Jika Bahasa Daerah Diam, Apa yang Hilang dari Bahasa Indonesia?

Penulis, Mentor, Pegiat Literasi, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Nasywa Luthfia Alfi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita bertanya dari mana bahasa Indonesia memperoleh sebagian kekayaannya?
Mungkin jawabannya tidak selalu ditemukan di ruang kelas, buku pelajaran, atau kamus. Di balik bahasa Indonesia yang kita gunakan setiap hari, ada ratusan bahasa daerah yang hidup di berbagai penjuru negeri. Dari bahasa-bahasa itulah lahir kata, istilah, ungkapan, dan pengetahuan yang merekam cara masyarakat Indonesia memandang dunianya.
Namun, di tengah kehidupan yang makin berubah, ada sebuah paradoks. Kita ingin bahasa Indonesia terus berkembang dan makin kaya, tetapi pada saat yang sama sebagian bahasa daerah yang menjadi salah satu sumber kekayaan tersebut justru kehilangan penuturnya.
Jika bahasa daerah sudah jarang terdengar, apa yang sebenarnya ikut hilang dari bahasa Indonesia?
Bahasa Indonesia Memiliki Akar
Bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Bahasa daerah memiliki ruang yang lebih dekat dengan komunitas penuturnya dan menjadi bagian penting dari identitas budaya. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan. Bahasa daerah justru menjadi salah satu penyokong bahasa Indonesia.
Balai Bahasa Provinsi Jambi menjelaskan bahwa bahasa daerah turut mendukung perkembangan bahasa Indonesia, termasuk melalui kontribusinya sebagai sumber kosakata yang dapat digunakan dan dicatat dalam KBBI. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa bahasa Indonesia tidak hanya dibangun oleh bahasa yang digunakan secara nasional, tetapi juga diperkaya oleh bahasa-bahasa yang tumbuh di tiap daerah.
Sebuah kata yang awalnya hidup dalam percakapan masyarakat dapat memperoleh ruang yang lebih luas ketika masuk ke dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah lokal juga dapat membawa konsep yang sebelumnya tidak memiliki padanan yang tepat. Sebuah ungkapan dapat memperkenalkan cara pandang suatu masyarakat kepada masyarakat Indonesia yang lebih luas.
Dengan demikian, bahasa daerah bukan sekadar warisan masa lalu. Bahasa daerah adalah sumber daya kebahasaan yang mendukung masa depan bahasa Indonesia. Namun, ada satu syarat, yaitu bahasa daerah harus tetap hidup dan dituturkan. Sebab bahasa yang kehilangan penutur akan kehilangan kesempatan untuk terus melahirkan, menggunakan, dan mewariskan kekayaannya.
Ketika Bahasa Tidak Lagi Menjadi Kebiasaan
Data Long Form Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa 73,87 persen keluarga di Indonesia masih menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi keluarga. Namun, penggunaannya pada Generasi Z dan Generasi Alfa berada pada kisaran 61–62 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran makin derasnya peluruhan penggunaan bahasa daerah pada penutur muda.
Persoalannya kemudian bukan sekadar "apakah generasi muda masih mengetahui bahasa daerah?", melainkan "apakah mereka masih memiliki alasan untuk menggunakannya?". Sebab mengetahui sebuah kata, tidak sama dengan menggunakannya. Mengenal nama sebuah aksara tidak sama dengan mampu merasa dekat dengannya. Mengetahui bahwa bahasa daerah adalah warisan budaya juga belum tentu membuat seseorang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut menjadi penting ketika melihat pemetaan vitalitas bahasa daerah. Dari 718 bahasa yang telah dipetakan, terdapat 27 bahasa berstatus rentan, 29 mengalami kemunduran, 26 terancam punah, 8 berada dalam kondisi kritis, dan 5 telah punah.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap bahasa yang kehilangan penutur, ada kata yang makin jarang terdengar. Ada ungkapan yang makin sulit dipahami. Ada pengetahuan lokal yang berisiko tidak lagi diwariskan. Maka ketika sebuah bahasa daerah kehilangan ruang hidupnya, bahasa Indonesia pun berpotensi kehilangan salah satu sumber kekayaan yang menopangnya. Oleh karena itu, revitalisasi bahasa daerah bukan sekadar pekerjaan untuk menyelamatkan bahasa daerah, melainkan juga menjadi investasi bagi keberlanjutan kekayaan yang menyokong bahasa Indonesia.
