Mengenal Kain Titian Rajo Koleksi Museum Negeri Adityawarman

Dosen Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Tulisan dari Bahren tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Beruntung sekali rasanya, penulis dipercaya oleh Kepala Museum Negeri Adityawarman Sumatera Barat menjadi salah seorang tim ahli dalam kegiatan penelitian kajian koleksi museum tahun 2023. Kajian yang dilakukan dalam rentang bulan April hingga Oktober ini ada lima kajian koleksi. Penulis bersama dua orang staf Museum Alfa Noranda dan Mega Liberni berkesempatan untuk melakukan kajian atas koleksi Kain Titian Rajo. Di Museum ini tersimpan dua lembar kain ini, dengan nomor registrasi 0336 dan 0189. Dua kain ini secara ringkas dideskripsikan sebagai berikut

Kain dengan regitrasi 0036 dalam lembar registrasi dituliskan bahwa registrasi 0336 Inventaris lama 05.18 Inventaris baru 05.336 Nama Kain Titian Raja nama daerah Kain Titian Raja klasifikasi ETN jenis PAK. Dinamakan dengan kain titian Raja karena kain ini dibentangkan di rumah gadang digunakan sebagai tempat Raja/Rajo berjalan.Terbuat dari benang sutra warna ungu kehitaman, bentuk empat persegi panjang. Kedua ujung kain dihiasi songketan benang emas yang disungkit dengan menggunakan peralatan secara tradisional / ATBM. kedua ujung kain bermotifkan pohon hayat dan di atas motif pohon hayat ini terdapat motif bunga. Bagian bawah bermotifkan belah ketupat, biku-biku dan motif orang / manusia. Dipakai pada waktu upacara-upacara adat kerajaaan di Pagaruyung sebagai alas kaki Raja waktu berjalan. didapat pada 27 Juli 1992 berasal dari Batusangkar berbahan Sutra dan Benang Emas dengan panjang 450 cm lebar 75 cm.
Kain dengan Registrasi 0189 Inventaris lama 03.1726 Inventaris baru 03.189 nama Kain Titian Raja kategori ETN jenis PAK. Kain dengan bentuk empat persegi panjang terbuat dari sutra warna ungu tua dan bagian ujung warna merah badan kain dihiasi dengan taburan benang emas motif bunga kecil-kecil, bagian ujung kain songket dihiasi dengan benang emas motif pohon ayat , bunga, mata panah, gonjong rumah, potongan wajik, sedangkan bagian pinggir kain itu terdapat motif kaluak, dan motif batang pinang kain ini sudah berumur ±200 tahun didapat pada 11 Maret 1998 di Pariangan Kab. Tanah Datar Batusangkar berbahan Benang sutra warna ungu tua, benang emas. Panjang kain 278cm panjang untaian jumbai 15cm Lebar kain 82cm.
Dua deskripsi di atas kami (tim kajian) jadikan sebagai pijakan untuk menelusuri sejarah, fungsi dan penggunaannya dalam masyarakat. Berbekal dua lembar kain tersebut kami mulai menelusuri daerah asal kain itu di dapatkan. Maka, kami kunjungilah Nagarai Pariangan, Nagari yang diakui sebagai negeri asal nenek moyang orang Minangkabau. Di Nagari itu kami bertemu denga Bapak Irwan Malin Basa, seorang budayawan dari Pariangan dan juga seorang pencetus pembuatan museum kain khas Pariangan.
Namun menariknya, kain yang menjadi objek penulisan kali ini tidak disebut sebagai kain titian rajo, beliau menjelaskan bahwa kain yang menjadi objek penulisan koleksi kami ini adalah kain pucuak rabuang. Kain ini biasanya dipakai dan digunakan oleh keluarga besar Gadang (orang asal / asli) Pariangan, tidak termasuk istri dari Pemangku adat atau penghulu, karena mereka akan menggunakan kain pucuk rabuang dari sukunya sendiri. Ada 7 Gadang di Nagari Pariangan, diantaranya adalah Piliang, Melayu, Koto, Pisang, Dalimo Panjang, Dalimo Singkek (+ Sikumbang), Pidang Laweh. Dalam hal ini artinya setiap Gadang pada 7 suku itu seluruh keluarga besar mereka yang perempuan akan menggunakan kain ini untuk kegiatan-kegiatan adat di sana khususnya yang berhubungan dengan helat kawin.
Sementara itu, kain titian rajo sendiri disebut sebagai cindai titian rajo, yang terdapat dalam pantun adat
Cindai banamo Titian Rajo,
Talatak di ujuang kasau,
Tasangkuik di Paran Tinggi
Pakaian kito di minangkabau
manjago Namo Jo Pusako,
Bajago Patang Jo pagi
Merujuk pada letak cindai dalam pantun itu adalah di ujung kasau, sementara jika kita lihat pengertian kasau dalam KBBI kasau/ka•sau/ n kayu (bambu) yang dipasang melintang seakan-akan merupakan tulang rusuk pada atap rumah, jembatan, balai-balai, dan sebagainya: kekuatan rumah yang memakai -- bambu lebih tahan daripada rumah yang memakai -- kayu biasa;-- betina kasau kecil; -- jantan kasau besar yang dipasang di atas kuda-kuda bubungan atau peran.
Dengan pengertian itu, ,meniscayakan bahwa kain itu adalah alas jalannya para raja. Masyarakat sendiri hingga saat ini masih menggunakan kain pusuk rebung (titian rajo yang dimaksud oleh museum), sebagai salah satu unit penting yang digunakan oleh kaum perempuan untuk acara-acara pesta keluarga. Maka dengan adanya temuan seperti itu, kami (tim kajian) mengusulkan kepada pihak Museum untuk menamai ulang koleksi mereka tersebut sesuai dengan nama yang dikenal olh masyarakat. Hal ini telah penulis sampaikan langsung dalam seminar hasil penelitian kajian koleksi museum pada tanggal 23 oktober 2023. Semoga dengan temuan-temuan yang langsung kita cek di lapangan ini, menjadikan museum dapat kembali mengadakan updating terhadap koleksi-koleksi yang ada khususnya dalam hal penamaan.
