Konten dari Pengguna

Natal, Pelajaran Damai dari Gus Dur dan Riyanto yang Belum Kita Tamatkan

Junaidi Ibnurrahman

Junaidi Ibnurrahman

Alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan Pascasarjana Filsafat Islam UIN Fatmawati Sukarno. Menulis untuk memahami ulang dinamika sosial, politik, agama, dan budaya yang riuh di ruang publik.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Junaidi Ibnurrahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya (2024). Foto: Dokumen Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya (2024). Foto: Dokumen Pribadi.

Perayaan Natal 25 Desember 2025 telah berlalu. Hiruk-pikuk ibadah, ucapan selamat, dan simbol-simbol damai perlahan mereda. Media sosial kembali ke ritme biasanya dan perbincangan publik beralih ke isu-isu lain. Namun justru setelah perayaan usai, pertanyaan paling penting muncul: apakah damai yang kita rayakan benar-benar hidup dalam keseharian, atau hanya hadir sebagai ritual tahunan yang cepat dilupakan?

Pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita menyadari bahwa intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama masih terus terjadi di Indonesia. Rilis Setara Institute pada Juni 2025 mencatat bahwa berbagai bentuk diskriminasi, mulai dari penyegelan rumah ibadah, pembubaran kegiatan keagamaan, hingga kekerasan terhadap kelompok minoritas, belum juga surut, bahkan dinilai kian marak. Fakta ini menunjukkan bahwa damai sering kali berhenti sebagai slogan perayaan, belum sungguh menjadi etos hidup bersama.

Di titik inilah, Natal mengajak kita untuk tidak sekadar mengenang simbol-simbol religius, tetapi menengok kembali teladan nyata tentang kemanusiaan. Dua sosok—Gus Dur dan Riyanto—membantu kita bercermin. Kehadiran mereka mengingatkan bahwa damai tidak lahir dari wacana besar, melainkan dari kebijaksanaan dan keberanian manusia biasa. Pelajaran itu telah lama kita terima, tetapi jujur harus diakui: belum sepenuhnya kita tamatkan.

Gus Dur dan Etika Humur yang Menjernihkan

Dalam Filsafat Islam, etika tidak hanya berbicara soal hukum baik dan buruk, tetapi juga hikmah: kebijaksanaan yang membuat seseorang mampu menyampaikan kebenaran tanpa melukai. Gus Dur adalah manifestasi kontemporer dari hikmah itu.

Humor Gus Dur bukan hiburan, tetapi taktik etis. Ia tahu manusia Indonesia itu sensitif, cepat tersinggung, dan suka merasa paling benar. Maka jalan yang ia pilih adalah membuat orang tertawa lebih dulu, baru diajak berpikir.

Salah satu kalimatnya yang paling sering dikutip dan tetap relevan hingga hari ini adalah: “Tidak penting apa agamamu, yang penting adalah apakah kamu berbuat baik.”

Dalam kacamata Filsafat Islam, pernyataan Natal bukan sekadar ajakan moral, tetapi kritik metafisik: kebaikan mendahului identitas; esensi lebih utama daripada atribut. Itu selaras dengan konsep al-jawhar (hakikat) dan al-‘aradh (atribut). Agama, suku, dan kelompok sosial adalah atribut; kebaikan adalah hakikat. Atribut bisa menipu; hakikat tidak.

Gus Dur tidak bosan-bosan menertawakan fanatisme, karena ia tahu, orang yang terlalu tegang dalam beragama biasanya bukan sedang membela Tuhan, melainkan membela egonya.

Humor Gus Dur juga mengandung pesan epistemologis: bahwa kebenaran sejati tidak selalu harus disampaikan dengan nada tinggi atau wajah tegang. Dalam tradisi teologis Islam, luthf (kelembutan) dianggap sebagai salah satu cara Tuhan mendidik manusia. Gus Dur meniru metodologi itu. Ia tahu benar bahwa bangsa Indonesia lebih mudah menerima kebenaran dalam senyuman ketimbang dalam bentakan. Karena itu, humor bukan sekadar gaya komunikasi, melainkan strategi intelektual untuk membuka pintu dialog.

Riyanto: Gugur Saat Menyelamatkan Jemaat

Jika Gus Dur mengajari kita tertawa agar tidak saling menyakiti, Riyanto mengajari kita bertindak meski harus mengorbankan diri.

