Green Inclusive: Ciptakan Lingkungan Inklusif Bersama Anak Berkebutuhan Khusus

Pemberdayaan Anak Bekebutuhan Khusus Melalui Aktivitas Berkebun Sebagai Upaya Menciptakan Lingkungan Yang Inklusif - Program Kreativitas Mahasiswa - Pengabdian Masyarakat
Tulisan dari Green Inclusive tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tingkat pendidikan rendah pada masyarakat Desa Kawali Kabupaten Ciamis, akhirnya telah memicu dampak negatif terhadap sikap dan pemahaman masyarakat terhadap keberagaman dan prinsip inklusivitas. Hal tersebut sangat dirasakan pula akan nasibnya di lingkungan masyarakat, khususnya pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Sikap dan pandangan diskriminatif masyarakat terhadapnya ini, membuat ABK masih sering disegani bahkan dijauhi untuk sekedar bercengkerama atau bersosialiasasi, karena dianggapnya seorang yang mengganggu dan aneh, bahkan dianggap membahayakan.
Disisi lain soal potensi wilayah, Desa Kawali memiliki potensi utama dalam bidang perkebunan. Lahan yang luas dan tanah suburnya ini, dimanfaatkan dengan produktif oleh masyarakat Desa Kawali melakukan berbagai aktivitas pemeliharaan penanaman aneka jenis tanaman sayuran dan buah, atau pun pembudidayaan ikan untuk memenuhi kebutuhan mereka setiap hari.
Berdasarkan ketimpangan kedua kondisi tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Pendidikan Indonesia yang diketuai oleh Nur Aminah beserta anggotanya yaitu Fina Rahma Fauziah, Jihan Fatin, Sri Garcinia Lathifah, dan Wildan Madani dengan dosen pembimbing Dr. Oom Sitti Homdijah, M.Pd., melihat diperlukan solusi penyatuan yang mempertemukan kedua subjek masalah tersebut secara langsung melalui program inisiatif pemberdayaan masyarakat di Desa Kawali yang kami beri konsep nama yaitu, Green Inclusive.
Program yang lolos didanai langsung oleh Kemristekdikti sekaligus masuk pada tahap seleksi nasional Pekan Ilmiah Mahasiswa Nusantara (PIMNAS) 34 ini, membuat konsep program inisiatif yang melibatkan langsung antar ABK dan masyarakat Desa Kawali melalui kegiatan berkebun sebagai upaya menciptakan lingkungan yang inklusif.
Kegiatan berkebun dijadikan sebagai aktivitas utama program Green Inclusive. Pernyataan tersebut mempunyai dalih selain karena mayoritas budaya masyarakat Desa Kawali, upaya berkebun diyakini sebagai jembatan interaksi keakraban antar masyarakat dan ABK. Hal tersebut sejalan dengan makna prinsip Desa Inklusi, melalui indikator yang mencakup aspek sosial yaitu desa yang mampu menerima keberagaman secara positif.
Berkat kesamaan misi dan dukungan dari banyak pihak, baik dari para pemangku kebijakan Desa Kawali, kepala sekolah SLB, para dosen Universitas Pendidikan Indonesia, badan lembaga usaha tani maupun komunitas, program aktivitas berkebun antar ABK dan masyarakat sudah terlaksana sebelum PPKM diberlakukan. Beberapa tahap dilakukan, mulai dari kegiatan penyuluhan dan sosialisasi pengenalan ABK berdasarkan karakteristik anak dan cara berinteraksinya, pengenalan konsep masyarakat inklusif, hingga pengenalan kegiatan berkebun yang mencakup pada materi pemanfaatan lahan perkarangan.
Kemudian tahap berikutnya, kegiatan inti dilakukan yakni, berkebun bersama antar masyarakat Desa Kawali dan anak-anak berkebutuhan khusus di lahan perkarangan. Kegiatan tersebut diikuti dengan penuh antusias, terutama dari anak-anak berkebutuhan khusus yang terlibat di dalamnya karena merasa dihargai dan diakui keterlibatannya melalui kegiatan berkebun bersama masyarakat.
Antusias tersebut dirasakan pula oleh salah satu orang tua ABK yang menuturkan banyak ungkapan rasa syukur, terimakasih dan harapan atas perubahan sosial yang dialami anak nya setelah melakukan kegiatan program berkebun bersama masyarakat. Untuk senantiasa dapat dijadikan program yang produktif, konsisten, dan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas, terutama dalam hal memandang segala perbedaan pada ABK.
Respon positif yang diberikan, kemudian memberikan energi motivasi kepada tim Green Inclusive untuk memperluas program dengan jangkauan masyarakat yang lebih luas tersebar di seluruh daerah Indonesia, dengan mengadakan program Green Inclusive dalam konsep virtual melalui kegiatan webinar yang telah dilaksanakan tiga kali serial dengan topik edukasi yang berkesinambungan dan lebih mendalam mengenai cara beinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus, penerapan inklusi di masyarakat, dan pentingnya berkebun mulai dari rumah.
Kegiatan webinar pun tidak luput didukung oleh para kolaborator, seperti dari dosen Universitas Pendidikan Indonesia, lembaga instansi pendidikan yakni, Pendidikan Inklusi Cikal, serta para komunitas multi bidang seperti, Bumi Disabilitas dan Indonesia Berkebun. 200 lebih peserta dari berbagai latar belakang profesi maupun daerah yang tersebar pun turut antusias berdiskusi mengikuti kegiatan webinar Green Inclusive hingga akhir serial.
Antusias tersebut diwujudkan pula dengan ungkapan harapan besar kedepannya untuk program Green Inclusive, agar senantiasa berkelanjutan dan turut berupaya mengedukasi untuk saling menghargai segala perbedaan, terutama dalam menciptakan lingkungan berprinsip inklusif untuk lebih ramah pada anak berkebutuhan khusus, bersama masyakat.
