Sejauh Apa Pun Mengejar Masa Depan, Jangan Lupa Pulang

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap orang tentu memiliki sesuatu yang ingin dicapai dalam hidup. Ada yang sedang mengejar pendidikan, membangun karier, mencari penghasilan, atau berusaha mewujudkan kehidupan yang selama ini diimpikan. Kesibukan tersebut sering dianggap sebagai bagian dari perjuangan menuju masa depan yang lebih baik. Namun, di tengah perjalanan yang semakin jauh, ada satu hal yang terkadang terlupakan: rumah tempat kita berasal dan orang-orang yang sejak awal selalu mendukung perjalanan tersebut.
Menjadi dewasa membuat waktu terasa semakin terbagi. Dulu, pulang mungkin hanya berarti kembali setelah sekolah atau bermain. Sekarang, pulang bisa menjadi sesuatu yang harus direncanakan karena ada tugas, pekerjaan, kegiatan, atau berbagai urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Jarak juga membuat kesempatan bertemu keluarga semakin sedikit. Kita mulai terbiasa mengatakan, “nanti saja kalau sudah sempat,” tanpa menyadari bahwa waktu terus berjalan.
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan memiliki ambisi dan keinginan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Justru, memiliki tujuan dapat membuat seseorang terus berkembang. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai pencapaian menjadi satu-satunya hal yang dikejar sampai hubungan dengan keluarga ditempatkan di urutan paling belakang. Sebab, ada hal-hal yang tidak dapat digantikan oleh uang, jabatan, maupun keberhasilan dalam pekerjaan.
Sering kali kita berpikir bahwa keluarga akan selalu ada ketika kita sudah memiliki waktu luang. Kita merasa masih memiliki banyak kesempatan untuk mengobrol, makan bersama, atau sekadar duduk di rumah tanpa melakukan sesuatu yang istimewa. Karena itu, kesempatan tersebut mudah ditunda demi urusan yang dianggap lebih mendesak.
Padahal, orang tua juga menjalani perubahan dalam hidupnya. Mereka bertambah usia, memiliki kesibukan sendiri, dan perlahan mengalami hal-hal yang mungkin tidak kita sadari karena terlalu sibuk dengan kehidupan di luar rumah. Kita sering mengingat nasihat mereka, tetapi lupa bahwa mereka mungkin juga hanya ingin mendengar cerita sederhana tentang bagaimana hari kita berjalan.
Kesibukan juga sering membuat kita mengukur waktu bersama keluarga berdasarkan sesuatu yang besar. Kita berpikir harus pulang dalam waktu lama, membawa hadiah, atau melakukan kegiatan tertentu agar kunjungan terasa berarti. Padahal, kehadiran tidak selalu membutuhkan sesuatu yang istimewa. Duduk bersama, membantu pekerjaan rumah, makan makanan yang disiapkan keluarga, atau berbincang sebentar pun dapat menjadi bentuk perhatian.
Mengejar masa depan memang membutuhkan pengorbanan. Ada saat ketika kita harus pergi jauh, menghadapi tantangan sendiri, dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar atau bekerja. Namun, pergi bukan berarti harus memutus hubungan dengan tempat asal. Teknologi memang memungkinkan kita berkomunikasi dari mana saja, tetapi percakapan melalui layar tetap berbeda dengan kehadiran secara langsung.
Ada kemungkinan suatu hari kita berhasil mendapatkan apa yang selama ini diperjuangkan. Kita memiliki pekerjaan yang diinginkan, penghasilan yang cukup, atau kehidupan yang dulu hanya berani dibayangkan. Namun, pencapaian tersebut akan terasa berbeda jika tidak ada waktu untuk berbagi cerita dengan orang-orang yang pernah menemani prosesnya. Karena itu, keberhasilan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa jauh seseorang mampu pergi, tetapi juga dari apakah ia masih mengingat tempat untuk kembali.
Rumah mungkin tidak selalu menjadi tempat yang sempurna. Ada perbedaan pendapat, kesibukan, dan masalah yang membuat seseorang terkadang ingin memiliki ruang sendiri. Namun, rumah tetap memiliki makna sebagai tempat seseorang berasal. Selama masih ada kesempatan untuk pulang dan bertemu keluarga, kesempatan tersebut layak dihargai.
Sejauh apa pun kita pergi untuk mengejar masa depan, jangan sampai perjalanan tersebut membuat kita lupa pulang. Kita boleh memiliki mimpi besar, membangun kehidupan sendiri, dan mencapai berbagai hal yang diinginkan. Namun, jangan biarkan kesibukan membuat kita baru menyadari nilai sebuah rumah ketika kesempatan untuk kembali sudah tidak lagi sama.
Jenny Salsa Billa Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