Malam Natal tahun 2000 di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, menjadi momen yang mengabadikan namanya. Saat menemukan benda mencurigakan, ia tidak menunggu perintah, tidak menggelar rapat musyawarah, tidak menanyakan agama jemaat, dan tidak menghitung risiko politis. Ia hanya berteriak, “Awas ada bom!” lalu mengangkat benda itu menjauh dari jemaat hingga ia sendiri terkena ledakan.

Dalam tradisi etika Islam, tindakan Riyanto adalah wujud al-itsar: mengutamakan keselamatan orang lain di atas keselamatan diri sendiri. Para sufi menyebut ini cinta tingkat tertinggi: bukan yang diungkapkan dengan kata indah, tetapi dipertaruhkan dengan nyawa.

Tindakan Riyanto membuat kita malu sekaligus bangga. Malu karena kita sering ribut tentang hal kecil, tetapi gagap ketika berhadapan dengan kemanusiaan besar. Bangga karena Indonesia—sekali lagi—membuktikan bahwa nilai dirawat oleh tindakan, bukan retorika.

Kisah Riyanto juga memberi peringatan bahwa intoleransi bukan sekadar masalah sikap, tetapi masalah keberanian moral. Banyak orang berkata menghargai keberagaman, tetapi sedikit yang siap melindunginya ketika ia terancam. Riyanto menunjukkan bahwa ketulusan tidak memerlukan identitas; ia hanya butuh hati yang tergerak dan keberanian untuk bertindak.

Dari Metafisika Kebaikan hingga Etika Keberanian

Sebagai alumnus Filsafat Islam, saya membaca peristiwa ini bukan hanya sebagai sejarah, tetapi sebagai pelajaran ontologis tentang kemanusiaan. Bagi saya, damai lahir dari kesadaran bahwa manusia adalah satu keluarga—usrah basyariyah.

Al-Farabi menyebut masyarakat ideal sebagai al-madinah al-fadhilah, kota kebajikan. Di sana, manusia bekerja sama untuk mencapai kebahagiaan, bukan kemenangan sektarian. Gus Dur dan Riyanto sama-sama menghidupkan konsep itu.

Menurut Al-Farabi dan Ibn Sina, kebaikan adalah realitas ontologis tertinggi. Dalam etika Islam, luthf (kelembutan) menjadi metode menyampaikan kebenaran. Gus Dur mempraktikkannya hingga menjadi strategi kebangsaan. Di sini, humor tampil sebagai epistemologi kebenaran.

Ibn Miskawaih dalam Tahdzib al-Akhlaq menegaskan bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh perbuatannya, bukan oleh kelompoknya. Riyanto mempraktikkan prinsip ini secara ekstrem.

Dilihat dari sudut pandang etika keberanian (syaja’ah), tindakan Riyanto bukanlah kenekatan. Ia menyadari bahaya, tetapi memilih tindakan terbaik demi melindungi manusia lain. Inilah keberanian dalam bentuk paling murni.

Damai Setelah Natal: Tugas yang Belum Selesai

Setelah perayaan Natal berlalu, kita kerap merasa tugas toleransi telah selesai bersama padamnya lilin dan berakhirnya perayaan. Padahal justru di hari-hari setelahnya, komitmen terhadap damai diuji. Ketika simbol-simbol perayaan diturunkan, yang tersisa adalah sikap dan pilihan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Gus Dur mengingatkan kita agar tidak terlalu serius membela identitas sampai lupa merawat kemanusiaan. Riyanto mengingatkan kita agar tidak terlalu sibuk berdebat tentang agama, tetapi lalai menyelamatkan manusia. Pesan keduanya bertemu pada satu titik: damai bukan slogan musiman, melainkan kerja kolektif yang menuntut kelapangan hati dan keberanian bertindak.

Natal 2025 telah lewat, tetapi pelajarannya belum usai. Pertanyaannya kini bukan lagi bagaimana kita merayakan damai, melainkan apakah kita bersedia menjaganya setelah perayaan selesai. Indonesia tidak akan runtuh oleh perbedaan, tetapi bisa goyah oleh hilangnya rasa kemanusiaan.

Gus Dur telah menunjukkan jalannya. Riyanto telah membayar harganya. Tinggal kita: apakah memilih melanjutkan pelajaran damai itu dalam tindakan nyata, atau membiarkannya tetap menjadi wacana indah yang tak pernah benar-benar kita tamatkan.

Junaidi Ibnurrahman, Alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan Pascasarjana Filsafat Islam UIN Fatmawati Sukarno. Menulis untuk memahami ulang dinamika sosial, politik, agama, dan budaya di ruang publik.