Apa itu AHA BHA dalam Skin Care? Panduan Lengkap bagi Pemula

Menyajikan informasi untuk menginspirasi dan menambah wawasan pembaca
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jendela Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekarang ini tentunya nama AHA BHA sudah tidak asing lagi bukan di telinga kita, terutama kaum hawa yang sering menggunakan skin care. Namun, apakah sebetulnya kita sudah paham betul apa itu AHA BHA? Atau mungkin selama ini kita sudah menggunakannya pada rangkaian skin care tanpa mengetahui fungsinya?
Bagi para pemula, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu fungsi AHA BHA agar kita tidak salah dalam menggunakannya. Setelah mengetahuinya, baru kita dapat memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan kulit kita saat ini.
Apa itu AHA BHA dalam Skin Care?
Alpha Hydroxy Acid
Menurut buku Cantik: Panduan Lengkap Merawat Kulit, dr. Juni Prianto, (2014:155-159), terdapat beberapa sumber yang dapat menghasilkan AHA. Zat ini dapat dikestraksi dari beberapa jenis buah-buahan, dan hasilnya sering dikenal sebagai asam buah atau fruit acid.
Asam glikolat adalah golongan asam alfa hidroksi yang sering digunakan secara umum. Asam glikolat ini biasanya dapat ditemukan dalam bentuk kosmetik maupun obat. Terdapat 3 jenis konsentrasi yang dapat kita temui dalam produk mengandung asam glikolat ini:
Konsentrasi rendah. Umumnya persentasi yang digunakan hingga 10%. Konsentrasi ini dapat ditemukan pada kosmetik yang dijual bebas di pasaran. Efek yang diharapkan adalah mendesak sel kulit mati untuk melepaskan ikatan dengan sel kulit baru yang dibentuk, sehingga bagian kulit mati akan terkelupas dan tampak kulit muda yang lembut. Asam glikolat memiliki efek menyerap air dari luar kulit yang menyebabkan kulit menjadi lebih lembap dan lembut. Selain itu, efek lain yang dapat dilihat dari penggunaan zat ini adalah anti-inflamasi, memutihkan kulit, memperbaiki tekstur kulit dari kerusakan oleh sinar matahari, dan mengurangi garis penuaan di atas kulit.
Konsentrasi sedang. Pada penggunaan unsur hingga 50% ini tentunya harus dalam pengawasan dokter kulit. Setelah pemakaian selama beberapa bulan, akan terlihat perbaikan di bagian epidermis. Tekstur dan sel kulit terlihat lebih seragam, bagian atas kulit lebih halus, dan garis penuaan pun berkurang. Kulit akan terlihat lebih cerah merata.
Konsentrasi tinggi. Dapat digolongkan sebagai konsentrasi tinggi apabila batas penggunaannya hingga 70%. Mekanisme kerja dari penggunaan konsentrasi tinggi ini adalah mengelupasnya bagian atas kulit sehingga bagian bawah kulit akan berkembang dan menggantikan tempat yang baru. Maka dari itu, akan terlihat kulit muda yang sehat dan segar. Pada bagian bawah epidermis, akan terlihat adanya pembentukan sel kolagen dan elastin muda.
Faktor-faktor lainnya yang perlu diperhatikan dalam penggunaan asam alfa hidroksi:
Bagi yang memiliki kulit sensitif, dianjurkan untuk melakukan tes sensitivitas kulit terlebih dahulu. Apabila muncul tanda kemerahan dan rasa panas, maka kulit sensitif terhadap unsur tersebut dan jangan teruskan pemakaian.
Pemakaian AHA pertama kali dimulai dari konsentrasi rendah, tergantung pada sediaan yang tersedia dan tes sensitivitas kulit.
Pemakaian dimulai dari sehari sekali kemudian dapat diteruskan jadi dua kali sehari apabila tidak terlihat tanda iritasi pada kulit.
Setelah pemakaian beberapa minggu, konsentrasi zat dapat dinaikan.
Pemakaian AHA harus disertai dengan penggunaan tabir surya dan dilakukan secara berulang.
Sediaan yang dibuat untuk AHA harus disesuaikan dengan jenis kulit si pemakai.
Beta Hydroxy Acid
Disadur dari buku berjudul Pengelupasan Kulit secara Kimiawi, Sinta Murlistyarini, (2015:40-43), BHA adalah asam organik sederhana, yang menyerupai asam alfa hidroksi dalam struktur biomekanikal. BHA dapat dijumpai pada tumbuhan tertentu seperti pada pohon willow bark.
Contoh BHA adalah asam salisilat, asam tropic, asam tretokanat, dan asam β-hidroksibutanoat. Asam salisilat adalah golongan BHA yang paling sering digunakan dalam bidang dermatologi.
BHA memiliki beberapa mekanisme kerja yang dapat digunakan dalam dermatologi, yaitu:
BHA merupakan komponen yang larut dalam lemak sehingga mampu berpenetrasi lebih dalam pada kulit berminyak, dapat menginfiltrasi jauh ke dalam pori-pori kulit yang mengandung sebum dan mengeluarkan material yang menutupi glandula sebasea dan folikel rambut.
BHA bersifat keratolitik, yang artinya dapat menghancurkan dan mengeliminasi keratin, mengilangkan sel kulit mati, serta mengurangi adhesi sel pada epidermis atas, sehingga sel muda epidermis dapat naik ke lapisan atas.
Disebut bersifat desmolitik karena memiliki kemampuan menurunkan kohesi korneosit pada seluruh ketebalan stratum korneum melalui mekanisme perusakan ikatan desmosomal dan denaturasi glikoprotein.
Memengaruhi kaskade asam arakidonat sehingga mempunyai kemampuan sebagai anti peradangan, namun kurang iritatif apabila dibandingkan dengan AHA.
Asam salisilat dapat digunakan pada semua tipe kulit, bahkan yang memiliki kecenderungan terjadi hiperpigmentasi pasca inflamasi.
Asam salisilat memiliki pKa yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan AHA, sehingga diperlukan pH yang rendah untuk mengoptimalkan bioavailabilitas asam salisilat.
Karena memiliki pH yang rendah, maka hal ini akan meningkatkan risiko iritasi pada kulit, walau risiko ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan AHA.
Pengelupasan asam salisilat dapat diberikan untuk indikasi perawatan kulit berminyak, terapi tambahan untuk jerawat, perubahan tekstur kulit, mesalma dan hiperpigmentasi pasca inflamasi, bitnik-bintik, lentigines, perubahan pigmentasi, dan perubahan penuaan pada tangan.
Nah, sekarang sudah paham kan kegunaan AHA BHA pada kulit? Jadi, sudah tahu apakah AHA atau BHA yang harus kalian gunakan dalam perawatan wajah?
