Konten dari Pengguna

Cyberbullying dan Kesehatan Mental Remaja

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Julia Kartika Aurora tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

source : canva.com
zoom-in-whitePerbesar
source : canva.com

Di era digital ini, media sosial menjadi sesuatu yang familiar bagi masyarakat dunia. Berbagai informasi dapat diakses dengan mudah melalui media sosial. Tidak jarang kita bisa menemukan teman baru tidak peduli dari mana mereka berasal hanya dalam sekali klik. Kemudahan tersebut tentunya juga bisa menjadi boomerang tersendiri bagi kita, termasuk fenomena cyberbullying.

Kasus “Safa” yang sedang hangat dibicarakan jagat dunia maya menunjukkan bahwa hanya dengan media virtual tidak menghalangi orang-orang melakukan bullying. Berawal dari pengguna twitter bernama Safa yang melakukan hate speech kepada anggota NCT Dream, membuat para fans grup tersebut naik pitam. Melalui fitur space twitter dan didengarkan oleh ratusan ribu pengguna lain, Safa dipojokkan dengan berbagai ancaman. Tentunya kasus tersebut bisa dikategorikan sebagai kasus cyberbullying dan berdampak besar bagi psikologis korban.

Menurut Pandie & Weismann (2016) cyberbullying adalah perkataan yang bersifat mengintimidasi dan melecehkan seseorang melalui jejaring sosial. Sementara Prabawati (2013) berpendapat bahwa cyberbullying merupakan bentuk perilaku yang bersifat menyakiti, mengancam, atau melecehkan yang dilakukan melalui media digital secara sengaja dan berulang-ulang. Media sosial menjadi media utama yang sering digunakan bagi para pelaku cyberbullying untuk melontarkan komentar-komentar buruk. Orang-orang yang berada dalam sosial media sangat beragam dan kita jarang sekali mengetahui latar belakang kehidupan mereka. Dengan informasi yang minim tersebut, banyak akun yang bebas mengutarakan pendapat tanpa takut identitas mereka akan terungkap, sehingga hal tersebut menjadi permasalahan sendiri terhadap remaja yang aktif di sosial media.

Kondisi Mental Remaja

Di antara cyberbullying, media sosial, dan remaja memiliki keterkaitan yang kuat satu sama lain. Media sosial sebagai alat komunikasi baru yang intensif digunakan manusia di zaman globalisasi ini, memiliki peluang besar dalam terjadinya cyberbullying, khususnya remaja. Intensitas penggunaan media sosial yang semakin tinggi, semakin meningkatkan terjadinya cyberbullying. Hal tersebut sejalan pula dengan efeknya bagi kesehatan mental remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa di mana pada rentang usia tersebut manusia mulai menggali banyak hal untuk menemukan jati dirinya. Media sosial menjadi salah satu alternatif utama untuk mendapatkan informasi-informasi tersebut. Penggunaan media sosial tanpa kontrol yang baik dapat menimbulkan dampak negatif bagi remaja. Perubahan sosial emosional yang meliputi perasaan cemas, stress, dan depresi yang bergejolak pada usia remaja membuat mereka rawan menjadi korban cyberbullying.

Fitur-fitur yang ada pada media sosial mendukung untuk mengekspresikan diri sekaligus mempersilahkan pengguna lain secara bebas untuk berkomentar mengenai unggahan kita (Fazry & Apsari, 2021). Tentunya di dalam komentar tersebut juga terselip komentar yang merujuk ke arah kebencian yang dapat menyakiti pemilik akun. Komentar kebencian yang dapat dikategorikan merugikan suatu pihak meliputi penghinaan SARA, body shaming, penyebaran rumor, serta hal-hal lain yang dapat mempermalukan korban.

Kesehatan mental termasuk salah satu faktor yang sangat mempengaruhi perilaku remaja di kehidupan sehari-hari. Permasalahan kesehatan mental akhir-akhir ini menjadi topik yang sering dibahas oleh khalayak. Cyberbullying yang marak terjadi seringkali disebut sebagai penyebab utama penurunan kondisi kesehatan mental remaja. Dampak psikologis yang dirasakan oleh cyberbullying victimization atau korban dari cyberbullying sangatlah besar. Cyberbullying mengakibatkan perasaan traumatis kepada korban, seperti gelisah, tertekan, khawatir, dan depresi. Sinar yang dipancarkan oleh korban pun bisa jadi beralih negatif, yakni berbentuk kemarahan dan kesedihan. Kebanyakan korban apabila merasa tersakiti dan tersinggung akan merasa bahwa komentar-komentar yang negatif adalah benar adanya, akibatnya mereka cenderung memandang rendah dan tidak percaya terhadap dirinya sendiri. Bahkan, di dalam kasus yang lebih ekstrem, korban bisa saja melakukan tindakan yang membahayakan dirinya.

Pengawasan Orang Tua

Cyberbullying dan kesehatan mental remaja merupakan masalah kompleks yang harus segera diatasi. Remaja dalam masa pertumbuhan harus dijaga stabilitas mentalnya karena sangat berpengaruh terhadap kehidupan ke depannya. Remaja yang memiliki kondisi mental yang baik mampu menjalankan kehidupan dengan baik dan bahagia. Sebaliknya jika kesehatan mental remaja berada dalam kondisi yang buruk, mereka akan memandang kehidupan sebagai hal yang berat, melelahkan, dan penuh dengan kesengsaraan. Oleh karena itu, di sinilah peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengawasi perilaku anak dalam bermedia sosial.

Orang tua harus senantiasa memberikan wawasan dan arahan kepada anak mengenai cara bermedia sosial yang bijak. Komunikasi antara orang tua dan anak adalah kunci untuk meminimalisir terjadinya cyberbullying. Diskusi mengenai suatu permasalahan dapat membuka pemikiran baru bagi anak kemudian mereka bisa belajar memandang perspektif masalah dari berbagai sisi. Kesehatan mental anak bukan hanya menjadi tanggung jawab anak seorang, namun peran orang tua juga dibutuhkan untuk menjaga stabilitas kondisi mental. Dengan adanya kontrol dari orang tua dalam menggunakan media sosial, dapat membantu anak untuk menjaga kondisi kesehatan mental mereka.

Sementara jika anak menjadi salah satu korban cyberbullying, orang tua harus memberikan dukungan yang penuh kepada anak sebab cyberbullying bukan permasalahan kecil atau sepele. Cyberbullying dapat berakibat fatal apabila kondisi kesehatan mental anak sudah terganggu. Korban cyberbullying yang tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan dampak yang signifikan dan menjurus kepada tindakan yang membahayakan diri sendiri.