Konten dari Pengguna

Hemat atau Pelit? Ketika Kita Terlalu Perhitungan dengan Diri Sendiri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sedang Jajan. (sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sedang Jajan. (sumber: shutterstock.com).

Menghemat uang merupakan kebiasaan yang baik. Kita belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, mengatur pengeluaran, serta menyisihkan sebagian uang untuk keperluan yang lebih penting. Namun, ada kalanya keinginan untuk berhemat justru berjalan terlalu jauh. Kita mulai berpikir berkali-kali untuk membeli sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan, bahkan merasa bersalah ketika menggunakan uang untuk diri sendiri.

Hal sederhana seperti membeli makanan yang disukai, mengganti barang yang sudah tidak layak, atau membeli sesuatu yang membuat kita senang sering dianggap sebagai pengeluaran yang tidak perlu. Sementara itu, uang terus disimpan dengan alasan harus lebih irit. Tidak ada yang salah dengan menahan keinginan, tetapi jika hampir semua kebutuhan pribadi selalu dianggap pemborosan, mungkin yang terjadi bukan lagi sekadar hidup hemat.

Kebiasaan tersebut terkadang muncul karena kita terlalu terbiasa memikirkan masa depan. Kita takut kehabisan uang, takut pengeluaran bertambah, atau merasa harus selalu memiliki simpanan. Sikap hati-hati memang penting, tetapi terlalu khawatir terhadap kondisi finansial juga dapat membuat kita lupa bahwa uang memang memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini.

Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada seberapa banyak uang yang dikeluarkan, melainkan bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri ketika mengatur keuangan. Menyisihkan uang untuk tabungan tentu penting, tetapi memberikan ruang untuk menikmati hasil usaha sendiri juga bukan sesuatu yang harus selalu dianggap salah.

Ada orang yang mudah mentraktir teman, membelikan hadiah untuk keluarga, atau mengeluarkan uang untuk berbagai keperluan orang lain, tetapi sangat sulit melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri. Ketika ingin membeli sesuatu, muncul banyak pertimbangan seperti “masih bisa dipakai,” “nanti saja,” atau “uangnya lebih baik disimpan.” Sikap tersebut terlihat sederhana, tetapi jika terus dilakukan, seseorang bisa terbiasa menempatkan kebutuhannya sendiri di urutan paling belakang.

Hidup hemat seharusnya membantu seseorang mengatur keuangan dengan lebih sehat, bukan membuatnya merasa tidak pantas menikmati sesuatu. Ada perbedaan antara membeli secara impulsif dengan memenuhi kebutuhan atau memberikan penghargaan sederhana kepada diri sendiri. Membeli barang yang memang diperlukan setelah mempertimbangkan kondisi keuangan bukan berarti boros.

Karena itu, penting untuk memiliki batas yang jelas antara menghemat dan terlalu membatasi diri. Kita bisa tetap membuat anggaran, menabung, dan mengurangi pengeluaran yang tidak penting sambil tetap menyediakan sebagian uang untuk kebutuhan pribadi. Dengan begitu, pengelolaan keuangan tidak hanya berorientasi pada angka yang tersimpan, tetapi juga pada kualitas hidup yang dijalani.

Tidak semua kesenangan harus mahal. Secangkir minuman favorit, makanan yang sudah lama ingin dicoba, buku, pakaian yang memang dibutuhkan, atau kegiatan sederhana bisa menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan finansial dan prioritas, bukan rasa bersalah setiap kali melakukan sesuatu untuk diri sendiri.

Hemat bukan berarti harus selalu menolak keinginan. Begitu juga menyayangi diri sendiri bukan berarti bebas menghabiskan uang tanpa pertimbangan. Keduanya dapat berjalan bersama selama kita memahami batas dan mampu menentukan mana yang benar-benar diperlukan.

Uang memang perlu direncanakan untuk masa depan, tetapi kehidupan juga sedang berlangsung hari ini. Jangan sampai keinginan untuk memiliki kondisi finansial yang aman membuat kita terus menunda segala bentuk kenyamanan sampai lupa menikmati hasil dari usaha yang sudah dilakukan. Mengatur uang dengan bijak seharusnya membuat hidup lebih terarah, bukan membuat kita merasa harus selalu kekurangan demi bisa disebut hemat.

Jenny Salsa Billa Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.