Konten dari Pengguna

Diskon Bukan Berarti Untung: UMKM Perlu Cermat Mengatur Strategi Promosi

istykomah wahyu ningseh

istykomah wahyu ningseh

mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari istykomah wahyu ningseh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diskon sering kali menjadi salah satu strategi yang digunakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menarik perhatian konsumen. Potongan harga dianggap mampu meningkatkan minat beli, mempercepat penjualan, dan membuat produk lebih mudah dikenal. Tidak heran jika banyak pelaku usaha menawarkan diskon, terutama saat mengadakan promosi atau memperkenalkan produk baru. Namun, di balik meningkatnya penjualan, pemberian diskon juga perlu diperhitungkan agar tidak justru mengurangi keuntungan usaha.

Bagi pelaku UMKM, menentukan harga jual bukan hanya tentang menetapkan harga yang menarik bagi konsumen. Ada berbagai biaya yang perlu diperhatikan, seperti biaya bahan baku, kemasan, tenaga kerja, listrik, hingga biaya operasional lainnya. Jika diskon diberikan tanpa mempertimbangkan biaya tersebut, keuntungan yang diperoleh bisa menjadi sangat kecil, bahkan berpotensi menyebabkan kerugian.

Sebagai contoh, sebuah UMKM menjual produk dengan harga Rp50.000, sedangkan biaya produksinya mencapai Rp35.000. Jika pelaku usaha memberikan diskon sebesar Rp10.000, harga jual produk menjadi Rp40.000. Artinya, keuntungan kotor yang diperoleh hanya Rp5.000, belum termasuk biaya operasional lainnya. Dari contoh tersebut, dapat dilihat bahwa peningkatan penjualan akibat diskon belum tentu sejalan dengan peningkatan keuntungan.

Oleh karena itu, pelaku UMKM perlu memahami bahwa strategi promosi harus disesuaikan dengan kondisi keuangan usaha. Diskon sebaiknya diberikan dengan tujuan yang jelas, misalnya untuk menghabiskan stok lama, menarik pelanggan baru, atau meningkatkan penjualan pada periode tertentu. Dengan begitu, pemberian potongan harga tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga menjadi bagian dari perencanaan bisnis.

Selain memberikan potongan harga secara langsung, pelaku UMKM dapat mencoba strategi promosi lain yang lebih terukur. Misalnya, menawarkan paket bundling, memberikan bonus produk, menyediakan program loyalitas pelanggan, atau memberikan potongan harga dengan minimal pembelian. Strategi tersebut dapat meningkatkan ketertarikan konsumen tanpa harus selalu menurunkan harga setiap produk.

Pencatatan keuangan juga memiliki peran penting dalam mengevaluasi keberhasilan promosi. Melalui pencatatan yang teratur, pelaku UMKM dapat mengetahui jumlah penjualan, biaya yang dikeluarkan, serta keuntungan yang diperoleh selama promosi berlangsung. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan apakah strategi diskon layak diterapkan kembali atau perlu diperbaiki.

Pada akhirnya, diskon memang dapat menjadi cara yang efektif untuk menarik konsumen, tetapi bukan berarti semakin besar potongan harga, semakin besar pula keuntungan yang didapatkan. Pelaku UMKM perlu lebih cermat dalam menghitung biaya, menentukan harga jual, dan mengevaluasi hasil promosi. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, strategi diskon tidak hanya membantu meningkatkan penjualan, tetapi juga mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Seorang pelaku UMKM menggunakan kalkulator dan laptop untuk menghitung biaya usaha serta merencanakan strategi promosi agar tetap memperoleh keuntungan.Foto : ShutterStock.