Konten dari Pengguna

Di Antara Kata Yang Tak Selesai: Luka Dalam Lagu Ada Titik-Titik di Ujung Doa

Jenita Rahma

Jenita Rahma

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Mulawarman

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jenita Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yang tak selesai, justru paling terasa seperti doa yang berhenti di ujung kata.sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Yang tak selesai, justru paling terasa seperti doa yang berhenti di ujung kata.sumber: Pexels

Terkadang ada perasaan yang pernah muncul dan tidak pernah benar-benar selesai. Bukan karena perasaan itu tidak ingin dituntaskan, tapi karena kata-kata yang keluar sering kali tidak cukup untuk menampung semuanya. Perasaan seperti itu yang biasanya hanya berhenti di tengah jalan, menggantung, diam, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

Lagu Ada Titik-Titik di Ujung Doa karya Sal Priadi terasa seperti itu. Ia tidak hadir sebagai cerita yang utuh, melainkan ia hadir sebagai serpihan rasa yang sengaja dibiarkan tidak lengkap. Tidak ada penjelasan panjang akan hal itu, tidak ada pula dramatisasi berlebihan. Yang ada hanyalah jeda dan kesunyian dari kata-kata yang seolah berhenti sebelum semuanya benar-benar selesai.

Dalam potongan liriknya memberikan kesan dari sebuah doa yang tidak selalu nampak utuh, seolah ada pesan yang tertinggal di ujungnya, yaitu sebuah perasaan yang ingin disampaikan tapi ternyata tertahan begitu saja.

Dari kacamata stilistika, justru di situlah kekuatan lagu ini berada dengan membiarkan semua luka itu terasa. Kata demi kata yang dilontarkan menjadi ruang bagi pendengar untuk mengisi maknanya sendiri. Tidak ada batasan yang berlaku sehingga siapapun bisa masuk dan merasa bahwa lagu ini sedang berbicara tentang dirinya.

“Titik-titik” dalam judulnya menjadi penanda yang berkesan dalam kehidupan sehari-hari, tanda itu sering kita gunakan saat tidak mampu melanjutkan kalimat, saat ada sesuatu yang tertahan, atau saat kita memilih diam daripada menjelaskan. Dalam lagu ini, titik-titik inilah yang menjadi representasi dari doa yang tidak pernah benar-benar selesai dan perasaan yang tidak sempat diucapkan.

Menariknya, Sal Priadi menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti untuk menyampaikan maksud dari setiap kata pada lagunya. Namun dari kesederhanaan itulah muncul kejujuran. Lagu ini tidak terasa seperti sebuah “karya” yang dibuat untuk didengar, melainkan seperti perasaan yang kebetulan terdengar.

Kesunyian dalam lagu ini juga bukan sekadar latar, kesunyian itulah yang menjadi bagian dari makna itu sendiri. Tidak banyak yang diucapkan, tetapi justru yang tidak diucapkan itulah yang paling terasa. Seolah-olah ada sesuatu yang ingin keluar tetapi tertahan tepat di batas kata-kata. Dalam kacamata stilistika, disini menunjukkan bahwa rasa ketiadaan dan kekosongan bisa menjadi bentuk ekspresi yang sama kuatnya dengan kata.

Mungkin karena itu lagu ini seperti dapat mewakili perasaan banyak orang. Ia tidak mengarahkan pendengar pada satu makna tertentu yang pasti. Sal Priadi memberikan kebebasan untuk berbagai pendapat akan kemungkinan yang bisa terjadi. Setiap orang bisa menemukan lukanya sendiri di dalamnya. Setiap orang bisa merasa bahwa lagu ini memahami sesuatu yang bahkan sulit ia jelaskan.

Pada akhirnya, lagu Ada Titik-Titik di Ujung Doa oleh Sal Priadi berisi tentang hal-hal yang tidak pernah benar-benar sampai hingga akhir. Tentang kata yang berhenti di tengah, tentang rasa yang tidak sempat diungkapkan, dan tentang luka yang diam-diam tetap hidup. Dan mungkin, di antara kata-kata yang tidak selesai itu, justru kita menemukan bagian diri yang paling jujur.