Cerpen: Sombong

Bahren
Dosen Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Konten dari Pengguna
29 Oktober 2023 10:11 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Bahren tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi sekolah. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sekolah. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
San adalah seorang doktor tamatan Paradise Island yang telah berjuang keras untuk mencapai kesuksesan yang memuncak sebagai kepala sekolah di Pulau Perca. Meskipun telah mencapai puncak pendidikan formalnya, San tetap mempertahankan keyakinannya pada hal-hal mistis yang pernah dia pelajari dan dengar saat masih kecil di kampungnya. Sebelum mengambil alih ruangan kepala sekolah yang baru, San memanggil seorang dukun terkenal untuk membersihkan ruangan tersebut dari roh-roh jahat yang mungkin ada.
ADVERTISEMENT
Kesuksesan San sebagai kepala sekolah tidak terlepas dari peran penting para wali kelas dan guru-guru yang mendukungnya. Mereka secara bersama-sama mendorong namanya hingga berhasil diangkat oleh Kepala Dinas, meskipun awalnya San dimulai sebagai guru biasa. Ada tiga orang guru yang sebenarnya mendorong San untuk menjadi kepala sekolah, yaitu Pak Baha, Pak Sero, dan Pak Siyun, yang membantu San dalam perjalanannya.
Dengan metode dan taktik jitu yang mereka susun, berhasil menggolkan nama San sebagai calon tunggal kepala sekolah. Pak Baha, Pak Sero dan Pak Siyun lah orang yang berhasil melakukan lobi-lobi dengan guru kelas lainnya agar sewaktu pemilihan Kepala Sekolah untuk memilih San sebagai Calon. Tentunya dengan diiming-imingi mereka akan dijadikan wakil san kelak ketika telah duduk menjadi Kepala Sekolah.
ADVERTISEMENT
Namun, seiring berjalannya waktu, San mulai merasa bahwa Pak Baha dan kawan-kawannya mungkin akan menjadi penghalang bagi visi dan misinya sebagai kepala sekolah. Mereka tampil sangat kritis terhadap setiap kebijakan yang diambil oleh San. Dengan semakin meningkatnya ketegangan di antara mereka, San memutuskan untuk mengambil langkah tegas.
Ia memulai upaya untuk memarginalisasi ketiga orang tersebut dan mengirimkan surat panggilan kepada masing-masing dari mereka untuk pemeriksaan dan penyusunan berita acara terkait dugaan bahwa mereka mungkin mencoba menggagalkan program-program sekolah yang diusungnya. Satu per satu di antara mereka mulai di BAP, di hadapan tujuh orang lainnya, Pak Baha dan kawan-kawan dimintai keterangan atas upaya mereka menggagalkan program-program yang telah dirancang San dan tim sekolah.
ADVERTISEMENT
Dengan cerdik dan hati-hati, San berhasil menggeser Pak Baha, Pak Sero, dan Pak Siyun dari lingkaran orang-orang yang dekat dengannya. Ini memungkinkan San untuk menjalankan program-programnya tanpa hambatan dari ketiga orang temannya yang sebelumnya sangat kritis. San masih berpikir bahwa perasaannya saat menjadi pimpinan yang kuat dan dukungan dari para guru serta wali kelas lainnya adalah kesuksesannya sendiri dalam membangun karirinya.
Pikiran San, merasa bahwa mampu mewujudkan banyak perubahan positif di sekolah tersebut. Padahal, kelas tempat San pernah menjadi wali kelas sebelumnya saja, selama ia menjadi kepala sekolah keadaannya tidak menentu. Bocor di setiap sudut ruangan, panas, serta toilet yang ada di depan kelas yang pernah ia pimpin sering mampet dan berbau.
ADVERTISEMENT
San selalu merasa ia telah sukses menjadikan sekolahnya sebagai sekolah yang terbaik di Pulau Perca. San sangat yakin sekolahnya sebagai sebuah lembaga pendidikan yang lebih baik dan maju (lamun San) sebelum beberapa bulan lagi ia akan menjadi orang biasa dan tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah.