Saat Seseorang Terlalu Terbiasa Menyimpan Masalahnya Sendiri

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua orang yang sedang menghadapi masalah akan langsung menceritakannya kepada orang lain. Ada yang tetap menjalani aktivitas seperti biasa, bercanda bersama teman, mengerjakan tugas, atau bahkan terlihat lebih tenang dari biasanya. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Padahal, ada banyak hal yang sedang dipikirkan dan sengaja disimpan sendiri karena tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Kebiasaan memendam masalah bisa muncul karena berbagai alasan. Seseorang mungkin takut dianggap berlebihan, tidak ingin merepotkan orang lain, atau merasa masalahnya belum cukup besar untuk diceritakan. Ada juga yang pernah mencoba terbuka, tetapi respons yang diterima justru membuatnya merasa tidak dipahami. Pengalaman seperti itu dapat membuat seseorang memilih diam pada kesempatan berikutnya.
Sering kali, orang yang terbiasa menyimpan masalah justru menjadi sangat pandai mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Jawaban tersebut bisa keluar begitu saja ketika ditanya tentang keadaan mereka. Bukan selalu karena ingin berbohong, tetapi karena menjelaskan apa yang dirasakan terkadang jauh lebih sulit daripada menyembunyikannya. Ada perasaan yang belum bisa dirangkai menjadi cerita, sehingga diam terasa menjadi pilihan paling mudah.
Menurut saya, memendam sesekali bukan berarti seseorang lemah atau tidak mampu menghadapi masalah. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengolah perasaan. Ada kalanya seseorang memang membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sedang terjadi sebelum membaginya kepada orang lain. Yang perlu diperhatikan adalah ketika menyimpan semuanya sendiri menjadi satu-satunya cara yang selalu digunakan.
Hal ini juga memiliki kaitan dengan temuan dalam penelitian psikologi. Sebuah meta-analisis terhadap 48 studi dengan lebih dari 21 ribu partisipan menemukan bahwa kecenderungan menekan ekspresi emosi berkaitan dengan indikator kesehatan mental yang lebih negatif dan lebih rendahnya beberapa indikator kesejahteraan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan antara penekanan emosi dan kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh faktor budaya, sehingga temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap orang yang memilih diam pasti mengalami masalah psikologis.
Penelitian lain yang menggabungkan 43 studi juga menemukan bahwa penekanan emosi berkaitan dengan kesejahteraan sosial yang lebih buruk, seperti rendahnya dukungan sosial dan kepuasan dalam hubungan. Artinya, ketika seseorang terlalu terbiasa menyembunyikan apa yang dirasakan, orang-orang di sekitarnya bisa semakin sulit memahami keadaan yang sebenarnya. Hal tersebut dapat membuat seseorang merasa semakin sendirian meskipun berada di tengah banyak orang.
Ketika kebiasaan tersebut berlangsung terlalu lama, seseorang bisa terbiasa menghadapi semuanya seorang diri. Ia tidak lagi mencari tempat untuk bercerita meskipun sedang membutuhkan dukungan. Bahkan ketika ada orang yang menawarkan bantuan, ia mungkin tetap menjawab “nggak apa-apa” karena sudah terlalu terbiasa menyelesaikan semuanya tanpa melibatkan siapa pun.
Penelitian longitudinal mengenai penekanan emosi dalam kehidupan sehari-hari juga menemukan adanya hubungan dengan suasana hati yang lebih buruk, kelelahan, rendahnya harga diri, dan kepuasan hidup yang lebih rendah. Dalam hubungan sosial, penekanan emosi juga berkaitan dengan perasaan kurang diterima dan kepuasan hubungan yang lebih rendah. Temuan ini memperlihatkan bahwa menyembunyikan emosi secara terus-menerus bukan hanya berkaitan dengan apa yang dirasakan di dalam diri, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan lingkungan sekitarnya.
Hal yang sering dilupakan adalah bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Bercerita kepada orang yang dipercaya tidak selalu berarti meminta solusi. Terkadang seseorang hanya membutuhkan ruang yang aman untuk mengeluarkan apa yang selama ini disimpan. Didengarkan tanpa langsung dihakimi pun bisa membuat seseorang merasa lebih dipahami.
Di sisi lain, kita juga perlu belajar lebih peka terhadap orang-orang di sekitar. Tidak semua orang akan mengatakan ketika sedang mengalami masa sulit. Teman yang biasanya ramai bisa saja sedang menghadapi sesuatu, begitu pula seseorang yang terlihat selalu ceria. Kita tidak harus memaksa mereka bercerita, tetapi menunjukkan bahwa kita bersedia mendengarkan dapat membuat mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.
Memahami kebiasaan memendam juga berarti belajar menghargai batasan seseorang. Tidak semua orang siap membuka cerita dalam waktu yang sama. Memberikan kesempatan tanpa memaksa jauh lebih baik daripada terus mendesak seseorang untuk menjelaskan keadaan mereka. Rasa aman dan kepercayaan membutuhkan waktu untuk terbentuk.
Ada luka yang memang tidak terlihat, tetapi bukan berarti rasa yang menyertainya tidak nyata. Seseorang tetap bisa tertawa sambil membawa sesuatu yang berat dalam pikirannya. Karena itu, kita sebaiknya tidak menjadikan penampilan luar sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai keadaan seseorang.
Terbiasa menyimpan masalah sendiri bukan berarti seseorang harus terus melakukannya. Ada saat ketika berbagi cerita justru menjadi bentuk keberanian untuk mengakui bahwa diri sendiri juga membutuhkan dukungan. Tidak harus kepada banyak orang, cukup kepada seseorang yang dipercaya dan mampu memberikan ruang untuk didengar. Menghadapi kehidupan dengan kuat bukan berarti selalu menanggung semuanya sendirian.
