Konten dari Pengguna

Konflik Yunani vs Turki di Laut Mediterania yang Tak Pernah Usai?

Jesica Alqarani

Jesica Alqarani

Mahasiswi Hubungan Internasional, FISIP Universitas Sriwijaya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jesica Alqarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar bendera negara Turki dan Yunani. Sumber: https://media.istockphoto.com/id/1401973243/photo/flags-of-turkey-and-greece-concept-growing-conflict-between-members-of-the-joint-defense.jpg?s=1024x1024&w=is&k=20&c=OrBh96qcZKtM6gT1faJm-wFiawrvzWuK3ta-uCd22II=
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar bendera negara Turki dan Yunani. Sumber: https://media.istockphoto.com/id/1401973243/photo/flags-of-turkey-and-greece-concept-growing-conflict-between-members-of-the-joint-defense.jpg?s=1024x1024&w=is&k=20&c=OrBh96qcZKtM6gT1faJm-wFiawrvzWuK3ta-uCd22II=

Kalau dilihat sekilas, Yunani dan Turki itu seperti dua tetangga dekat yang seharusnya akur. Sama-sama berbagi laut, budaya yang dalam beberapa aspek mirip, bahkan makanan pun sering “klaim bareng”. Tapi kenyataannya, hubungan keduanya justru lebih sering diwarnai ketegangan daripada kerja sama.

Dalam lima tahun terakhir, konflik ini bukan cuma cerita lama yang diulang, tapi makin terasa nyata dan relevan. Dan menariknya, konflik ini bukan soal perang besar, tapi lebih ke “drama politik” yang terus hidup, kadang memanas, kadang mereda, tapi tidak pernah benar-benar selesai.

Salah satu sumber utama ketegangan ada di Laut Aegea dan Mediterania Timur. Masalahnya terdengar sederhana: soal batas wilayah laut. Tapi di balik itu, ada kepentingan besar yakni dimana, disitu lah mulai dari jalur strategis sampai potensi cadangan gas alam.

Yunani berpegang pada aturan hukum laut internasional yang memberi hak wilayah laut berdasarkan pulau-pulau yang dimilikinya. Sementara Turki punya pandangan berbeda dan merasa pembagian itu tidak adil, terutama karena banyak pulau Yunani berada sangat dekat dengan wilayah Turki.

Akibatnya, yang terlihat di lapangan bukan sekadar debat diplomatik, tapi juga manuver kapal militer, patroli udara, hingga saling “unjuk kekuatan” yang kadang bikin kawasan ini terasa seperti bom waktu.

Kalau ditarik ke belakang, hubungan dua negara ini memang punya sejarah panjang konflik. Tapi yang menarik, di era sekarang, bentuk konfliknya berubah. Tidak lagi dominan dengan perang fisik, tapi lebih ke simbolik: retorika politik, diplomasi keras, dan kekuatan militer sebagai “peringatan”.

Yang membuatnya makin menarik, kedua negara ini sama-sama punya posisi penting. Yunani adalah bagian dari Uni Eropa, sementara Turki adalah pemain regional besar dengan pengaruh kuat di kawasan. Artinya, setiap ketegangan kecil pun bisa berdampak lebih luas, tetapi bukan cuma untuk mereka berdua, tapi juga untuk stabilitas Eropa secara keseluruhan.

Menurut saya, kenapa kedua negara tersebut sulit sekali untuk akur, dikarenakan masalah utamanya bukan cuma soal wilayah atau energi. Tapi soal persepsi dan kepercayaan. Dua negara ini melihat situasi dari sudut pandang yang sangat berbeda, dan sama-sama merasa punya alasan kuat.

Dan ketika dua pihak sama-sama merasa “benar”, konflik jadi sulit diselesaikan. Apalagi jika ditambah faktor politik domestik, yang di mana ketegangan dengan negara lain kadang justru menguntungkan secara politik di dalam negeri.

Hubungan Yunani dan Turki mungkin tidak akan berubah jadi konflik besar dalam waktu dekat. Tapi juga tidak akan benar-benar damai sepenuhnya.

Justru di situlah letak uniknya. Ini bukan konflik yang meledak, tapi yang terus “hidup”. Kadang tenang, kadang panas, tapi selalu ada.

Dan bagi saya, cerita Yunani vs Turki ini menunjukkan satu hal sederhana:

bahwa dalam politik internasional, kedekatan geografis tidak selalu berarti kedekatan hubungan, atau bahkan kadang justru sebaliknya.