sulit dilepaskan dari aspek kehidupan manusia dan lingkungannya.
Tulisan dari Jejak Tekno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Reed Hastings (Foto : Business Pundit)
Wilmot Reed Hastings, Jr. adalah seorang pebisnis berdarah Amerika dan seorang filantropis. Reed merupakan pendiri dan CEO Netflix yang juga menjadi anggota dewan direksi Facebook dan beberapa organisasi nirlaba lainnya.
Setelah lulus SMA, Reed mengikuti pendidikan calon perwira Marinir melalui Kelas Pemimpin Peleton dan menghabiskan musim panas 1981 di Quantico.
Lulus kuliah di Bowdoin College, Hastings masuk Korps Perdamaian dengan alasan mencari petualangan sekaligus memberikan pelayanan dan mengajar matematika untuk sma di Swaziland selama dua tahun.
Reed banyak berterimakasih kepada perjalanannya saat di Korps Perdamaian yang membangun jiwa pebisnisnya.
“Sekali saja kamu bertualang melintasi Afrika dengan hanya 10 dolar di kantongmu, memulai sebuah bisnis sepertinya tidak terlalu mengintimidasi.”
Sekembalinya dari Korps Perdamaian, Reed masuk Stanford University. Dia lulus tahun 1988 dengan gelar master di sains komputasi.
Hasting mendirikan perusahaan pertamanya, Pure Software setelah keluar dari tempat kerjanya; Adaptive Technology pada tahun 1991.
Perusahaan yang tumbuh dengan cepat ini membuat Reed kerepotan sebab dia lemah dalam hal pengalaman manajerial. Tahun 1995 Pure Software masuk bursa saham, dan di titik inilah Reed merasa dirinya telah berubah dari seorang insinyur menjadi CEO.
Setahun setelahnya, Pure Software merger dengan Atria Software dan berganti nama menjadi Pure Atria. Tahun 1997 Pure Atria dibeli oleh Rational Software yang justru membuat harga sahamnya merosot tajam.
Reed kemudian memutuskan keluar meskipun ditunjuk menjadi CTO perusahaan gabungan tersebut.
Ada jeda dua tahun yang dipakai oleh Reed untuk memikirkan bagaimana caranya menghindari masalah-masalah yang dia temui sebelumnya, untuk kemudian membuat startup baru.

Reed Hastings (Foto : Business Insider)
Tahun 1997 Reed dan Marc Randolph mendirikan Netflix, dengan menawarkan tarif flat untuk penyewaan film menggunakan surat kepada penduduk Amerika Serikat. Netflix yang bermarkas di California mengumpulkan 100.000 judul dan mendapatkan 93 juta pelanggan.
“Saya mendapatkan ide tentang Netflix setelah perusahaan saya dibeli,” kata Reed. “Saya terkena denda yang cukup besar untuk film Apollo 13 karena terlambat 6 minggu. Saya lupa di mana menyimpannya, dan terpaksa membayar penyewaan video sebanyak 40 dolar. Saking malunya, saya tidak memberitahu istri saya. Belakangan, saat pergi ke gim, saya menyadari mereka mempunyai model bisnis yang lebih baik.”
Reed mengatakan bahwa saat dia membuat Netflix dia tidak tahu apakah konsumennya akan menggunakan layanannya. “Netflix pada awalnya adalah layanan penyewaan tunggal, namun model berlangganannya adalah salah satu ide yang kami punya; dengan kata lain tidak ada momen “Aha!”. Dengan memiliki masa tenggat yang tak terbatas dan tidak ada denda keterlambatan adalah sesuatu yang sangat hebat dan sekarang baru jelas, bahwa pada waktu itu kami tidak tahu apakah konsumen akan mau mendaftar daring apalagi mengantri.”
Setelah pengalamannya di Pure Atria, Reed cukup memperhatikan urusan pertumbuhan perusahaan. Mendirikan perusahaan hiburan menjadi tujuan publiknya, sedangkan tujuan pribadinya adalah mendirikan perusahaan yang tumbuh dengan cepat tanpa kehilangan semangatnya di dalam proses.
Reed juga merupakan pemerhati masalah pendidikan yang terus mendorong perubahan melalui charter school. Dia sempat bergabung dengan California State Board of Education sebagai salah satu bentuk perjuangannya.
