Konten dari Pengguna

Yaman sebagai Jantung Medan Pertempuran Proxy Saudi-Iran di Timur Tengah

Jesha Yemima Gunawan

Jesha Yemima Gunawan

Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP Universitas Sriwijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jesha Yemima Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Arab Saudi vs Iran dalam konflik proxy war (Sumber foto: gettyimage/Veronaa)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Arab Saudi vs Iran dalam konflik proxy war (Sumber foto: gettyimage/Veronaa)

Berjuta-juta manusia kelaparan dan kesulitan terjadi di Timur Tengah, hal ini menjadi ketakutan yang tak akan habis bagi masyarakat di kawasan tersebut. Hak rakyat di kawasan Timur Tengah seolah dirampas oleh negara mereka tetangga bahkan pemerintahan mereka sendiri. Inilah realita yang harus kita diperhatikan dengan negara - negara seperti Yaman, dimana berkembang baik namun karena kawasan dan pemerintahannya membuat penderitaan melanda.

‎Perang di Yaman telah berkembang jauh melampaui konflik domestik, yang bermula pada 2014 sebagai perseteruan politik antara pemerintah Yaman yang diakui internasional dan kelompok Houthi kini berubah menjadi salah satu arena proxy war paling menentukan di Timur Tengah. Di balik perang yang panjang dan menghancurkan ini, ada persaingan dua kekuatan regional di kawasan ini yaitu Saudi Arabia dan Iran, yang sudah lama bersaing dalam visi geopolitik dan kepemimpinan kawasan.

ilustrasi Wilayah Teluk Aden, menghubungkan Laut Merah dan Laut Arab, peta politik abu-abu (Sumber: iStock/Peter Hermes Furian)

Perspektif Saudi

‎Bagi Saudi Arabia, Yaman adalah garis depan keamanan nasional dengan instabilitas di selatan menjadi ancaman langsung yang bisa merembet ke wilayahnya. Kebangkitan Houthi sebagai kelompok dengan jejaring ideologi dan politik yang terkait, Iran membangkitkan kekhawatiran Riyadh akan hadirnya entitas pro-Teheran di perbatasan. Risiko Yaman menjadi jalur bagi rudal, drone, atau operasi intelijen Iran dipandang sebagai ancaman strategis yang tak bisa dinegosiasikan. Dari sudut pandang Saudi, intervensi militer adalah langkah yang diperlukan untuk mencegah “pengepungan” Iran.

Perspektif Iran

‎Di sisi lain, Iran memanfaatkan Yaman sebagai bagian dari strategi jangka panjangnya untuk memperluas pengaruh melalui perang asimetris dan aktor non-negara. Mendukung Houthi memberi Iran peluang untuk melemahkan dominasi Saudi dengan biaya relatif rendah. Bantuan pelatihan, dukungan intelijen, serta peningkatan kemampuan drone dan rudal telah mengubah keseimbangan militer. Serangan Houthi ke fasilitas penting di Saudi dan, belakangan, ke jalur pelayaran Laut Merah menunjukkan nilai strategis hubungan ini bagi Teheran. Bagi Iran, Yaman adalah titik tekan yang efektif untuk memproyeksikan kekuatan di dekat Bab al-Mandab dan menantang arsitektur keamanan Teluk yang didominasi AS.

‎Yaman bukan hanya penting secara geografis, tapi juga simbolik dalam perebutan pengaruh Saudi–Iran. Persaingan mereka selama bertahun-tahun membentuk wajah Timur Tengah dengan posisi Arab Saudi sebagai pemimpin Sunni dan sekutu utama AS, dan Iran dengan pendekatan revolusioner berbasis resistensi dan jaringan sekutu non-negara. Sedangkan Yaman yang terletak di jalur maritim vital dan berbatasan langsung dengan Jazirah Arab, menjadi laboratorium bagi dua visi tersebut. Di sinilah kedua negara menguji batas kemampuan dan pengaruh masing-masing.

Keterlibatan Aktor Luar

Kompleksitas konflik semakin dalam karena keterlibatan kekuatan global. Amerika Serikat mendukung Saudi melalui penjualan senjata, intelijen, dan dukungan diplomatik, yang memperkuat keyakinan Riyadh untuk menekan Houthi secara militer. Sebaliknya, Iran memanfaatkan rivalitasnya dengan AS untuk memperkuat narasi resistensi di kawasan. Konfrontasi AS–Iran mulai dari isu nuklir hingga sanksi ekonomi, ikut meresap ke dalam dinamika perang Yaman dan menjadikan aktor lokal sebagai bagian dari kompetisi geopolitik yang lebih luas.

‎Meski Saudi Arabia dan Iran mencapai kesepakatan pemulihan hubungan pada 2023, Yaman tetap menjadi arena paling sulit untuk distabilkan. Logika geopolitik di balik proxy war ini tidak berubah, Saudi tetap melihat Houthi sebagai ancaman keamanan langsung, sementara Iran melihat ketahanan Houthi sebagai aset strategis yang meningkatkan daya tawarnya di kawasan. Di sisi lain, Houthi kini memiliki kepercayaan diri politik dan militer yang lebih kuat, sementara pemerintah Yaman yang diakui internasional masih terpecah dan lemah secara teritorial. Kesenjangan ini membuat upaya diplomatik regional sulit diterjemahkan menjadi perdamaian nyata di lapangan.

‎Rakyat di Yaman mengalami dampak yang sangat sulit dihadapi, karena negaranya menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia yaitu kelaparan, keruntuhan ekonomi, serta jutaan orang mengungsi. Namun penderitaan mereka sering tenggelam di balik narasi besar tentang pengaruh, kekuasaan, dan strategi. Bagi Saudi dan Iran, Yaman adalah panggung duel pengaruh, tetapi bagi kekuatan global, ini adalah teater yang berkaitan dengan stabilitas energi dan keamanan kawasan. Kesenjangan yang hadir diantara realitas lokal dan ambisi geopolitik inilah yang membuat perang semakin panjang.

Akhir dari konflik

Pada akhirnya, masa depan Yaman akan bergantung pada apakah aktor regional dan internasional menyadari batas proxy war dan bahaya instabilitas apabila terus dibiarkan. Rivalitas Saudi–Iran mungkin tidak akan hilang, tetapi dapat berubah jika diplomasi regional menjadi lebih pragmatis. Namun bagi Yaman, luka perang sudah terpatri dalam politik dan kehidupan sosialnya. Selama negara ini masih menjadi medan pertarungan kepentingan kekuatan besar, perdamaian akan tetap sulit dicapai hingga ada titik keseimbangan baru dalam dinamika kekuasaan di Timur Tengah.