Konten dari Pengguna

Ketika Kita Mulai Bertanya kepada AI Sebelum Bertanya kepada Diri Sendiri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI. (sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI. (sumber: shutterstock.com).

Kehadiran artificial intelligence atau AI membuat banyak hal yang sebelumnya membutuhkan waktu menjadi jauh lebih mudah. Kita bisa meminta bantuan untuk mencari ide, menjelaskan sesuatu yang tidak dipahami, menyusun tulisan, sampai menentukan pilihan. Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat, tetapi tanpa disadari, ada kebiasaan baru yang mulai terbentuk: mencari jawaban dari AI sebelum mencoba memikirkan jawabannya sendiri.

Dulu, ketika menghadapi suatu masalah, seseorang mungkin akan mencoba mengingat pengalaman sebelumnya, mencari informasi dari buku atau internet, atau sekadar duduk dan memikirkan beberapa kemungkinan. Sekarang, cukup dengan mengetikkan pertanyaan, berbagai jawaban bisa muncul dalam hitungan detik. Perubahan ini bukan sesuatu yang buruk, tetapi membuat kita perlu menyadari bagaimana teknologi mulai memengaruhi cara mengambil keputusan.

Hal sederhana seperti memilih topik tugas, menyusun kalimat, mencari ide hadiah, menentukan kegiatan akhir pekan, bahkan meminta pendapat mengenai masalah pribadi pun bisa dilakukan dengan bantuan AI. Lama-kelamaan, kita dapat terbiasa mendapatkan arahan dari luar sebelum memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berpikir. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena sudah mengetahui bahwa ada cara yang jauh lebih cepat.

Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada penggunaan AI, tetapi pada ketika kita mulai kehilangan keinginan untuk mencoba terlebih dahulu. Ada perbedaan antara menggunakan teknologi sebagai alat bantu dengan menjadikannya sebagai pengganti proses berpikir. Jika setiap kebingungan langsung diserahkan kepada AI, kemampuan untuk mempertimbangkan pilihan, membuat kesalahan, dan menemukan solusi secara mandiri bisa semakin jarang digunakan.

Padahal, proses mencari jawaban sendiri memiliki nilai yang tidak selalu bisa digantikan oleh hasil yang cepat. Ketika seseorang mencoba memahami sebuah persoalan, ia belajar menghubungkan informasi, mempertanyakan sesuatu, dan mengambil kesimpulan berdasarkan pertimbangannya sendiri. Bahkan jawaban yang kurang tepat sekalipun dapat menjadi bagian dari proses belajar karena ada kesempatan untuk mengetahui letak kesalahannya.

Hal ini juga penting dalam dunia pendidikan. AI dapat membantu mahasiswa memahami materi yang sulit atau memberikan gambaran awal ketika mengerjakan tugas. Namun, jika jawaban langsung disalin tanpa memahami prosesnya, tugas memang dapat selesai, tetapi pengetahuan yang seharusnya diperoleh dari proses tersebut belum tentu ikut bertambah. Kemudahan teknologi seharusnya membantu seseorang belajar, bukan membuat proses belajar terasa tidak diperlukan.

Di luar pendidikan, kebiasaan tersebut juga dapat memengaruhi cara kita mengambil keputusan sehari-hari. AI bisa memberikan banyak sudut pandang, tetapi tidak sepenuhnya mengetahui pengalaman, nilai, hubungan, dan keadaan yang kita jalani. Ada keputusan tertentu yang membutuhkan pertimbangan pribadi karena tidak semua persoalan dalam hidup memiliki jawaban yang bisa ditemukan melalui sebuah perintah.

Karena itu, menggunakan AI tidak harus berarti menyerahkan seluruh proses berpikir kepadanya. Kita tetap bisa mencoba memikirkan suatu persoalan terlebih dahulu, kemudian menggunakan AI untuk menguji ide, mencari sudut pandang lain, atau menemukan hal yang mungkin terlewat. Dengan begitu, teknologi tetap berada pada perannya sebagai alat yang membantu, bukan sebagai pihak yang selalu menentukan arah.

AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tantangannya bukan menjauh dari teknologi, melainkan memastikan bahwa kemudahan yang diberikan tidak membuat kita berhenti menggunakan kemampuan yang sebenarnya masih kita miliki. Sebelum bertanya kepada AI, mungkin sesekali kita perlu memberi waktu kepada diri sendiri untuk berpikir dan bertanya, “Kalau aku coba sendiri, sebenarnya aku bisa menemukan jawabannya atau tidak?”