Emas Mendorong Inflasi, tetapi Tak Semua Keluarga Memilikinya

Mahasiswi Prodi Akuntansi Universitas Kristen Krida Wacana
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jeslyn tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Harga emas ikut menaikkan angka inflasi nasional. Namun nilai emasnya hanya dinikmati sebagian kecil rumah tangga.

Awal Oktober lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi September 2026. Salah satu penyumbang terbesarnya adalah emas perhiasan. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya merasakan kenaikan harga emas?
Karena emas ikut mendorong inflasi sementara mayoritas keluarga tidak memilikinya, pemerintah perlu menyediakan pilihan simpanan aman yang terjangkau, bukan hanya mengajak warga menabung emas.
Emas memang punya tempat khusus dalam budaya kita. Pemerintah memperkirakan emas yang dimiliki masyarakat Indonesia mencapai sekitar 1.800 ton, terakumulasi selama bertahun-tahun dan lintas generasi. Namun, besarnya perkiraan tersebut tidak berarti setiap rumah tangga memiliki emas atau menikmati kenaikan nilainya.
Emas, Inflasi, dan Siapa yang Menikmatinya
Inflasi dihitung dari keranjang barang dan jasa yang dibeli rumah tangga. Emas perhiasan ada di dalam keranjang itu, jadi kenaikan harganya ikut tercatat sebagai kenaikan harga.
1. Penyumbang inflasi yang konsisten
Kenaikan harga emas perhiasan turut memengaruhi inflasi Indonesia. Bank Indonesia menyebut kenaikan harga emas dunia ikut mendorong inflasi inti tahunan pada September 2026. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga emas dapat memengaruhi angka inflasi, meskipun bukan satu-satunya penyebab kenaikan harga barang dan jasa.
Sumber: Kontan.co.id — Inflasi Tahunan Naik Menjadi 3,28% pada September 2026
Sumber: Bank Indonesia — IHK September 2026 Tetap Terjaga
2. Harganya ditentukan pasar dunia
BPS menyebut kenaikan harga emas didorong oleh tren harga emas di pasar internasional. Kita hanya penerima harga. Pemerintah bisa menggelar operasi pasar untuk beras atau cabai, tetapi tidak bisa menahan harga emas dunia.
Sumber: JPNN.com — Harga Emas Jadi Biang Kerok Inflasi Besar RI
3. Yang menikmati kenaikannya hanya sedikit
Menurut angka yang dikutip Investortrust dari Indef, sekitar 82,7 persen rumah tangga Indonesia, atau sekitar 60,3 juta keluarga, belum memiliki emas. Angka ini perlu dibaca sesuai definisi dan sumber data yang digunakan. Jika benar, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan emas belum merata di masyarakat. Karena itu, kenaikan nilai emas tidak otomatis dinikmati oleh seluruh rumah tangga.
Sumber: Investortrust.id — Indonesia Produsen Emas Besar, tapi 82,7% Rumah Tangga Belum Punya Emas
Bukankah Emas Tabungan Terbaik?
Sebagian orang akan berkata bahwa emas adalah simpanan paling tepercaya. Pemerintah pun ingin lebih banyak emas masuk ke sistem keuangan. Targetnya sekitar seperlima dari emas milik masyarakat disalurkan lewat bank emas.
Sumber: Fortune Indonesia — Pemerintah Luruskan Pernyataan Emas 1.800 Ton di Bawah Bantal Warga RI
Langkah itu baik, tetapi menyasar mereka yang sudah memegang emas. Bagi keluarga yang belum punya, bank emas belum menjawab kebutuhan mereka menabung. Emas juga tidak kebal risiko. Infobanknews melaporkan bahwa harga emas perhiasan mengalami penurunan selama tiga bulan berturut-turut, dari Maret hingga Mei 2026, dengan deflasi 2,67 persen pada Mei. Ini mengingatkan bahwa harga emas dapat berfluktuasi, sehingga emas tidak selalu cocok menjadi satu-satunya tempat menyimpan dana darurat.
Apa yang Perlu Dilakukan
Ada tiga langkah konkret:
1. Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyediakan simpanan aman bernominal kecil bagi keluarga yang belum memiliki emas. Contohnya tabungan resmi dan surat berharga negara ritel yang bisa dibeli lewat ponsel. Pengembangan bank emas sebaiknya berjalan beriringan, bukan menggantikannya.
2. BPS dan Bank Indonesia menjelaskan peran emas secara terpisah saat mengumumkan inflasi. Dengan begitu, publik bisa membedakan kenaikan harga akibat emas dari kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
3. Keluarga yang memiliki emas memisahkan dana darurat dari tabungan emas. Dana darurat harus mudah dicairkan dan tidak bergantung pada naik-turunnya harga.
Kembali ke Pertanyaan Awal
Siapa yang merasakan kenaikan harga emas? Sebagian kecil keluarga merasakan untungnya, sementara angka inflasinya dibaca oleh semua. Selama pilihan menabung yang aman hanya terbuka bagi yang sudah punya emas, kenaikan harga emas akan terus menambah jarak antara yang punya dan yang belum. Menyediakan pilihan simpanan lain adalah cara menutup jarak itu.
