Konten dari Pengguna

Pulau Nias: Surga Wisata Kelas Dunia yang Masih Terabaikan

Jesen Zebua

Jesen Zebua

Salah Satu Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer di Universitas Katolik Santo Thomas

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jesen Zebua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Ujung Barat Sumatra, Tersimpan Potensi Wisata yang Belum Tergarap

Foto: Dokumentasi pribadi – Pantai Sorake, Nias Selatan
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi pribadi – Pantai Sorake, Nias Selatan

Pulau Nias di Provinsi Sumatera Utara memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata bahari dan budaya. Dengan ombak kelas dunia di Pantai Sorake, budaya megalitik di Bawomataluo, serta atraksi lompat batu yang ikonik, Nias seharusnya bisa bersaing dengan Bali atau Labuan Bajo. Sayangnya, pariwisata di Nias masih tertinggal karena kurangnya promosi, infrastruktur, dan perhatian pemerintah pusat.

1. Potensi Besar, Tapi Tak Tersentuh

Dari Pantai Lagundri hingga situs budaya di Desa Bawomataluo, Nias memiliki kombinasi langka antara alam dan budaya. Komunitas selancar internasional telah lama menobatkan Sorake sebagai salah satu spot terbaik di dunia. Namun di dalam negeri, popularitasnya masih kalah dari destinasi mainstream seperti Labuan Bajo atau Mandalika.

2. Aksesibilitas Masih Rendah

Meski Bandara Binaka sudah melayani penerbangan dari Medan, jumlah rute masih terbatas dan harga tiket cukup mahal. Transportasi laut belum efisien dan kondisi jalan antarwilayah masih banyak yang rusak. Keterbatasan ini membuat wisatawan enggan berkunjung, terutama dari kalangan domestik.

3. Kurang Dukungan dari Pemerintah Pusat

Pulau Nias belum masuk dalam program prioritas nasional seperti “10 Bali Baru” yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Padahal, secara potensi, Nias sebanding dengan destinasi unggulan lainnya. Minimnya perhatian ini mencerminkan kesenjangan dalam pembangunan pariwisata antara pusat dan daerah.

4. SDM dan Fasilitas Belum Memadai

Fasilitas pendukung seperti hotel, restoran, dan pemandu wisata masih minim. Masyarakat lokal pun belum banyak yang mendapatkan pelatihan tentang layanan wisata, digital marketing, hingga bahasa asing. Hal ini menyulitkan Nias bersaing di tingkat global, padahal wisatawan asing justru mencari keaslian budaya seperti yang dimiliki Nias.

5. Kurangnya Sinergi Antarwilayah

Pulau Nias terbagi menjadi lima wilayah administratif: Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, dan Kota Gunungsitoli. Sayangnya, belum ada strategi pariwisata terpadu lintas wilayah. Akibatnya, promosi berjalan sendiri-sendiri dan tidak efisien dalam menarik wisatawan secara masif.

📊 Data dan Fakta

  • Menurut BPS 2023, total kunjungan wisatawan ke Nias masih di bawah 40.000 per tahun.

  • Dinas Pariwisata Nias Selatan mencatat tingkat hunian hotel hanya sekitar 15% di luar musim selancar.

  • Menteri Pariwisata Sandiaga Uno menyebut Nias sebagai "hidden gem" yang belum dikelola maksimal (2022).

⏳ Sudah Saatnya Nias Bangkit

Mengembangkan pariwisata di Nias bukan sekadar urusan ekonomi. Ini soal keadilan pembangunan bagi masyarakat kepulauan, pelestarian budaya leluhur, dan peningkatan martabat daerah. Nias memiliki semua syarat untuk menjadi destinasi unggulan nasional, asalkan ada kemauan politik dan strategi yang terarah.

  • Rekomendasi untuk pemerintah dan pemangku kepentingan:

  • Tingkatkan konektivitas dan infrastruktur antardaerah.

  • Kembangkan desa wisata berbasis budaya lokal.

  • Latih dan sertifikasi SDM lokal dalam bidang pariwisata.

  • Tetapkan Nias sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

🌊 Jangan biarkan Nias terus menjadi mutiara yang terkubur. Saatnya dia bersinar.

🖋️ Jesen Zebua

Penulis tinggal di Nias dan aktif dalam isu-isu pembangunan daerah. Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Katolik Santo Thomas.