Ketika Kesuksesan Anak Pertama Berpacu dengan Usia Orang Tua

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi anak pertama sering membuat seseorang memiliki keinginan besar untuk segera berhasil. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga karena ada harapan suatu hari bisa membahagiakan orang tua. Pendidikan diselesaikan, pekerjaan dicari, penghasilan mulai dibangun, dan berbagai rencana masa depan disusun. Di tengah proses tersebut, ada satu hal yang sering diam-diam menjadi kekhawatiran: waktu orang tua terus berjalan.
Semakin bertambah usia, seseorang mulai menyadari bahwa orang tua yang dahulu terlihat kuat perlahan mengalami perubahan. Rambut mulai memutih, tenaga tidak lagi sama, dan beberapa aktivitas yang dulu mudah dilakukan mungkin membutuhkan lebih banyak waktu. Kesadaran tersebut dapat membuat anak pertama merasa harus bergerak lebih cepat agar bisa memberikan sesuatu sebelum kesempatan terasa semakin sedikit.
Keinginan untuk membahagiakan orang tua sebenarnya merupakan hal yang baik. Namun, ketika keinginan tersebut berubah menjadi tekanan untuk segera sukses, perjalanan menuju masa depan bisa terasa seperti perlombaan. Melihat teman sudah bekerja, memiliki penghasilan sendiri, atau mencapai pencapaian tertentu dapat membuat seseorang merasa tertinggal. Ditambah lagi dengan pikiran bahwa orang tua semakin tua, rasa terburu-buru pun semakin kuat.
Menurut saya, tidak semua hal dalam hidup bisa dipercepat hanya karena kita takut kehilangan waktu. Pendidikan memiliki prosesnya sendiri, pekerjaan membutuhkan kesempatan, dan kesuksesan tidak selalu datang sesuai dengan usia yang kita bayangkan. Memaksakan diri untuk mencapai semuanya dengan cepat justru dapat membuat perjalanan terasa lebih berat daripada seharusnya.
Anak pertama juga sering merasa bahwa dirinya harus menjadi orang yang mampu mengubah keadaan keluarga. Ada keinginan untuk membantu biaya rumah, membelikan sesuatu untuk orang tua, mengajak mereka bepergian, atau sekadar membuat mereka merasa bahwa semua perjuangan selama ini tidak sia-sia. Harapan tersebut dapat menjadi motivasi, tetapi juga bisa menjadi beban ketika pencapaian belum sesuai dengan target yang dibuat sendiri.
Yang terkadang terlupakan adalah orang tua mungkin tidak hanya menunggu kesuksesan anaknya. Mereka juga mungkin ingin melihat anaknya sehat, menjalani kehidupan dengan baik, dan menikmati proses yang sedang dilalui. Tidak semua bentuk kebahagiaan harus menunggu sampai anak memiliki pekerjaan dengan penghasilan besar atau mampu memberikan sesuatu yang mahal.
Waktu bersama orang tua juga tidak selalu membutuhkan pencapaian luar biasa. Makan bersama, mengobrol, membantu pekerjaan rumah, menemani mereka berbelanja, atau sekadar menanyakan kabar merupakan hal sederhana yang memiliki nilai. Menunggu sampai merasa sudah sukses untuk memberikan perhatian justru bisa membuat kita melewatkan banyak momen yang sebenarnya dapat dilakukan sekarang.
Di sisi lain, bukan berarti mengejar kesuksesan harus dihentikan. Memiliki cita-cita, membangun karier, dan berusaha mandiri tetap merupakan bagian penting dari kehidupan. Hanya saja, perjalanan tersebut tidak seharusnya membuat seseorang merasa bahwa dirinya gagal hanya karena belum mencapai semuanya dalam waktu singkat.
Anak pertama perlu memahami bahwa dirinya tidak sedang berlomba melawan usia orang tua. Waktu memang terus bergerak, tetapi setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang menemukan keberhasilan lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan keduanya tidak menentukan seberapa besar seseorang menyayangi keluarganya.
Mungkin yang paling penting bukan seberapa cepat seorang anak mencapai kesuksesan, melainkan bagaimana ia tetap hadir selama proses tersebut berlangsung. Berusaha untuk masa depan sambil tetap menghargai waktu bersama orang tua dapat membuat perjalanan terasa lebih bermakna. Sebab, kesuksesan yang ingin dipersembahkan kepada orang tua seharusnya tidak membuat kita lupa menikmati kesempatan untuk bersama mereka hari ini.
Jenny Salsa Billa Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
