Entertainment
·
7 Januari 2021 21:40

Mengintip Kehidupan Diaspora Muslim Indonesia di Jepang

Konten ini diproduksi oleh Jessica Handayani
Elemen yang ada di dunia adalah sesuatu yang dinamis dan selalu bergerak mencari ruang yang bisa ditinggali. Pekerja, mahasiswa, bahkan barang pun membentuk siklus yang dinamis hingga kadang bisa melewati batas suatu negara. Orang-orang yang bergerak melewati batas ini disebut dengan orang yang bermigrasi. Siapa saja bisa melakukan migrasi, dan bila menetap di daerah yang bukan merupakan daerah asalnya dinamakan diaspora. Kata ‘diaspora’ berasal dari bahasa Yunani yaitu speiro yang artinya ‘menabur’ dan preposisi ‘dia’ yang artinya lebih. Jika kata itu ditujukan untuk manusia, diaspora berarti migrasi atau penjajahan.
ADVERTISEMENT
Salah satu negara yang menjadi negara tujuan warga Indonesia untuk bekerja walaupun menuntut ilmu adalah negara Jepang. Faktor yang mendorong atau menarik manusia untuk datang ke suatu negara bisa bermacam-macam dan bisa dijelaskan dengan teori Push and Pull Model, di mana negara asal dan negara tujuan saling memiliki faktor yang mendorong dan menarik baik di bidang ekonomi, kesejahteraan, sosial maupun budaya.
Indonesiaーnegara dengan penduduk mayoritas Muslimーkemudian mengekspor orang beserta nilai-nilai dan kepercayaannya. Komunitas-komunitas Muslim pun bermunculan di hampir setiap daerah di Jepang. Menjadi agama minoritas di Jepang, jumlah penganut agama Islam tidak mendapatkan angka pasti, tetapi diperkirakan pada tahun 2011 ada sekitar 110,000 umat Muslim di Jepang yang berasal dari Indonesia (+-20,000 orang), Pakistan +-10,000 orang), Bangladesh (+- 9,000 orang), Malaysia dan Iran (masing-masing +- 10,000 orang), Arab (+-4,000 orang), Turki (+-2,500 orang) dan Jepang (+-10,000 orang). Orang-orang yang merasa memiliki kesamaan di tanah yang asing ini kemudian membentuk komunitas-komunitas kecil yang bertujuan untuk memfasilitasi kebutuhan mereka sebagai minoritas, seperti tempat untuk ibadah, informasi makanan halal, hingga acara kekeluargaan untuk mempererat tali persaudaraan.
ADVERTISEMENT
Salah satu narasumber penulis, D (27 tahun) yang berdomisili di Shizuoka dan tergabung ke dalam komunitas Muslim lokal menyebutkah bahwa sangat diperlukan wadah kekeluargaan untuk mempererat tali silaturahmi, atas dasar kesamaan agama ini lah komunitas-komunitas Muslim terbentuk. Baginya, komunitas Muslim bertindak sebagai 'rumah kedua' dan berfungsi sebagai ‘charger Iman’, juga sebagai ajang bertukar pikiran dan memperkaya pengetahuan tentang Islam. Selain itu, menjadi pengingat agar tidak meninggalkan ajaran-ajaran agama. Apalagi, kehidupan sehari-hari yang sibuk seringkali membuat lupa akan perintah agama, terutama sholat 5 waktu.
Kegiatan rutin dari organisasi Muslim di Jepang di antaranya adalah shalat subuh berjamaah, kajian dengan Ustadz tamu, Tadarus Al- Qur’an, buka puasa bersama, hingga kegiatan rekreasi seperti perkemahan musim panas dan ichigo-gari (memetik stroberi) di musim semi.
ADVERTISEMENT
Mengintip Kehidupan Diaspora Muslim Indonesia di Jepang  (558244)
2017--Suasana Idul Fitri di Shizuoka, Jepang. Diaspora Muslim yang jauh dari keluarga merayakan Idul Fitri dengan makan dan foto bersama. Sumber: Jessica N.H
D juga menambahkan bahwa komunitas yang berdasarkan asas kekeluargaan, dan oleh karena itu diberi keringanan oleh Pemerintah daerah, seperti keringanan membayar pajak. Di sisi lain, D mengatakan bahwa kegiatan di institusi kerja yang sangat sibuk juga mengakibatkan Ia sering melewatkan waktu beribadah, tetapi dengan adanya komunitas Muslim, anggotanya saling mengingatkan untuk tidak melewatkan perintah agama.
Narasumber lain, S (29 tahun), yang berbasis di Osaka juga mengatakan hal yang senada. Komunitas Muslim ada untuk saling membantu satu sama lain, dengan memberikan konseling, atau benda materiil lain. Apalagi dengan iklim bekerja yang keras sehingga rentan akan isu kesehatan mental, individu sangat butuh dukungan moral dari sesamanya.
Kehidupan diaspora Muslim Indonesia di Jepang bisa dikatakan baik meskipun memiliki beberapa kesulitan, seperti ketersediaan makanan halal, tempat beribadah, dan lain lain.
ADVERTISEMENT
Sambutan orang Jepang terhadap Muslim juga terbuka karena mereka biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang ajaran Islam. Pemerintah Jepang pun menjamin mengenai kebebasan beragama dan komunitas-komunitas keagamaan dibebaskan dari penarikan pajak komunitas.
Fungsi komunitas Muslim tidak terbatas hanya dalam urusan agama, tetapi juga sebagai pertahanan identitas keagamaan. Hal tersebut dilakukan dengan saling mengingatkan tentang ibadah, melakukan kegiatan bersama, dan lain-lain. Pemerintah Jepang juga mendukung adanya komunitas Muslim, dibuktikan dengan dibebaskan dari pajak komunitas, padahal Jepang termasuk negara yang ketat dalam penarikan pajak. Dengan berkumpul dengan kelompok yang memiliki kesamaan akan memberikan rasa aman kepada individu dan membantu untuk menjalankan kehidupan di tanah rantau.
Sumber Referensi
ADVERTISEMENT
  1. Bushra, Anis. (1998). The emergence of Islam and the status of Muslim minority in Japan, Journal of Muslim Minority Affairs, 18:2, 329-345, DOI: 10.1080/13602009808716415
  1. Cohen, Robin. (1997). Global Diasporas: An Introduction. London; UCL Press
  2. 宗務時報 199版, 文化庁文化部宗務課, 平成27年3月版, hl. 2-3 (Shumu Joho 199-ban, Bunka-cho Bunka-bu, Shukyou-ka, Heisei 27 Sangatsu-ban)