Konten dari Pengguna

Modal 10 Menit! Cara Cerdas Dosen Milenial Pilih Jurnal Scopus Berbasis Data

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jemmy Jonson Sula Dethan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis: Dr. Ir. Jemmy J. S. Dethan, MP

Dosen Program Studi Mekanisasi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Kupang-NTT

Basi seorang dosen atau peneliti, publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi bukan lagi sekadar kewajiban administratif demi angka kredit. Ini adalah pertaruhan reputasi akademik jangka panjang. Sayangnya, tidak sedikit rekan dosen yang terjebak menyubmit naskah mereka ke jurnal yang salah—entah karena proses review yang tidak transparan, atau lebih buruk lagi, jurnal tersebut mendadak didepak (discontinued) dari indeks Scopus karena terindikasi predatory setelah memungut biaya publikasi yang mahal.

Untuk menghindari kerugian waktu, pikiran, dan biaya, dosen harus bertransformasi menjadi peneliti yang berbasis data (data-driven researcher). Salah satu alat navigasi gratis terbaik untuk mengaudit kesehatan suatu jurnal adalah dengan membedah visualisasi grafik pada platform SCImago Journal & Country Rank (www.scimagojr.com).

Sebagai contoh konkret, mari kita bedah dan bandingkan dua jurnal nyata di bidang teknik lingkungan/ekologi (sebut saja Jurnal A: Environment and Ecology Research dan Jurnal B: Ecological Engineering and Environmental Technology / EEET) berdasarkan data grafik SJR terbaru:

💡 4 Langkah Cerdas Dosen Milenial Membedah Grafik SJR

1. Intip Tren Grafik SJR (Bukan Sekadar Label Quartile)

Jangan hanya terpaku pada label Q1, Q2, atau Q3. Status kasta tersebut bersifat dinamis dan diperbarui setahun sekali. Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah melihat grafik SJR historisnya. Jurnal Q3 yang kurva grafiknya stabil merangkak naik secara linear (seperti Jurnal B) jauh lebih aman dipilih dibandingkan jurnal Q2 yang grafik nilai SJR-nya sedang menukik tajam ke bawah.

Foto: Tangkapan Layar Scimago JR

2. Audit Rasio Dokumen yang Tidak Disitasi (Uncited Documents)

Geser layar SCImago Anda ke bawah hingga menemukan grafik Cited documents vs Uncited documents atau jenis dokumennya. Perhatikan porsi warna merah di bagian bawah. Jika warna merah membengkak tebal (seperti contoh pada Jurnal A), artinya banyak artikel di jurnal tersebut yang "mati" dan tidak pernah dirujuk oleh peneliti lain.

Sebaliknya, mari kita perhatikan grafik Jurnal B (EEET). Meskipun area berwarna merah (uncited documents) di jurnal ini juga ikut naik seiring bertambahnya volume publikasi, namun proporsinya tetap terjaga secara seimbang di bawah area hijau (cited documents). Berbeda dengan Jurnal A yang area merahnya hampir memakan setengah total dokumen, Jurnal B menunjukkan bahwa mayoritas mutlak artikel yang mereka terbitkan tetap berhasil mendapatkan sitasi aktif dari komunitas peneliti global. Rasio pertumbuhan sitasi yang sehat dan seimbang seperti pada EEET inilah yang disukai oleh Scopus untuk mempertahankan keberlanjutan indeks sebuah jurnal.

Foto: Tangkapan Layar Scimago JR

3. Waspadai Bom Waktu Manipulasi Sitasi (Self-Citations)

Grafik ketiga yang bersifat krusial untuk mendeteksi integritas jurnal adalah Total Cites vs Self-Cites. Jika Anda melihat garis merah (Self-Cites) melonjak tajam ke atas mendekati garis hijau (Total Cites), segera mundur teratur. Kondisi ini mengindikasikan adanya indikasi manipulasi sitasi demi mendongkrak skor secara buatan. Jurnal yang sehat akan selalu menampilkan garis merah yang konsisten berada di dasar grafik secara flat (seperti Jurnal B).

Foto: Tangkapan Layar Scimago JR

4. Cek Konsistensi Volume Penerbitan (Total Documents)

Terakhir, periksalah grafik Total Documents tahunan. Jurnal ilmiah yang kredibel umumnya memiliki kuota penerbitan yang ajek dan tumbuh secara terukur. Hati-hati dengan fenomena jurnal yang tiba-tiba melipatgandakan jumlah artikel yang terbit hingga ribuan dalam waktu singkat. Lonjakan volume penerbitan yang agresif sering kali menjadi indikator awal bahwa jurnal tersebut mulai berorientasi pada komersialisasi biaya publikasi (Article Processing Charge / APC) dan mengorbankan kualitas ilmiah.

Foto: Tangkapan Layar Scimago JR

Kesimpulan & Panggilan Aksi

Memilih tempat untuk memublikasikan karya tulis ilmiah sejatinya mirip dengan menaruh investasi jangka panjang. Dosen tidak boleh lagi hanya mengandalkan intuisi, kata orang, atau sekadar ikut-ikutan rekan sejawat.

Dengan meluangkan waktu sekitar 10 menit untuk membedah data visual secara teliti pada platform SCImago, dosen dapat secara mandiri memetakan risiko dan memastikan bahwa buah pemikiran ilmiah mereka abadi di panggung internasional yang aman.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda punya pengalaman unik atau sempat hampir terjebak di jurnal yang grafiknya 'lampu kuning' seperti Jurnal A di atas? Atau mungkin Anda punya tips tersendiri dalam memilah jurnal Q3 yang aman? Yuk, bagikan cerita, pendapat, atau pertanyaan Anda di kolom komentar di bawah! Mari kita saling berdiskusi dan berbagi strategi demi kemajuan akademik dosen Indonesia (Jemmy Dethan, UKAW).