Konten dari Pengguna

Bukan Takut Jatuh Cinta, tetapi Takut Merasakan Sakit yang Sama

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Orang yang Saling Melepaskan. (sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Orang yang Saling Melepaskan. (sumber: shutterstock.com).

Ada orang yang terlihat tidak tertarik dengan hubungan baru, padahal sebenarnya masih ingin merasakan dicintai. Ia masih bisa merasa nyaman ketika bertemu seseorang, masih bisa menikmati perhatian, bahkan mungkin mulai memiliki perasaan. Namun, ketika hubungan tersebut mulai terasa serius, muncul keraguan yang sulit dijelaskan. Bukan karena orang yang datang tidak menarik, melainkan karena ada ketakutan bahwa cerita lama akan terulang kembali.

Pengalaman buruk dalam hubungan dapat meninggalkan cara pandang yang berbeda terhadap kedekatan. Setelah pernah dikecewakan, seseorang mungkin menjadi lebih berhati-hati ketika mengenal orang baru. Perhatian yang dulu terasa menyenangkan bisa justru menimbulkan pertanyaan: apakah semuanya akan bertahan? Apakah kali ini akan berakhir dengan cara yang sama? Pertanyaan semacam itu membuat langkah kecil menuju hubungan terasa jauh lebih berat.

Menurut saya, rasa takut tersebut cukup manusiawi. Ketika seseorang pernah mengalami sesuatu yang menyakitkan, wajar jika dirinya berusaha melindungi diri agar tidak kembali berada dalam keadaan serupa. Masalahnya muncul ketika pengalaman bersama seseorang di masa lalu digunakan untuk menilai semua orang yang datang setelahnya. Orang baru belum tentu membawa cerita yang sama, tetapi ia bisa menerima kecurigaan yang sebenarnya bukan berasal darinya.

Hal tersebut dapat membuat seseorang tanpa sadar mencari tanda-tanda buruk sejak awal. Pesan yang terlambat dibalas mulai dianggap sebagai pertanda tidak peduli. Perubahan kecil dalam sikap langsung dikaitkan dengan pengalaman sebelumnya. Padahal, belum tentu ada masalah yang sedang terjadi. Ketakutan terkadang membuat kita membaca keadaan berdasarkan apa yang pernah dialami, bukan berdasarkan apa yang sedang terjadi.

Di sisi lain, berhati-hati bukan berarti seseorang harus memaksakan dirinya untuk percaya begitu saja. Kepercayaan memang membutuhkan proses. Mengenal seseorang secara perlahan, memperhatikan konsistensi sikapnya, dan tetap memiliki batas diri merupakan hal yang wajar. Membuka hati tidak berarti mengabaikan pengalaman sebelumnya, tetapi belajar menggunakan pengalaman tersebut dengan lebih bijak.

Ada perbedaan antara menjaga diri dan menutup diri sepenuhnya. Menjaga diri berarti tetap memberikan kesempatan sambil memperhatikan bagaimana seseorang memperlakukan kita. Sementara itu, menutup diri dapat membuat kita menolak sesuatu yang sebenarnya belum pernah memberi alasan untuk ditakuti. Keduanya terlihat mirip dari luar, tetapi memiliki alasan yang berbeda.

Ketakutan juga sering membuat seseorang merasa bahwa tidak jatuh cinta adalah pilihan yang paling aman. Tidak ada hubungan berarti tidak ada kemungkinan kecewa. Tidak memberikan kepercayaan berarti tidak ada risiko dikhianati. Namun, kehidupan tidak selalu bisa dijalani dengan menghindari semua kemungkinan buruk. Ada pengalaman yang memang perlu diterima sebagai bagian dari masa lalu tanpa membiarkannya menentukan seluruh masa depan.

Memulai kembali tidak harus dilakukan dengan terburu-buru. Seseorang boleh membutuhkan waktu untuk merasa nyaman, boleh bertanya, boleh ragu, dan boleh mengatakan tidak ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan batas dirinya. Hubungan yang sehat juga seharusnya memberikan ruang untuk proses tersebut, bukan memaksa seseorang segera melupakan apa yang pernah terjadi.

Yang perlu diingat, orang baru bukanlah orang lama dengan wajah yang berbeda. Ia memiliki karakter, cara berpikir, dan cara memperlakukan orang yang belum tentu sama. Masa lalu memang dapat menjadi pelajaran tentang hal-hal yang tidak ingin kita alami lagi, tetapi bukan berarti masa lalu harus menjadi alasan untuk menolak setiap kemungkinan baik yang datang setelahnya.

Mungkin kita tidak benar-benar takut jatuh cinta. Kita hanya takut kembali menjadi seseorang yang harus mengumpulkan dirinya sendiri setelah semuanya berakhir. Perasaan itu boleh ada, tetapi perlahan kita juga perlu belajar bahwa melindungi hati bukan berarti menguncinya selamanya. Ada perbedaan antara belajar dari luka dan hidup terus-menerus di bawah bayang-bayangnya.

Jenny Salsa Billa Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.