Peserta UTBK Curang: Ketika Ambisi Menyalip Etika

Mahasiswa UNIKA
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari jelitalumbanraja98 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa yang pernah ikut UTBK, saya turut prihatin dengan kabar maraknya peserta UTBK curang yang mencuat ke publik baru-baru ini. Di tengah tekanan dan persaingan ketat masuk perguruan tinggi negeri, ada yang memilih jalur tak jujur demi satu kursi kampus impian.
UTBK bukan hanya tes akademik, tetapi ujian karakter. Ketika seseorang memilih untuk berbuat curang dalam UTBK, ia tak hanya menipu sistem, tapi juga menodai nilai kejujuran yang seharusnya dijunjung tinggi dalam dunia pendidikan. Jika sejak awal sudah berlaku curang, bagaimana masa depan etika akademiknya kelak?
Tekanan dari orang tua, persaingan tidak sehat, serta glorifikasi "kuliah di PTN favorit" membuat sebagian orang nekat menghalalkan segala cara. Belum lagi ada sindikat penyedia jasa joki dan alat bantu kecurangan yang membuat praktik ini makin marak. Ini bukan hanya soal individu, tapi juga soal sistem yang belum cukup ketat.
Pihak penyelenggara UTBK dan Kemendikbudristek harus memperkuat sistem pengawasan dan menjatuhkan sanksi tegas bagi peserta UTBK curang. Teknologi bisa menjadi solusi, tapi pendidikan karakter sejak dini adalah akar dari pencegahan jangka panjang.
Sebagai mahasiswa, saya percaya bahwa jalan yang jujur memang tidak instan, tapi hasilnya lebih berharga. Mari kita sebagai generasi muda berhenti mengagungkan hasil semata dan mulai menghargai proses. Kecurangan UTBK adalah bentuk kegagalan moral yang tak bisa dibenarkan, dan sudah saatnya kita bersikap lebih tegas terhadap hal ini.
Jelita Lumbanraja,Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas,Medan.