Generasi Muda Tidak Perlu Dipaksa Mencintai Bahasa Daerah
Badan Bahasa menekankan bahwa revitalisasi bahasa daerah perlu mendorong pewarisan kepada generasi muda dalam komunikasi sehari-hari. Pembelajaran juga perlu dilakukan dengan menyenangkan dan fleksibel.
Pesannya sederhana. Bahasa tidak cukup diajarkan. Bahasa harus digunakan. Namun, generasi muda hari ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Mereka berkomunikasi melalui media sosial, mengonsumsi konten digital, bermain gim, membuat video, dan membangun identitas melalui berbagai ruang. Penelitian mengenai bahasa media sosial sebagai cermin identitas sosial Generasi Z di Indonesia juga menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang untuk presentasi diri, negosiasi identitas, dan eksplorasi minat.
Karena itu, menyalahkan generasi muda bukanlah solusi. Justru generasi muda perlu ditempatkan sebagai aktor revitalisasi. Pertanyaannya kemudian bergeser. Bukan lagi “apakah mereka masih memiliki alasan untuk menggunakannya?”, melainkan “bagaimana membuat mereka terus memiliki alasan untuk menggunakannya?”
Salah satu jawabannya dapat ditemukan pada sesuatu yang sangat dekat dengan manusia sejak kecil, yaitu permainan.
Serambi: Ketika Bahasa Menjadi Bagian dari Permainan
Permainan memiliki sesuatu yang sering terlewat dari pembelajaran bahasa, yakni alasan untuk berinteraksi. Di dalam permainan ada aturan yang perlu dipahami, strategi yang harus disusun, keputusan yang harus diambil, lawan yang harus dihadapi, dan teman yang perlu diajak bekerja sama.
Bahasa hadir di tengah semuanya. Bukan karena pemain diperintahkan untuk belajar bahasa, melainkan karena mereka membutuhkan komunikasi untuk menjalankan permainan. Dari pemikiran tersebut Serambi, akronim dari Sinergi Efektivitas dan Revitalisasi Aksara Melalui Permainan Interaktif, inisiasi Duta Bahasa Provinsi Jambi Tahun 2026 hadir.
Serambi merupakan permainan yang terinspirasi dari catur desa atau damdas di Kerinci dan dirancang untuk mempertemukan strategi bermain dengan pengenalan bahasa serta aksara Incung. Namun, Serambi bukan sekadar permainan yang diberi tempelan unsur budaya. Di dalamnya, pemain menyusun strategi, membaca situasi, mengambil keputusan, sekaligus berinteraksi dengan unsur bahasa dan aksara.
Proses tersebut dibangun melalui tiga pengalaman, yaitu bermain, mengenal, dan menggunakan. Pemain bermain dan berinteraksi terlebih dahulu. Kemudian, mereka menemukan kosakata, mengenali bentuk aksara Incung, serta memahami keterkaitannya dengan bahasa dan budaya Kerinci.
Setelah mengenal, pemain didorong untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam komunikasi maupun tantangan permainan. Dengan pola tersebut, Serambi membangun koneksi antara paa pemain dengan bahasa daerah, yaitu dari asing menjadi dikenal, dari dikenal menjadi dekat, dan dari dekat menjadi digunakan. Inilah prinsip utama Serambi: jangan hanya mengajarkan bahasa kepada generasi muda. Ciptakan alasan agar mereka menggunakannya.
Dari Gagasan Menjadi Pengalaman
Serambi kemudian dibawa ke berbagai ruang belajar dan komunitas. Hingga saat ini, Serambi telah menyapa 11 sekolah dan 6 komunitas. Salah satunya adalah Komunitas Mandeh Kerinci.
Di sana, bahasa daerah tidak diperkenalkan sebagai materi yang harus terlebih dahulu dihafalkan. Peserta diajak bermain. Mereka berinteraksi dengan permainan, menyusun strategi, mengikuti aturan, dan menemukan unsur bahasa serta aksara Incung di sepanjang proses. Dengan cara tersebut, belajar tidak ditempatkan sebagai aktivitas yang terpisah dari permainan. Belajar justru menjadi bagian dari pengalaman bermain.
Hasil pengukuran menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 84 persen setelah peserta mengikuti pembelajaran melalui Serambi. Angka tersebut penting. Namun, angka saja belum cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi. Sebab revitalisasi bahasa bukan hanya tentang seberapa banyak jawaban yang benar, melainkan juga apakah seseorang mulai merasa bahwa bahasa tersebut menarik untuk dikenali dan layak untuk digunakan.
