Embung Potorono Jogja: Sejarah, Tradisi, dan Fasilitas

Menyajikan informasi untuk menginspirasi dan menambah wawasan pembaca
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Jendela Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Embung Potorono memang masih terdengar asing di kalangan wisatawan, khususnya di luar Jogja. Karena peruntukan awal pembangunan wisata yang terletak di Banguntapan, Bantul ini memang difungsikan sebagai penampung air.
Seiring waktu waktu, lokasi ini berkembang menjadi destinasi wisata murah untuk keluarga. Dari pusat Kota Jogja, pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi. Kondisi jalan mayoritas sudah beraspal, hanya beberapa titik saja yang masih sedikit kerikil.
Sejarah dan Tradisi Unik di Embung Potorono
Dikutip visitingjogja.jogjaprov.go.id, saat musim kemarau tiba, daerah di sekitar wilayah Banguntapan kesulitan air bersih. Maka dari itu dibangunlah Embung Potorono.
Tempat ini berkembang menjadi destinasi wisata murah meriah bagi warga lokal. Duduk saat petang hari sambil menyaksikan pemandangan embung, cukup membuat pikiran terasa lega.
Berikut ini tradisi dan sejarah yang menarik diketahui serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial warga sekitar.
1. Sejarah Singkat
Saat musim kemarau tiba, kekeringan melanda masyarakat Desa Salakan. Jadi, pada tahun 2017 ada inisiatif untuk menggali tanah untuk membangun waduk yang mana malah muncul sumber air alami.
Umumnya embung yang biasanya berasal dari air hujan, tapi yang satu ini berasal dari sumber air alami. Airnya akan terus ada hingga kapanpun karena akan terus terisi dari sumber alami.
2. Tradisi Mapag Toya
Mapag Toya berarti menjemput air. Tradisi ini mulai dilakukan dari tahun 2018 hingga sekarang. Mapag toya adalah prosesi penjemputan air dari sungai Tambak Boyo yang dimasukkan ke dalam kendi, lalu diarak bersama dengan gunungan hasil bumi.
Tradisi ini sebagai salah satu simbol ungkapan syukur atas air yang begitu berlimpah. Ini menjadi gerakan yang baik untuk bisa mengajak orang-orang menghargai keberadaan air.
3. Fasilitas
Karena telah berkembang menjadi destinasi wisata, pengelola berinisiatif terus memperbaiki apa yang ada, salah satunya terkait hiburan keluarga. Di lokasi ini ada beberapa destinasi wisata air.
Beberapa di antaranya seperti perahu air, wahana anak, jalur lari, tempat istirahat, musala, dan masih banyak lagi. Dalam acara tertentu juga sering diadakan pameran produk UMKM dengan hiburan musik yang berdampak pada peningkatan ekonomi warga.
4. Dampak Positif
Tempat wisata ini memberikan dampak positif yang begitu terlihat bagi warga sekitar. Baik dari sisi sosial maupun ekonomi karena langsung dikelola oleh BUMDes setempat.
Embung ini juga menjadi salah satu tempat yang asik untuk berkumpulnya berbagai macam komunitas. Biaya masuk tempat ini murah, Rp5000 per orang.
Baca Juga: Tiket Masuk Embung Kledung, Jam Operasional, dan Informasi Lainnya
Bagi warga Jogja dan wisatawan yang ingin mengunjungi Embung Potorono ini bisa datang di jam buka mulai pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB. Pengunjung bisa menikmati rekreasi murah dengan fasilitas yang ada.(EvE)
