Setelah Salah Memilih, Mengapa Jatuh Cinta Lagi Terasa Menakutkan?

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada orang yang sebenarnya masih ingin jatuh cinta, tetapi memilih untuk menjaga jarak ketika seseorang baru mulai mendekat. Bukan karena sudah tidak membutuhkan kasih sayang, melainkan karena pernah merasakan bagaimana rasanya menaruh kepercayaan kepada orang yang ternyata tidak tepat. Setelah melewati pengalaman tersebut, membuka hati kembali tidak lagi terasa sesederhana dulu.
Sebelum pernah kecewa, seseorang mungkin melihat hubungan dengan lebih ringan. Bertemu orang baru terasa menyenangkan, perhatian membuat bahagia, dan rasa nyaman perlahan bisa berkembang menjadi perasaan. Namun, setelah mengalami hubungan yang tidak berjalan baik, hal-hal yang sama bisa menimbulkan pertanyaan. Apakah dia benar-benar tulus? Apakah sikap baik ini akan bertahan? Bagaimana jika semuanya kembali berakhir dengan cara yang sama?
Pengalaman buruk dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada. Perubahan kecil dalam sikap orang baru mungkin langsung diperhatikan, bahkan terkadang dicari-cari maknanya. Balasan pesan yang berbeda, perhatian yang berkurang, atau perkataan tertentu bisa mengingatkan pada kejadian yang pernah dialami. Bukan berarti orang baru tersebut melakukan kesalahan, tetapi ingatan tentang masa lalu membuat seseorang lebih berhati-hati.
Menurut saya, rasa takut seperti itu bukan sesuatu yang harus dipaksakan untuk hilang dalam waktu singkat. Setelah pernah salah memilih, wajar jika seseorang membutuhkan waktu untuk kembali percaya. Ada bagian dalam diri yang sedang belajar membedakan antara tanda bahaya dan ketakutan yang berasal dari pengalaman sebelumnya. Proses tersebut membutuhkan kesadaran, bukan sekadar keberanian untuk kembali menjalin hubungan.
Masalahnya, pengalaman buruk terkadang membuat seseorang menggunakan masa lalu sebagai ukuran untuk menilai orang yang baru dikenal. Ketika seseorang pernah dibohongi, ia bisa menjadi curiga kepada orang berikutnya. Ketika pernah ditinggalkan tanpa penjelasan, ia mungkin takut setiap kedekatan akan berakhir dengan hal serupa. Padahal, orang baru tidak datang dengan kewajiban untuk mengulang cerita yang sama.
Namun, berhati-hati juga bukan berarti salah. Setelah mengalami hubungan yang tidak sehat, seseorang justru bisa belajar mengenali batasan yang sebelumnya diabaikan. Ia menjadi lebih memahami perlakuan seperti apa yang tidak ingin diterima lagi, bagaimana komunikasi yang dibutuhkan, dan hal-hal apa yang penting dalam sebuah hubungan. Pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran selama tidak berubah menjadi alasan untuk menutup semua kemungkinan.
Jatuh cinta kembali juga tidak harus dimulai dengan kepercayaan penuh. Rasa percaya bisa dibangun secara perlahan melalui konsistensi. Seseorang tidak harus langsung menyerahkan seluruh perasaannya hanya karena menemukan orang yang membuatnya nyaman. Mengenal karakter, melihat bagaimana ia memperlakukan orang lain, memperhatikan sikap ketika terjadi perbedaan pendapat, dan memberi waktu untuk mengenalnya dapat membantu seseorang merasa lebih aman.
Ada perbedaan antara tidak siap mencintai dan tidak ingin terluka lagi. Seseorang mungkin masih menginginkan hubungan, tetapi belum siap mengambil risiko yang sama. Kondisi tersebut tidak perlu dianggap sebagai ketidakmampuan untuk move on. Bisa jadi ia sedang belajar mencintai dengan lebih hati-hati setelah mengetahui bahwa perasaan saja tidak cukup untuk membuat sebuah hubungan berjalan dengan baik.
Kita juga tidak perlu terburu-buru membuktikan bahwa diri sendiri sudah sembuh dengan menerima orang baru. Menjalani hubungan hanya karena takut sendirian justru dapat membuat keputusan menjadi tidak jernih. Tidak ada batas waktu tertentu kapan seseorang harus kembali membuka hati. Setiap orang memiliki proses yang berbeda dalam memulihkan rasa percaya.
Yang terpenting, jangan sampai kesalahan dalam memilih seseorang membuat kita percaya bahwa semua orang akan memberikan luka yang sama. Masa lalu memang bisa menjadi pengingat tentang apa yang perlu diperhatikan, tetapi tidak seharusnya menjadi ramalan tentang apa yang akan terjadi berikutnya. Berhati-hati boleh, memilih dengan lebih sadar juga penting, tetapi tetap perlu memberikan kesempatan kepada orang baru untuk menunjukkan siapa dirinya.
Mungkin kita bukan takut jatuh cinta lagi. Kita hanya takut kembali menjadi seseorang yang kehilangan dirinya sendiri setelah terlalu percaya kepada orang yang salah. Ketakutan itu bisa dipahami, tetapi perlahan kita juga perlu belajar bahwa menjaga hati tidak harus berarti menguncinya. Ada kemungkinan untuk mencintai lagi tanpa mengabaikan pengalaman yang pernah kita lewati, selama kita tidak lagi memilih dengan terburu-buru dan tidak meninggalkan diri sendiri demi mempertahankan seseorang.
Jenny Salsa Billa Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
