Saya Setuju dengan Term Cinta!

Santri Aktif, tingkat 3 Tsanawiyah PPS
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Shohibul Widad Al-Faqih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tahukah Anda, sesosok yang sepulangnya dari Mesir pada beberapa waktu lalu (14/10/2024), lalu tiba-tiba kaget karena memperoleh undangan pertemuan dengan Prabowo Subianto, kemudian pada hari Minggunya (20/10/2024) oleh bapak presiden RI ke-8 ini ditunjuk dan diresmikan sebagai menteri agama di Kabinet Merah Putih, siapakah dia? Ya, “Nasarudin Umar sebagai Menteri Agama,” ujar putra dari Soemitro Djojohadikusumo (Prabowo).
***
Alhamdulillah, penulis dapat informasi, bahwa pada Jumat 9 Mei 2025 M, saat Rapat Koordinasi Program Prioritas (PKPP), Nasarudin Umar, Menag baru ini dengan harapan barunya menekankan betapa penting evolusi pendidikan dengan melalui acuan cinta. Menag berucap, “kita ingin menghadirkan ontologi yang berbeda dari teologi maskulin konvensional. Kita butuh teologi yang menyentuh dimensi terdalam kemanusiaan.” Lebih lanjut, di rapat tersebut Menag menjabarkan bagaimana kurikulum cinta yang Beliau gagaskan baru-baru ini.
Maksud ucap Menag “dimensi terdalam”, adalah sebagaimana seluruh manusia telah bersepakat bahwa dimensi terdalam kemanusiaan adalah palung hati, yang mana di dalamnya terdapat segala mimik rasa; sedih, benci, fanatik, termasuk juga rasa cinta. Nah bagi Menag, cintalah yang tentunya memiliki peran terpenting dalam memotivasi pergerakan segala hal. Sehingga Menag berusaha mencoba untuk menyentuh dimensi itu di bumi kita Nusantara dengan inovasinya yang disebut-sebut sebagai kurikulum cinta, tak lain tujuannya agar masyarakat Indonesia pun turut bergerak dan berjalan sebagaimana negara republik mestinya.
Maka dari perkara itu, selain Prof. Dr. H. Andi Salman Maggalatung, S.H., M.H. selaku guru besar UIN Syarif Hidayatullah melalui artikelnya mengapresiasi alinea rakitan Menag ini. Penulis pun turut setuju dengan pendidikan yang dimodif dengan term cinta itu. Alasan yang melatarbelakangi penulis adalah karena agama Islam sendiri adalah agama yang beralaskan term cinta, sekaligus mengajarkan itu. Kita bisa melihat ajaran cinta dalam Islam secara kentara di berbagai ayat al-Quran dan hadis. Dalam al-Quran seperti Ali imran 31 yang artinya, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Dan dalam hadis, seperti yang artinya: "Demi Dzat yang jiwaku dalam genggamannya. Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan (sempurna) beriman sampai kalian saling mencintai,” (HR. Muslim).
Maknanya, agama Islam mengajarkan pemeluknya, jika mereka benar-benar menaruh hati kepada agama yang mereka anut, dalam perkara ini adalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala, maka landasilah agama Islam melalui mencintai-Nya. Selang tak lama dari itu pasti tumbuh pula benih-benih cinta kepada Rasul-Nya, begitupun seterusnya hingga ia mencintai dan memprioritaskan apa-apa serta siapa-siapa yang menjadi kecintaan Allah dan Rasul-Nya. Sepertimana keadaan ini tak jauh dari adagium arab, “innal muhibba yuhibbu ma yuhibbu mahbubuhu” (esensi pecinta, juga mencintai apapun yang menjadi kecintaan kekasihnya). Maka dari pos cinta tersebut, oleh para ulama, cinta kepada Allah, Rasul, dan terhadap segenap apa yang masih bertalian dengan keduanya, dirupakan sebagai suatu kewajiban dan keharusan bagi umat Muslim.
Buah dari Cinta ❤
Setelah seorang Muslim betul dan sejati menyayangi objek tadi, maka mata kita tidak boleh terbelalak kaget ketika melihat ternyata misal dalam “hablun minallah wa hablun minannas”, hubungan ibadah seorang Muslim tadi kepada Allah sebagai tuhannya, diwarnai penuh dengan penghayatan, pendalaman jiwa, peresapan dan semangat prioritas; dan dalam hubungannya kepada sesama manusia sebagai sesama makhluk-Nya terjalin rapi dan terajut indah: sesama Muslim dipenuhi spirit welas asih, dan kepada pemeluk agama seberang tetap bertoleransi dalam interaksi sosial secara batas garis wajar (Ahlusunah wal-Jamaah: hanya boleh toleransi dalam sosial, itupun tidak bersenggolan dengan hukum agama Islam), sebagaimana gagasan Nasarudin Umar, Menag baru Indonesia. Itulah penyebabnya, mengapa segenap pedoman, prinsip-prinsip, hukum-hukum, ajaran atau bahkan institusi-institusi yang eksis di muka bumi ini, yang kebetulan tidak berasaskan term cinta, mudah dimanipulasi, dipesan sesuai selera, bahkan dijadikan ‘depot’ kepentingan pribadi oleh orang-orang yang berkepentingan. Maka, adalah barang tentu bahwa masing-masing itu semua dan semacamnya yang hadir di muka bumi, dibina dengan kecintaan agar dalam menegakkannya dipenuhi dengan ruh kehidupan.
