Konten dari Pengguna

Anak Pertama Katanya Paling Disayang, tapi Ekspektasinya Paling Berat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perempuan Sedih. (sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perempuan Sedih. (sumber: shutterstock.com).

Anak pertama sering dianggap memiliki posisi istimewa dalam keluarga. Mereka menjadi anak pertama yang dinantikan, mendapatkan perhatian penuh dari orang tua, dan menjadi bagian dari pengalaman baru ketika sebuah keluarga mulai terbentuk. Karena itu, tidak sedikit yang menganggap anak sulung sebagai sosok yang paling disayang. Namun, kasih sayang tersebut terkadang datang bersama harapan yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.

Sejak kecil, anak pertama sering mendapatkan kalimat seperti “kamu kan kakak” atau “harus kasih contoh yang baik.” Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi jika terus didengar, perlahan dapat membentuk pemikiran bahwa dirinya harus selalu menjadi contoh bagi adik-adiknya. Kesalahan yang sebenarnya wajar dilakukan seorang anak bisa terasa lebih berat karena ada tuntutan untuk menunjukkan sikap yang dianggap lebih dewasa.

Ketika usia bertambah, kepercayaan yang diberikan kepada anak pertama juga sering semakin besar. Mereka mungkin diminta membantu menjaga adik, memahami keadaan keluarga, atau mengambil keputusan tertentu. Kepercayaan seperti ini memang menunjukkan bahwa orang tua menganggap mereka mampu. Namun, kemampuan seseorang untuk diandalkan tidak berarti dirinya selalu siap memikul semuanya.

Menurut saya, salah satu hal yang membuat posisi anak pertama terasa berat adalah adanya anggapan bahwa mereka harus lebih mengerti dibandingkan anggota keluarga lainnya. Ketika terjadi masalah, mereka sering diharapkan menjadi pihak yang memahami keadaan terlebih dahulu. Padahal, anak pertama juga memiliki perasaan, keinginan, dan masalah yang belum tentu mampu mereka selesaikan sendiri.

Menjadi anak sulung juga sering dikaitkan dengan pencapaian. Pendidikan, pekerjaan, kehidupan sosial, hingga cara membawa diri terkadang menjadi perhatian keluarga karena dianggap dapat menjadi gambaran bagi adik-adiknya. Ketika berhasil, mereka dipuji sebagai contoh. Namun, ketika melakukan kesalahan, kegagalan tersebut bisa terasa lebih besar karena muncul kekhawatiran telah mengecewakan orang tua.

Di sisi lain, bukan berarti semua tuntutan yang diberikan kepada anak pertama berasal dari niat buruk. Banyak orang tua memberikan tanggung jawab karena percaya kepada anaknya dan ingin mengajarkan kemandirian. Masalahnya muncul ketika kepercayaan tersebut berubah menjadi kewajiban untuk selalu kuat. Anak pertama akhirnya bisa merasa tidak memiliki ruang untuk mengatakan bahwa dirinya lelah atau membutuhkan bantuan.

Menariknya, anak pertama juga sering dianggap mendapatkan kasih sayang paling banyak karena perhatian orang tua pada masa awal kehidupannya. Padahal, perhatian dan ekspektasi dapat hadir secara bersamaan. Seseorang bisa merasa sangat disayangi oleh keluarganya sekaligus merasa terbebani oleh harapan yang diberikan kepadanya. Dua hal tersebut tidak harus saling bertentangan.

Karena itu, menjadi anak pertama seharusnya tidak selalu dikaitkan dengan tuntutan untuk menjadi yang paling dewasa. Mereka tetap memiliki hak untuk melakukan kesalahan, menentukan pilihan, mencoba sesuatu yang baru, dan meminta bantuan ketika diperlukan. Menjadi kakak bukan berarti harus selalu mengetahui apa yang harus dilakukan.

Orang tua juga perlu memahami bahwa memberikan kepercayaan tidak harus selalu disertai tuntutan yang tinggi. Anak pertama akan tetap belajar menjadi contoh tanpa harus dipaksa menjadi sosok yang sempurna. Dukungan, komunikasi, dan kesempatan untuk menyampaikan perasaan dapat membuat tanggung jawab yang diberikan terasa lebih sehat.

Anak pertama mungkin memang mendapatkan tempat yang istimewa dalam keluarga. Namun, menjadi yang pertama bukan berarti harus menjadi yang paling kuat, paling dewasa, atau paling mampu memenuhi harapan semua orang. Di balik label sebagai anak yang paling disayang, mereka juga merupakan seseorang yang sedang tumbuh dan masih membutuhkan ruang untuk belajar, gagal, serta menjalani kehidupannya sendiri.