Konten dari Pengguna

Jejak Kafka di Praha: dari Museum hingga Relevansi di Era digital

Jeremiah Christian

Jeremiah Christian

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jeremiah Christian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto dari penulis
zoom-in-whitePerbesar
Foto dari penulis

Praha punya banyak cerita. Kota ini terkenal dengan bangunan tua yang indah, jembatan bersejarah, dan suasana romantis khas Eropa Timur. Tapi di antara semua itu, ada satu tempat yang lebih sunyi dan penuh makna: Kafka Museum. Tempat ini menyimpan jejak hidup sekaligus dunia absurd dari Franz Kafka, penulis yang karyanya masih terus dibicarakan sampai sekarang.

Masuk ke museum ini rasanya seperti masuk ke alam pikirannya. Ruangan gelap, instalasi seni yang aneh, suara-suara samar, sampai pipa-pipa yang mengalirkan air ke arah tak terduga. Semua itu dirancang untuk membuat pengunjung ikut merasakan keresahan dan absurditas yang selalu muncul dalam tulisan Kafka.

Bukan hanya karya, museum ini juga menampilkan sisi personal Kafka. Ada foto keluarga, catatan harian, sampai surat cintanya untuk Felice Bauer. Dari situ terlihat kalau Kafka bukan hanya penulis yang muram dan filosofis, tapi juga manusia biasa yang rapuh, ragu, dan sering merasa hidupnya terlalu rumit.

Foto dari penulis.

Hal menarik dari museum ini adalah bagaimana ide-ide Kafka terasa masih dekat dengan kehidupan sekarang. Misalnya soal birokrasi yang ribet. Kafka dulu menulis tentang tokoh yang terjebak dalam sistem absurd. Sekarang, walaupun semua serba digital, orang tetap bisa merasa tersesat di tengah prosedur online yang muter-muter. Rasanya seperti masuk ke novel The Trial dalam versi modern.

Karya lain, The Metamorphosis, juga masih terasa relevan. Kisah Gregor Samsa yang tiba-tiba berubah menjadi serangga bisa dibaca ulang sebagai gambaran tentang identitas di era digital. Banyak orang sekarang “berubah” di media sosial, menampilkan versi lain dari dirinya, sampai akhirnya merasa asing dengan diri sendiri.

Museum Kafka pada akhirnya bukan sekadar ruang pameran. Tempat ini bisa jadi semacam cermin. Kita diajak melihat bahwa rasa asing, bingung, atau bahkan putus asa yang muncul di zaman digital, sebenarnya bukan hal baru. Kafka sudah menuliskannya lebih dari seratus tahun lalu.

Jadi kalau suatu saat berkesempatan ke Praha, menyusuri museum ini bisa jadi pengalaman yang berbeda. Tidak hanya mengenal lebih dekat seorang penulis besar, tapi juga menemukan refleksi tentang hidup modern yang makin penuh absurditas. Museum ini mungkin kecil, tapi meninggalkan kesan yang panjang—sama seperti karya Kafka itu sendiri.