Konten dari Pengguna

Melangkah di Antara Gaya dan Nyeri Dua Dunia Sepatu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari JIHAD AL-FISABILILLAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu berpikir, mengapa kita begitu peduli pada sepatu yang kita pakai ?. Apa karena soal prestise atau karena bagaimana sepatu itu memberikan kenyamanan kepada kita. Seiring waktu, sepatu berkembang bukan hanya sebagai pelindung, tetapi juga menjadi simbol status sosial dan identitas budaya. Perkembangan industri sepatu semakin pesat, terutama pada segmen sneaker yang kini tidak lagi identik dengan aktivitas olahraga saja. Telah terjadi transformasi menjadi bagian dari gaya hidup urban yang modis dan ekspresif.

Menurut Shoes and Care, perubahan ini terjadi seiring pergeseran nilai bud

Adidas Factory Outlet Ngagel, Surabaya 27 April 2025
zoom-in-whitePerbesar
Adidas Factory Outlet Ngagel, Surabaya 27 April 2025

aya dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kenyamanan dalam beraktivitas sehari-hari. Kompas.id juga mencatat bahwa sneaker menjadi pilihan utama karena kemampuannya menggabungkan unsur estetika dan fungsionalitas. Menjadikannya simbol fleksibilitas gaya masa kini. Tak heran jika pasar global sneaker diperkirakan mencapai USD 157,9 miliar pada tahun 2033, didorong oleh kolaborasi merek dengan selebriti dan desainer ternama. Namun di balik tuntutan tren, banyak konsumen kurang memahami berbagai tipe sepatu dan fungsinya.

Pemilihan sepatu didasar kan pada estetika semata. Tanpa mempertimbangkan kenyaman pada sepatu berikan. Inovasi hal ini meliputi insole atau alas dalam sepatu dirancang meningkatkan kenyamanan mendukung struktur kaki. Namun, di antara gengsi dan kenyamanan, seharusnya kita bisa bijak memilih. Karena pada akhirnya, sepatu terbaik bukanlah yang paling mahal, melainkan yang mampu menemani setiap langkah kita dengan percaya diri dan tanpa rasa sakit.

Menurut historyofinformation, sepatu pada dahulunya hanya alas kaki. Sepatu dahulu diperuntukkan untuk iklim serta medan yang beragam. Orang-orang membutuhkan alas kaki untuk melindungi kaki mereka. Sebagai titik awal sejarah alas kaki, ditemukan sepatu kulit di gua Armenia. dalam kondisi masih baik diperkirakan berasal dari sekitar 3.500 SM, masa logam Armenia. Dari yang awalnya hanya pelindung kaki, menjadi sepatu yang kita kenal.

Dengan adanya aspek gaya hidup menimbulkan peningkatan produksi sepatu. “Menurut data Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo), industri sepatu terus mengalami kenaikan 5 persen jika dibangdikan 2023. Menurut Eddy tahun ini akan ada kenaikan 5 persen hingga 6 persen, karena saat ini dikuasai brand dari Amerika.

Secara tidak langsung dengan popularitas sepatu turut melahirkan fenomena gengsi. Ucap Vallen perwakilan komunitas North Sneaker Squad, mengaku hingga saat ini sebagian besar orang masih membeli sneaker untuk meningkatkan gengsi. Para pencinta sepatu bisa disebut Sneakers Head beranggapan sepatu memiliki nilai sejarah sendiri. Tren fashion street mendorong sepatu menjadi bagian dari mode saat itu. Kolaborasi seperti Adidas dengan Kanye West menghasilkan Yeezy Boost 350, sementara Nike Air Jordan 23 Trophy Room White juga jadi incaran.

Sneakers Head termakan kepada artikel yang setiap brand banyak penggemar fokus pada merk desain dan harga tinggi tanpa memahami jenis sepatu serta fungsi utamnya. Masih banyak belum menyadari bahwa setiap model dirancang untuk aktivitas berbeda, sebagai contoh sepatu lari. Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), sepatu lari dirancang untuk memberikan dukungan yang optimal, kestabilan dan kenyamanan kaki selama lari. Berbeda pada sepatu hiking Menurut Akbar (2014), sepatu gunung baik harus melindungi kaki, berbahan kulit tebal, memiliki ruang gerak serta ventilasi halus untuk sirkulasi udara. Ketidaktahuan ini membuat banyak orang salah memilih sepatu untuk aktivitas nya.

Seiring waktu kesadaran keyamanan kaki mendorong brand memproduksi insole (Rachma, 2020). Aktivitas produksi ialah sekumpulan aktivitas yang memakai peralatan untuk mengubah input (masukan) menjadi output (keluaran) berbentuk produk atau layanandimana pada akhirnya bisa dijual pada konsumen.

Salah satu teknologi yang kini banyak diterapkan adalah Ortholite insole. Berbahan busa sel dirancang untuk kenyamanan jangka panjang. Teknologi ini umum digunakan oleh merk-merkternama dunia. Karena sifatnya yang ringan, tahan lama, dan ramah lingkungan. Ortholite juga telah mendapatkan sertifikasi Standar Daur Ulang Global (GRS) karena setidaknya mengandung 20% bahan daur ulang dari proses produksi sol sepatu.

Teknologi Gel Technology dari brand Asics. Material ini meningkatkan penyerapan guncangan secara strategis pada kaki depan dan belakang, sangat efektif untuk kegiatan olahraga intens. Gel ini dibuat dari polimer khusus yang mampu meredam tekanan dan memberikan kenyamanan khas Asics. Sementara itu, Memory Foam juga menjadi pilihan dalam industri alas kaki, terutama digunakan oleh brand Skechers. Memberikan rasa empuk dan pas, memory foam dirancang untuk mengurangi tekanan pada area bola kaki saat berlari, maupun saat berjalan. Inovasi ini dapat memberikan jawaban umum pengguna sepatu seperti cepat pegal, nyeri tumit, atau bahkan masalah lebih serius seperti (Plantar fasciitis).

Di balik gemerlapnya tren dan merek sepatu yang terus bermunculan, ada hal mendasar yang kerap diabaikan.? Kenyaman. Namun di balik brand ternama dan desain mewah, sering kali kita lupa bahwa kaki juga butuh dimengerti. Setiap langkah yang nyaman tak datang dari harga atau popularitas semata, melainkan dari pilihan yang tepat. Seperti Inovasi insole yang kita harapkan dapat mengatasi kebutuhan yang sering di abaikan.