Konten dari Pengguna

Gen Z Menikah Muda: Siap Melangkah atau Hanya Takut Sendirian?

Jennifer Bunga

Jennifer Bunga

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Anggota Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jennifer Bunga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: Pixabay/qimono
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Pixabay/qimono

Sebagai bagian dari Generasi Z, Belakangan ini, pernikahan muda kembali ramai jadi topik. Di timeline media sosial, ataupun di kehidupan sehari-hari kita melihat teman-teman sebaya yang sudah menikah di usia remaja seperti 20-an awal, bahkan belum menyelesaikan pendidikan. Alasan dari berbagai pasangan sangat beragam seperti menghindari zina, bahkan sudah merasa sangat cocok pada satu sama lain. Padahal dari berbagai alasan tersebut, banyak dari mereka yang pada akhirnya menyerah di tengah jalan. Bercerai di usia muda dan menyebabkan trauma emosional pada diri sendiri.

Apakah sebenarnya kita sudah siap menikah atau hanya takut sendirian saja?

Saya tidak anti pernikahan muda. Namun saya percaya bahwa pernikahan, muda atau tua, butuh kesiapan dan kedewasaan dan itu bukan soal umur saja. Banyak pasangan muda yang bercerai bukan karena tidak saling cinta, tapi karena mereka sebenarnya tak punya cukup kesiapan mental untuk menghadapi kenyataan hidup bersama.

Mari berfikir realitis saja, Apakah mungkin dua individu yang masih bergantung pada orang tua masing-masing bisa mengelola rumah tangga? Lalu Belum punya penghasilan tetap begitu pun belum paham cara mengelola keuangan, dan belum tahu bagaimana menyelesaikan konflik secara dewasa lalu berharap pernikahan berjalan lancar?

Kita sering lupa, menikah tidak menyelesaikan masalah tapi kadang justru memperjelas tidak siap yang selama ini disembunyikan dan di usia muda, ketidaksiapan itu sering datang dari ketidakstabilan emosi dan ekonomi.

Antara Cinta dan Realita

Banyak pasangan muda yang menikah karena cinta. Tapi sayangnya, cinta saja tidak cukup. Ketika fase “kupu-kupu di dalam perut” lewat, dan kita dihadapkan pada realita sehari-hari, dan yang dibutuhkan adalah kedewasaan, bukan sekadar rasa sayang.

Bertengkar soal uang, soal waktu, soal pembagian tanggung jawab. Semua itu nyata dan bisa sangat menguras mental. Kalau belum siap, apa yang awalnya manis bisa berubah jadi beban.

Jangan Takut Menunda

Kita perlu cukup waktu untuk mengenal diri sendiri, menyelesaikan luka lama, dan membangun pondasi hidup yang lebih kuat. Menikah bukan kompetisi. Bukan ajang pamer di media sosial.

Menikahlah Karena sudah Siap, Bukan karena takut ketinggalan, Generasi kita sering merasa harus cepat dalam segala hal. Tapi dalam hal pernikahan, cepat bukan jaminan bahagia. Lebih baik pelan tapi yakin, daripada cepat tapi goyah.

Menikah bukan pencapaian, ia adalah perjalanan. Maka pastikan kamu memulai perjalanan itu bukan karena terpaksa, tapi karena benar-benar siap melangkah.