Pulau Kumala Tenggarong: Sejarah, Legenda, dan Panduan Kunjungan

Menyajikan informasi untuk menginspirasi dan menambah wawasan pembaca
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Jendela Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pulau Kumala Tenggarong memiliki letak yang unik di tengah Sungai Mahakam. Ternyata, tak hanya punya daya tarik wisata yang beragam, Pulau Kemala juga banyak cerita menarik di baliknya.
Banyak orang datang ke pulau ini untuk liburan. Namun, ada juga yang datang karena penasaran dengan legenda-legendanya.
Sejarah dan Legenda Pulau Kumala Tenggarong
Pulau Kumala Tenggarong terletak di tengah Sungai Mahakam dan dulunya hanyalah delta biasa. Dikutip dari buku Perairan di Permukaan Bumi, Sema Gull, (2007: 23), delta sungai adalah endapan aluvium muara sungai yang terletak di lautan terbuka, pantai, atau danau.
Soal asal-usulnya, ada beberapa versi cerita rakyat. Salah satunya dikatakan kalau pulau ini muncul dari kapal penjajah yang tenggelam di Sungai Mahakam, lalu berubah jadi daratan.
Versi lain menyebut Pulau Kumala berkaitan dengan kisah Putri Kumala atau Putri Karang Melanu yang dikisahkan hidup bersama makhluk bernama Lembuswana dan naga Erau. Lembuswana dipercaya sebagai penjaga Sungai Mahakam, bentuknya unik. Tubuhnya seperti kerbau, kepala seperti kuda, dan bertanduk mirip badak.
Karena itu, patung naga dan Lembuswana jadi ikon utama di pulau ini. Putri Kumala sendiri konon menikah dengan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti dan menjadi leluhur para raja Kutai Kartanegara.
Jembatan Repo-Repo dan Panduan Kunjungan ke Pulau Kumala Tenggarong
Pada 2002, pemerintah daerah mulai membangun Pulau Kumala Tenggarong jadi kawasan wisata. Saat itu, pengunjung bisa menyeberang ke pulau pakai perahu atau kereta gantung. Tahun 2016, jembatan ke Pulau Kumala dibangun, dan minat wisatawan pun meningkat untuk mengunjungi pulau ini.
Jembatan tersebut dinamakan Jembatan Repo-Repo, penghubung antara daratan Tenggarong dan Pulau Kumala. Panjangnya sekitar 230 meter dan hanya boleh dilintasi pejalan kaki.
Spot ini juga cocok banget buat lihat pemandangan Sungai Mahakam, apalagi kalau sore hari. Dari sini, Jembatan Kukar pun terlihat jelas di kejauhan. Malamnya, Jembatan Repo-Repo makin cantik karena dihiasi lampu warna-warni.
Nama Repo-Repo berarti gembok. Banyak yang memasang gembok bertuliskan nama di pagar jembatan.
Di Pulau Kumala, juga ada Rumah Lamin, rumah adat suku Dayak yang besar dan megah. Rumah ini sekaligus jadi tempat edukasi budaya Dayak di Kalimantan Timur.
Untuk masuk ke Pulau Kumala, harga tiketnya Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak. Tiket bisa dibeli langsung di loket resmi. Jam bukanya dari pukul 09.00 sampai 17.00 WITA.
Pulau ini berada di Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dari Jalan KH Ahmad Muksin, tinggal menyeberang lewat Jembatan Repo-Repo tadi untuk sampai ke lokasi.
Baca juga: Danau Labuan Cermin, Danau dengan Dua Rasa di Kalimantan Timur
Pulau Kumala Tenggarong memang beda. Lokasinya di tengah sungai, banyak cerita rakyat, dan punya tempat-tempat seru buat dikunjungi. (CR)