Di sinilah suara peserta menjadi penting. Azkya Azmi, seorang peserta Komunitas Mandeh Kerinci mengatakan, “Seru, sih, belajar bahasa Kerinci lewat Serambi. Saya jadi tahu beberapa kata yang sebelumnya belum pernah saya dengar, misalnya kipeng artinya ‘uang’. Oh, iya, saya juga sekalian belajar aksara Incung di sini. Ternyata bahasa dan aksara daerah itu menarik juga, ya.”
Kutipan tersebut memperlihatkan perubahan yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap oleh angka. Peserta tidak sekadar memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga menemukan kata yang sebelumnya asing baginya. Ia jadi tahu maknanya sekaligus mengenali aksara Incung. Hal yang tidak kalah penting, pengalaman tersebut membuatnya memandang bahasa dan aksara daerah sebagai sesuatu yang menarik.
Dari Bahasa Daerah untuk Bahasa Indonesia
Di sinilah Serambi menemukan kaitannya dengan tema yang lebih besar. Tujuan Serambi bukan menjadikan bahasa daerah sebagai pesaing bahasa Indonesia. Justru sebaliknya. Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa yang mempersatukan masyarakat Indonesia. Bahasa daerah tetap menjadi ruang identitas dan pengetahuan lokal. Keduanya dapat berjalan bersama.
Ketika seorang anak muda mengenal satu kosakata Kerinci, ia sedang mengenal bagian dari kekayaan daerahnya. Ketika ia memahami makna dan konteksnya, ia sedang mempelajari pengetahuan budaya yang melekat pada kata tersebut. Ketika ia menggunakannya kembali, ia ikut menjaga rantai pewarisan. Dan ketika kosakata, istilah, atau konsep tersebut suatu hari memiliki ruang dalam bahasa Indonesia, kekayaan lokal tersebut dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Dengan demikian, rantainya menjadi jelas, yaitu bahasa daerah hidup → penutur terus menggunakan → pengetahuan dan kosakata diwariskan → kekayaan kebahasaan tetap tersedia → bahasa Indonesia terus memiliki penyokong untuk berkembang. Karena itu, menjaga bahasa daerah bukan pekerjaan yang terpisah dari penguatan bahasa Indonesia, melainkan bagian dari pekerjaan yang sama.
Dari Papan Permainan ke Ruang Digital
Lantas, apakah pengalaman bermain saja sudah cukup? Tentu tidak. Satu permainan tidak akan menyelesaikan persoalan revitalisasi bahasa daerah yang berlangsung lintas generasi. Oleh karena itu, Serambi bergerak lebih jauh.
Pengalaman bermain dibawa ke ruang digital melalui siklus Bermain, Belajar, dan Bagikan. Bermain adalah ruang mengalami. Generasi muda bermain, berinteraksi, berkomunikasi, dan menemukan bahasa daerah dalam pengalaman nyata. Belajar adalah ruang memahami. Mereka mengenal kosakata, makna, aksara Incung, dan konteks budaya melalui proses bermain. Bagikan adalah ruang memperluas. Pengalaman tersebut dibawa ke ruang digital melalui cerita, foto, video, atau konten kreatif.
Seorang peserta dapat membagikan satu kosakata Kerinci yang baru dikenalnya. Peserta lain dapat membuat video singkat tentang aksara Incung. Kelompok lain dapat menceritakan pengalaman bermain Serambi. Dengan begitu, satu pengalaman tidak berhenti pada satu meja permainan. Ia dapat berpindah dari satu pemain ke layar orang lain.
Di sinilah teknologi mendapatkan fungsi baru. Selama ini, ruang digital kerap dianggap sebagai salah satu penyebab jauhnya generasi muda dari bahasa daerah. Serambi justru menawarkan sudut pandang lain. Digital tidak harus menjadi lawan bahasa daerah. Digital dapat menjadi ruang untuk memperpanjang kehidupannya.
Dari Serambi untuk Indonesia
Serambi memang lahir dari Kerinci. Ia membawa catur desa, bahasa Kerinci, dan aksara Incung sebagai identitas lokal. Namun, yang dapat dibawa ke daerah lain bukanlah bentuk permainannya secara mentah, melainkan yang perlu diwariskan adalah modelnya.
