Mengapa Kita Menyiapkan Diri untuk Memiliki, tetapi Tidak untuk Kehilangan?

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat jatuh cinta, kita sering sibuk mempersiapkan banyak hal untuk sebuah kebersamaan. Kita mulai membayangkan hari-hari yang akan dilewati bersama, tempat yang ingin dikunjungi, cerita yang ingin dibagikan, hingga masa depan yang perlahan terasa nyata. Kehadiran seseorang membuat kita terbiasa memasukkan dirinya ke dalam banyak bagian kehidupan tanpa pernah benar-benar berpikir bahwa suatu hari semua itu mungkin berubah.
Kita belajar bagaimana menjadi pasangan yang baik, menjaga komunikasi, memahami kebiasaan masing-masing, dan mempertahankan hubungan ketika menghadapi masalah. Namun, jarang sekali kita memikirkan bagaimana jika suatu hari hubungan tersebut tidak lagi bisa dipertahankan. Seolah-olah ketika seseorang sudah menjadi bagian dari hidup kita, keberadaannya akan terus berada di sana.
Mungkin karena membayangkan kehilangan terasa jauh lebih menyakitkan daripada membayangkan kebersamaan. Ketika sedang bahagia, pikiran kita lebih mudah tertuju pada apa yang ingin dimiliki daripada kemungkinan sesuatu tersebut berakhir. Kita menikmati perhatian, merasa nyaman dengan rutinitas, lalu perlahan menganggap kehadiran seseorang sebagai bagian yang akan selalu ada.
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan menikmati kebahagiaan tanpa terus-menerus memikirkan perpisahan. Kita tidak perlu menjalani hubungan dengan rasa takut bahwa semuanya akan berakhir. Namun, memahami bahwa tidak semua hal bersifat selamanya dapat membuat kita lebih menghargai apa yang sedang dimiliki tanpa menjadikannya sesuatu yang harus dipertahankan dengan cara apa pun.
Ketika seseorang hadir dalam hidup kita, banyak hal ikut berubah. Ada kebiasaan baru, tempat favorit, percakapan sebelum tidur, atau sekadar seseorang yang menjadi tempat pertama untuk menceritakan kejadian kecil sepanjang hari. Karena sudah terbiasa, kita sering baru menyadari nilai dari hal-hal tersebut ketika semuanya tidak lagi dilakukan bersama.
Kehilangan juga bukan hanya tentang tidak lagi memiliki seseorang. Ada rutinitas yang harus disusun ulang, rencana yang perlu dilepaskan, dan ruang kosong yang sebelumnya terisi oleh kehadiran orang lain. Itulah mengapa perpisahan terkadang terasa begitu berat meskipun kita tahu hubungan tersebut memang sudah tidak bisa dilanjutkan.
Hal ini bukan berarti kita harus menjaga jarak sejak awal agar tidak terluka. Justru mencintai seseorang dengan tulus membutuhkan keberanian untuk hadir sepenuhnya tanpa mengetahui bagaimana akhirnya. Yang perlu dipahami adalah bahwa memiliki seseorang bukan berarti kita mempunyai jaminan bahwa ia akan selalu tinggal.
Ada hubungan yang berakhir bukan karena tidak pernah ada cinta. Terkadang dua orang masih saling menyayangi, tetapi keadaan, pilihan, atau arah kehidupan membuat mereka tidak lagi berjalan menuju tempat yang sama. Dalam situasi seperti itu, melepaskan bukan berarti seluruh kebersamaan sebelumnya menjadi sia-sia.
Mungkin yang perlu kita persiapkan bukan cara agar tidak pernah kehilangan, melainkan kemampuan untuk tetap mengenali diri sendiri ketika kehilangan terjadi. Jangan sampai seluruh kebahagiaan, identitas, dan kehidupan kita hanya bergantung pada keberadaan satu orang. Mencintai seseorang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan, bukan satu-satunya alasan untuk menjalaninya.
Kita memang tidak pernah benar-benar bisa bersiap menghadapi kehilangan. Ketika seseorang yang berarti pergi, tetap akan ada ruang yang terasa kosong. Namun, menyadari bahwa segala sesuatu memiliki kemungkinan untuk berubah dapat membuat kita lebih menghargai waktu yang sedang dimiliki.
Karena itu, tidak perlu takut mencintai hanya karena ada kemungkinan harus melepaskan. Nikmati kebersamaan, hargai kehadiran, dan ciptakan kenangan tanpa menganggap semuanya sebagai sesuatu yang pasti bertahan selamanya. Sebab, mungkin makna dari mencintai bukan hanya tentang memiliki seseorang selama mungkin, tetapi juga tentang mampu menghargai kehadirannya selama ia masih memilih untuk tinggal.
Jenny Salsa Billa Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