Setiap daerah memiliki bahasa, aksara, permainan tradisional, dan pengetahuan lokal yang berbeda. Karena itu, Serambi dapat dikembangkan dengan prinsip lokal dalam isi dan universal dalam pendekatan.
Kerinci memiliki aksara Incung. Daerah lain dapat mengintegrasikan aksara dan bahasa daerahnya sendiri. Permainan tradisional setempat dapat menjadi fondasi mekanisme permainan. Kosakata lokal dapat menjadi bagian dari tantangan. Cerita budaya dapat menjadi bagian dari narasi. Dengan demikian, replikasi Serambi tidak berarti menyeragamkan Indonesia. Justru sebaliknya.
Serambi menawarkan cara untuk mempertahankan keberagaman melalui pendekatan yang dapat disesuaikan dengan karakter setiap daerah. Jika satu daerah dapat menciptakan ruang permainan untuk bahasanya, daerah lain pun dapat melakukan hal serupa.
Dari satu papan permainan, dapat lahir banyak ruang penggunaan bahasa. Dari banyak ruang penggunaan, dapat tumbuh lebih banyak penutur yang mengenal dan merasa memiliki bahasanya.
Bahasa Daerah Bukan Masa Lalu
Kita sering berbicara tentang bahasa daerah dengan kata 'pelestarian'. Kata tersebut penting, tetapi mungkin belum cukup. Sebab melestarikan sering kali membuat kita membayangkan sesuatu yang disimpan agar tidak rusak. Padahal bahasa daerah bukan benda museum. Bahasa daerah harus digunakan. Ia harus terdengar ketika orang bercakap-cakap. Ia harus muncul ketika anak bertanya kepada orang tua. Ia harus hadir ketika generasi muda bermain. Ia harus dapat muncul dalam karya, musik, video, dan ruang digital.
Dengan kata lain, bahasa daerah tidak perlu terus-menerus diposisikan sebagai masa lalu yang harus diselamatkan. Ia perlu diberi kesempatan menjadi bagian dari masa depan.
Serambi mencoba membuka salah satu kesempatan tersebut. Permainan menjadi pintu masuknya. Komunitas menjadi ruang tumbuhnya. Ruang digital menjadi tempat menyebarkannya. Dan bahasa Indonesia menjadi ruang yang kelak terus menerima kekayaan dari bahasa-bahasa yang tetap hidup tersebut.
Jika Bahasa Daerah Terus Berbicara
Pada akhirnya, persoalan bahasa daerah bukan hanya tentang apakah sebuah bahasa akan punah. Persoalannya adalah apakah bahasa tersebut masih memiliki kesempatan untuk berbicara kepada generasi berikutnya.
Satu kata yang tetap digunakan berarti satu kata masih memiliki kehidupan. Satu ungkapan yang diwariskan berarti satu pengalaman budaya belum terputus. Satu aksara yang kembali dikenali berarti satu bagian dari ingatan kolektif masih memiliki ruang. Dan satu generasi yang mau menggunakan bahasa daerah berarti satu sumber kekayaan bahasa Indonesia masih tetap hidup.
Maka, ketika kita menginginkan bahasa Indonesia terus kaya, kita tidak cukup hanya menguatkan bahasa yang digunakan bersama. Kita juga harus menjaga bahasa-bahasa yang menyumbang kekayaan kepadanya. Sebab bahasa Indonesia tidak berdiri di atas keberagaman yang telah selesai. Ia tumbuh dari keberagaman yang terus hidup.
Serambi mungkin hanya sebuah permainan. Namun, di balik papan permainan itu terdapat gagasan yang jauh lebih besar, yaitu bahasa daerah tidak harus diselamatkan dengan membuat generasi muda berhenti bermain. Bahasa daerah justru dapat dihidupkan melalui permainan yang membuat mereka ingin terus menggunakannya.
Dari Kerinci, sebuah permainan dapat menjadi ruang kecil bagi bahasa untuk kembali terdengar. Dari ruang kecil itu, lahir pengalaman. Dari pengalaman, tumbuh penggunaan. Dari penggunaan, bahasa diwariskan. Dan dari bahasa daerah yang tetap hidup, bahasa Indonesia memperoleh lebih banyak kekayaan untuk terus tumbuh.
Jika ingin bahasa Indonesia terus kaya, jangan biarkan bahasa daerah berhenti berbicara.
Penulis:
Nasywa Luthfia Alfi dan Reyhan Rahmat Ilahi
